Rabu, 4 Juli 2012 13:00:00
UNTIRTA





MEMBANGUN MAHASISWA BERKARAKTER

Reporter : Humas Merdeka


Merdeka.com -

Oleh : Gandung Ismanto

When wealth is lost, nothing is lost. When health is lost, something is lost. When character is lost, everything is lost.

Ungkapan di atas yang sering Saya dengar dari Prof. Yoyo Mulyana dulu rasanya penad dengan realita kehidupan yang kita alami sebagai bangsa pada hari ini. Krisis dan bencana yang berkali-kali dialami bangsa ini tak juga membuat kita mampu mengambil pelajaran darinya untuk kemudian bangkit kembali menjadi bangsa yang besar dan bermartabat. Bahkan tak sedikit pemuka agama, intelektual, dan rohaniwan yang meyakini kondisi kehidupan bangsa yang makin buruk dan terpuruk. Dan semua terjadi karena makin hilangnya jatidiri kita sebagai bangsa. Bangsa ini mengalami krisis identitas, krisis kepemimpinan, krisis keteladanan, hingga krisis moral. Korupsi yang makin menggurita dan melibatkan banyak petinggi negara merupakan simptoma yang nyata dan tak terbantahkan. Juga hukum yang tak mampu memenuhi rasa keadilan masyarakat, kolusi, nepotisme, dan praktik-praktik immoral para penyelenggara negara merupakan indikasi lain yang menjadi tontonan masyarakat setiap hari. Sementara itu, berbagai perilaku kekerasan di kalangan masyarakat, ketidakpedulian, intoleransi, perjudian, serta berbagai kriminalitas yang makin kerap terjadi menjadi semacam bukti yang menunjukkan bahwa bangsa ini sedang sakit. Inilah akar persoalan yang kita hadapi sebagai bangsa yang semuanya berakar pada makin tergerusnya moralitas sebagai inti dari karakter manusia, jatidiri bangsa.

Tidak hanya menjalar di kalangan politisi dan rakyat biasa, KKN juga telah menjangkiti komunitas yang menjadi garda moral masyarakat. Ulama yang harusnya memberikan tuntunan bagi masyarakat kini beralih profesi menjadi entertainer yang dituntut untuk menjadi tontonan dan memuaskan dahaga masyarakat akan hiburan, tentu dengan tarif komersil yang setara dengan kelas keartisannya. Senada dengan itu, tak sedikit ulama di kampung-kampung yang memperjualbelikan ilmu dan pengaruhnya. Mulai dari menawarkan mahar untuk menebus wafak dan berbagai produk kesaktian instan, hingga menerima dana hibah dan hadiah umroh gratisan sebagai kompensasi atas dukungannya dalam Pemilu dan Pemilukada.

Simptoma yang serupa tapi tak sama juga menggejala di masyarakat kampus yang selama ini diyakini sebagai dunia ideal. Korupsi dalam segala bentuk dan modusnya kini nyaris akrab dengan kehidupan kampus sehari-hari. Mulai dari praktik titip-menitip dalam penerimaan mahasiswa baru, kolusi dan nepotisme dalam penerimaan pegawai dan dosen, korupsi dan manipulasi dalam proyek-proyek dan kegiatan kampus, berbagai tindak plagiarism yang makin marak, hingga praktik jual-beli nilai, skripsi, bahkan gelar kesarjanaan. Semua bukan lagi isapan jempol, namun benar-benar nyata terjadi di kampus-kampus kita.

Dampak sistemik dari itu semua tentu mudah dihipotesiskan, atmosfir akademik makin kering kerontang. Seminar dan kelompok-kelompok diskusi makin langka ditemukan. Perkuliahan terlaksana hanya sebagai rutinitas tanpa makna, sekedar menggugurkan kewajiban untuk menghalalkan honor atau gaji yang diterimanya setiap bulan. Perkuliahan gagal menjadi sarana transfer ilmu pengetahuan karena orientasi mendapatkan nilai telah menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Kampus kehilangan kebijaksanaannya akibat tergerusnya intelektualitas oleh pragmatisme yang meraja, yang tercermin dari hilangnya martabat, kewibawaan, dan keberadaban warga kampus dalam setiap sikap dan tindakannya. Hilangnya sikap kritis masyarakat kampus serta maraknya kebebasan berpendapat dan berekspresi yang jauh dari nilai-nilai intelektualitas yang beradab, merupakan gejala yang sangat mudah ditemukan akhir-akhir ini. Dan mahasiswa pun kehilangan keteladanan akibat kelangkaan figur akademisi yang dapat dijadikan sebagairaw modeldalam mengembangkan sikap dan kepribadiannya. Memang tak mudah untuk memutus mata rantai kultur yang telah sangat patologis ini, kendati tak berarti bahwa ini tak mungkin untuk dilakukan. Artikel ini sekedar menawarkan gagasan guna meretas harapan dalam mengeradikasi patologi di atas. Semoga.

Karakter Mahasiswa Seharusnya

Tak mudah untuk mendefinisikan karakter mahasiswa (Untirta) yang ideal, apalagi dengan segudang persoalan yang patologis tersebut di atas. Pendekatan filosofis yang radikal lebih dari sekedar perlu untuk dilakukan mengingat bahasan tentang karakter itu sendiri merupakan tema yang radikal, terlebih tema ini pun menjadi kebutuhan mendasar bagi Untirta yang tengah meretas jalan untuk menemukan jatidirinya sebagai perguruan tinggi negeri baru di provinsi yang juga baru.

Secara filosofis memahami dimensi ontologis hingga aksiologis dari mahasiswa dalam konteks ruang dan waktu merupakan cara paling mendasar guna menemukenali jatidiri dimaksud. Dengan pendekatan inilah karakter mahasiswa (Untirta) satu persatu dapat didefinisikan sebagai berikut:

Pertama,mahasiswa adalah bagian dari entitas akademik di sebuah perguruan tinggi sehingga kemudian disebut sebagai akademisi dalam arti member of an academy. Perguruan tinggi adalah wadah yang harusnya memberi bentuk bagi entitas yang bernaung didalamnya. Dengan demikian karakter pertama yang harus dimiliki mahasiswa adalah karakter seorang pembelajar, yang haus akan ilmu pengetahuan dan kebenaran, intelektual yang senantiasa berpikir kritis dalam memecahkan masalah dan fenomena sosial maupun alam yang terjadi, yang tunduk patuh pada etika akademik dan ilmu pengetahuan, yang sadar akan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademiknya secara beradab dan bertanggungjawab, serta sadar akan tanggung jawab moralnya untuk mendayagunakan ilmu pengetahuan bagi sebesar-besarnya kebaikan dan kesejahteraan masyarakat.

Kedua, Untirta sebagai wadah memiliki karakteristik yang integral dengan nilai sosio-historis masyarakat dan daerah tempatnya berada. Karenanya, karakteristik inilah yang harusnya menjadi pembeda dengan mahasiswa perguruan tinggi lain. Dalam hal ini, karakter dan warisan Sultan Ageng Tirtayasa harusnya menjadi sumber nilai dalam membangun jatidiri sivitas akademikanya. Jiwa kepemimpinan yang merakyat dan patriotis dilandasi oleh pendekatan saintifik serta religiusitas yang tinggi, merupakan karakter dasar Sultan Ageng Tirtayasa yang harus disemayamkan sebagai karakter sivitas akademika Untirta.

Ketiga, mahasiswa Untirta merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karenanya kesadaran akan eksistensi formalnya tersebut harusnya telah terinternalisasi sebagai karakter mahasiswa Untirta, sehingga mahasiswa secara sadar menjadi bagian dari upaya sadar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, menjunjung tinggi kepentingan bangsa dan Negara di atas kepentingan pribadi/golongan, taat azas terhadap konstitusi dan perundang-undangan yang berlaku, serta bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa dan negaranya.

Keempat, mahasiswa Untirta merupakan anak bangsa yang menjadi bagian inheren dari masyarakat. Mahasiswa merupakan representasi dari rakyat baik dalam konteks kekinian maupun masa depan. Dan mahasiswa adalah duta para orang tua, yang diutus oleh orang tuanya untuk menjalankan misi pribadi dan keluarga. Karenanya, mahasiswa Untirta tidak boleh tercerabut dari akar sosiologisnya saat bertahta di menara gading. Mahasiswa harus tetap menjadi bagian dari masyarakat, mampu berempati terhadap segenap persoalan masyarakat, serta menjadi bagian produktif untuk meretas jalan keluar terhadap persoalan-persoalan tersebut. Karenanya diperlukan karakter mahasiswa yang kritis sekaligus empatif dalam menyuarakan kehendak masyarakatnya, serta kreatif dan inovatif dalam menjawab tantangan serta permasalahan yang dihadapi masyarakat yang notabene merupakan orang tua yang mengutus mereka sebagai duta.

Kelima, mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat dunia yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Kesadaran akan kebhinekaan ini merupakan karakter dasar guna membangun sikap toleran, saling menghormati, dan humanis guna dapat bekerjasama secara sinergis dalam mewujudkan tatanan masyarakat dunia yang adil dan sejahtera.

Dankeenam, mahasiswa merupakan insan yang tak boleh terpental jauh dari eksistensi transedentalnya sebagai mahluk Tuhan yang membawa misi kenabian guna dapat menjadi khalifah di muka bumi yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup serta kesejahteraan semua mahluk yang ada di muka bumi. Karenanya, mahasiswa Untirta haruslah pribadi-pribadi yang taat dalam menjalankan ibadah formalnya serta mampu mewujudkan hakikat ibadah yang dijalaninya tersebut dalam kehidupannya sehari-hari.

Keenam kesadaran eksistensial inilah yang harusnya menjadi landasan dalam membangun paradigma dan metoda dalam melakukan pembinaan karakter mahasiswa, sehingga internalisasi akan dimensi aksiologis dan eksistensinya itu dapat berlangsung secara alamiah dan manusiawi. Tentu bukan proses yang mudah, apalagi dalam wadah organisasi perguruan tinggi yang kompleks dan seringkali terkendala oleh kultur birokrasi yang lambat, inefisien, dan formalistik. Lalu bagaimana dan darimana harus memulainya?

Kepemimpinan yang Kuat

Jikairon willmutlak dibutuhkan untuk mengubah nasib seseorang, maka dibutuhkan kepemimpinan yang kuat untuk mengubah banyak orang beserta tatanan relasi yang dibangun diantara mereka. Inilah kata kunci pertama yang Saya yakini justru merupakan bagian dari akar persoalan bangsa ini. Krisis moralitas yang begitu akut hampir-hampir tak menyisakan figur-figur pemimpin yang kredibel untuk mewujudkan idealitas peran kepemimpinannya.Strong leadershipdimaksud tentu bukan dalam arti otoritarianisme maupun totalitarianism, melainkan pemimpin yang mampu menjadi teladan dalam setiap perkataan dan perbuatannya, berani melakukan terobosan-terobosan yang mampu mengikis habis keputusasaan, apati, dan ketidakpastian yang dialami masyarakatnya, serta menjadi inspirasi bagi tumbuh kembangnya inisiatif masyarakatnya untuk memberdayakan dirinya sendiri secara mandiri.

Integralitas ikhtiar barulah menjadi kata kunci kedua yang relevan diketengahkan mengingat bahwa pendidikan merupakan upaya sistemik yang melibatkan banyak faktor dan aktor di dalamnya. Dalam konteks perguruan tinggi, perlu ada keterpaduan dalam segala aktivitas yang dilaksanakan oleh setiap orang pada setiap peran yang dijalankan di setiap unit-unit kerjanya. Perlu ada skenario pembiasaan yang dilakukan secara terstruktur dan sistemik dalam membangun kebiasaan yang positif, tidak hanya bagi mahasiswa namun juga bagi seluruh dosen dan karyawan. Pembelajaran harus dimaknai tidak hanya sebagai aktivitas perkuliahan di kelas, namun seluruh proses dan interaksi yang terjadi di dalam maupun di luar kampus. Karenanya, interaksi di luar kelas pun merupakan bagian inheren dari peran dan eksistensi mahasiswa yang tak boleh bertabrakan satu dengan yang lain sehingga kesatupaduan pribadi (bukansplit personality) mahasiswa dalam berpikir dan bertindak di dalam dan di luar kelas dapat terbangun.

Dan kata kunci ketiga tentulahreward and punishment. Keseimbangan dalam memberikan kompensasi maupun sanksi merupakan keharusan dalam membangun harmoni sosial.Rewarddalam segala ragam bentuknya merupakan stimulan yang dibutuhkan guna memotivasi masyarakat untuk melakukan sesuatu. Sementarapunishmentmerupakanearly warning systemguna mencegah seseorang untuk melakukan sesuatu yang dilarang. Kepastian dan ketegasan dalam menerapkan keduanya tentu diperlukan dalam membangun kewibawaan dan martabat suatu sistem sosial, sehingga terbangun pula penghormatan dan kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan dan sistem tersebut sebagai umpan baliknya. Dan pada akhirnya kontrol dan sanksi sosial terbangun sebagai bonus dari adanya kebutuhan masyarakat akan harmoni sosial serta penghormatan dan kepercayaan publik terhadap kapasitas dan kredibilitas sistem tersebut dalam memenuhi hajat hidup mereka.

Penutup

Sejarah mencatat adanya keunggulan karakter suatu bangsa sebagai pilar utama kejayaan dan resiliensi peradaban bangsa tersebut. Dan sejarah pun mencatat kehancuran peradaban suatu bangsa pun terjadi karena keterpurukan moral yang melanda bangsa tersebut. Karenanya, persoalan karakter ini bukanlah persoalan kecil dan sederhana karena eksistensinya yang penting sebagaicore of civilization. Itu sebabnya mengapa Allah menurunkan para nabi dan rasul serta kitabullah untuk memperbaiki karakter umat manusia. Rasulullah SAW., bahkan diberikan misi khusus untuk menyempurnakan akhlak ummat manusia(nobel qualities of character).

Kesadaran setiap bangsa akan pentingnya karakter bagi bangsanya telah mendorong setiap bangsa untuk melakukan pelembagaan dan internalisasi ideologi bagi bangsanya. Indoktrinasi adalah cara efektif di masa lalu kendati cepat lekang digerus jaman seiring dengan bangkitnya kesadaran global akan harkat dan martabat manusia. Pendekatan yang lebih manusiawi melalui pendidikan yang mampu membebaskan pikiran tampaknya jauh lebih tepat diterapkan di era yang telah makin terbuka saat ini. Juga jauh lebih efektif dalam jangka panjang kendati membutuhkan proses yang lama serta kesungguhan komitmen yang prima. Sepenggal bait refrain pada lagu Hymne Untirta berikut ini tampaknya sangat relevan dengan pendekatan dimaksud, Harapan ku serahkan padamu almamater, Universitas Tirtayasa tempat ilmu yang abadi. Yang membawa kemajuan, pembebas pikiran bangsa. Semoga..

(mdk/hum)


SHARE & FOLLOW






KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS