Selasa, 16 Juli 2013 08:02:00
Basyar al-Assad. Reuters.dok ©2012 Merdeka.com



Adu kekuatan di Suriah


Reporter : Ardini Maharani



Merdeka.com - Konflik Suriah semakin memanas. Negeri dilanda perang saudara itu semakin ramai dengan masuknya pelbagai kekuatan. Barat dan timur terpecah mendukung salah satu pihak. Gerbang konflik dunia diramalkan datang dari negeri dipimpin Presiden Basyar al-Assad ini.

Dimulai dari Iran. Saat pemilihan presiden baru tak sampai 24 jam setelah Hasan Rouhani terpilih, Iran dilaporkan mengirim 4.000 orang anggota Garda Revolusi ke Suriah demi mendukung Assad dan berperang melawan pemberontak, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Senin (17/6).

Sumber terdekat militer di republik Islam itu mengatakan setengah dari mereka ditempatkan di Bukit Golan menghadang pasukan Israel dan perang ini memiliki pergeseran isu menjadi perang Islam Sunni dan Syiah. Muslim saling membunuh tanpa rasa persaudaraan dan keyakinan pada satu Tuhan.

Syiah, disebut-sebut sebagai Islam melenceng sebab tidak mengakui sahabat Nabi Muhammad yakni Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan usman bin Affan sebagai pengganti saat Rasul mangkat. Bahkan beberapa literatur di pelbagai situs gemar mengupas habis aliran agama disebutkan Syiah tidak menempatkan syahadat dalam rukun Islam.

Duta besar Iran untuk Indonesia Mahmud Farazandeh membantah hal itu. Menurutnya Syiah itu Islam dan setiap orang punya keleluasaan menterjemahkan Al-Quran. "Kami bersyahadat Tauhid dan Rasul. Mengakui keesaan Allah dan Muhammad sebagai utusannya. Itulah dasar Islam. Jadi apa yang perlu diributkan?" ujar Farazandeh saat bertandang ke markas merdeka.com beberapa waktu lalu.

Konflik awalnya mengacu pada sistem pemerintahan Assad kini berkembang menjadi perang Syiah dan Sunni. Itulah sifat manusia, mencari celah dan kesalahan orang lain tanpa bisa mencari kesalahannya sendiri. Semua berawal dari turunnya Hizbullah ke Suriah dengan kekuatan penuh, disambut peringatan keras dari ulama Sunni di Libanon. "Hizbullah Syiah telah mengirimkan wakilnya membantai rakyat Suriah Sunni. Kita harus jihad," ujar ulama tidak diketahui namanya itu seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya (5/11/2012). Semua ini lantaran Assad penganut Shiite, salah satu unsur Syiah, sementara banyak pemberontak berkeyakinan Sunni. Ini perang yang tidak bisa diterangkan strategi dan akhirnya.

Gara-gara Suriah pula konflik Sunni-Syiah memanas di Libanon. Secara kebetulan Sunni mendominasi oposisi Suriah. Ini pun ikut merebak ke wilayah lain. Bahkan Ikhwanul Muslimin Mesir dominasi Sunni ikut-ikutan kesal dengan Syiah dan mengakibatkan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dengan negara itu. Padahal di masa lalu Suriah dan Mesir menjadi satu kesatuan dalam membombardir Israel. Kini seperti tak saling kenal, apalagi Mesir punya angkatan bersenjata kuat lantaran sokongan dari Amerika Serikat.

Iran dan Hizbullah menyangkal tudingan membantu Assad sebab Syiah. Para ulama Syiah pun berujar sama, tak ketinggalan pemimpin tertinggi Negeri Mullah Ayatullah Ruhallah Khamenei. Menurut dia semua terjadi di Suriah merupakan konflik mendukung barat atau pemerintahan Suriah. "Siapapun menghembuskan itu perang Syiah-Sunni dia picik," Khamenei berseru.

Khamenei boleh berseru demikian namun fakta di lapangan menjadi lain. Stasiun televisi Al Arabiya melansir (15/7), Suriah telah menjadi daya tarik bagi para pejuang Sunni melawan rezim Syiah di Timur Tengah sejak perang saudara ini pecah dua tahun lalu. Kelompok militan Pakistan Taliban dan Anggota kelompok pemberontak seperti Barisan al-Nusra yang disebut Amerika sebagai cabang Al Qaidah mulai mendaratkan pasukannya di tanah konflik itu.

Sebuah sumber mengatakan kedatangan mereka atas permintaan seorang beridentitas Arab Saudi. Komandan Taliban di Pakistan yang tidak ingin diketahui identitas serta lokasinya menyatakan mereka mengirimkan tentara untuk memenuhi permintaan saudara Saudi itu.

"Sejak saudara Saudi kami datang ke sini meminta bantuan dan dukungan, kami merasa harus menolong mereka berjuang di negaranya. Itulah yang kami lakukan di Suriah." ujarnya.

Banyak pihak meramalkan, perang dunia ke III bakal dimulai dari Suriah. Nampaknya ramalan ini bakal terbukti setelah banyak kekuatan berbondong-bondong masuk dan mengobrak-abrik negara itu.

(mdk/din)


CARA GAMPANG BACA BERITA, JOIN :
 


TAG TERKAIT




KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS

DOWNLOAD APP MERDEKA.COM