Rabu, 4 September 2013 13:26:44
Ilustrasi Kota Cologne. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/SergiyN



Pesona Katedral Cologne di pinggir Sungai Rhein


Reporter : Destriyana



Merdeka.com - Baca cerita selanjutnya: Mengikat janji setia di gembok cinta

Saya berjalan cepat, menembus hawa dingin pagi yang menggelitik tengkuk yang tak tertutup. "Tak apalah, yang penting bisa mewujudkan mimpi," begitu kata saya dalam hati.

Pagi itu, suasana hati saya memang sedang cetar membahana - mengutip kata Mbak Syahrini. Pasalnya, akhir pekan ini saya dan beberapa teman dari negara lain, yang juga mengikuti program pertukaran pelajar ke Jerman, akan bertamasya bersama. Ke mana? Cologne (Koeln), kota terbesar keempat di Jerman. Posisi saya saat itu berada di Duesseldorf, ibu kota negara bagian Nordrhein-Westfalen, yang kebetulan berada tak jauh dari Cologne.

Pengalaman ini saya alami tiga tahun lalu, 2010, saat cuaca di Eropa sedang amburadul. "Musim panas kok malah dingin," keluh saya, saat pertama kali menginjakkan kaki di Duesseldorf. Suhu bahkan bisa merosot sampai 12 derajat. Tak jarang, saya harus rela basah kuyup gara-gara hujan deras yang datang tanpa aba-aba. Rupanya, bukan cuma saya yang mengeluh tentang cuaca. Beberapa teman juga berpikiran sama. Seminggu di sana, ada beberapa teman yang sudah terkena batuk dan pilek. Beruntung saya tidak.

Sabtu (11/8), saya dan rombongan berkumpul di Duesseldorf Hauptbahnhof (stasiun pusat), tepat pukul 8 waktu setempat. Kali ini, tidak ada judul jam karet alias datang telat. Semua datang tepat waktu dan bergegas mengumpulkan tiket reservasi masing-masing. Tiket dikumpulkan kepada pemandu wisata yang bertugas mengantar kami ke Cologne. Pria jangkung dengan tinggi mencapai 190 meter itu sedikit membungkuk ketika menanyakan nama saya. Dia lalu mencatat tiket yang saya berikan dan mengabsen anggota lainnya.

Untuk mengantungi satu tiket reservasi ke Cologne, saya merogoh kocek 20 euro atau sekitar Rp 291.474. Saya pikir itu bukan harga yang mahal untuk sebuah pengalaman luar biasa yang menanti saya di Cologne. Tiket itu sudah termasuk tiket kereta PP, pemandu wisata, dan tiket museum. So, it's time to travel girls!

Pesona Katedral Cologne di pinggir Sungai Rhein

20 Menit kemudian saya tiba di kota impian, Cologne. Suasana Koeln Hauftbahnhof riuh rendah. Bersamaan dengan libur musim panas, jumlah wisatawan melonjak drastis. "Seid vorsichtig mit ihren Brieftaschen!" atau "Berhati-hatilah dengan dompet kalian!" kata pemandu wisata berambut pirang itu pada rombongan. Menurut penjelasan yang saya tangkap, para pencopet cilik sering beraksi di sekitar Cologne. Mendengar itu, saya langsung jadi posesif pada ransel di punggung.

Pemandangan altar di Katedral Cologne

Setelah di-briefing selama hampir 10 menit, kami pun langsung berangkat menuju Katedral Cologne yang berada tepat di samping stasiun. Saking takjubnya, saya sempat terpaku sejenak memandangi arsitektur gereja Gotik terbesar di Eropa Utara itu. Pembangunan Katedral Cologne (Koelner Dom) dimulai pada tahun 1248 dan dihentikan pada 1473.

Wisatawan dan para jema'at gereja menunggu detik-detik dimulainya misa rutin

Pengerjaan ulang kembali dilakukan pada abad ke-19 dan selesai pada tahun 1880. Bagi saya, katedral ini merupakan simbol kegigihan umat manusia yang tak gampang putus asa. Betapa tidak, butuh waktu lebih dari 600 tahun untuk bisa menyelesaikan Katedral Cologne.

Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Katedral Cologne rata-rata 20.000 orang per hari

Pada tahun 1996, katedral ini masuk sebagai situs budaya penting dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO. Namun, seperti halnya nasib dari kebanyakan situs lain di dunia, pada tahun 2004, Katedral Cologne terpaksa masuk dalam daftar "World Heritage in Danger", karena adanya rencana pembangun sebuah gedung pencakar langit di dekatnya, yang pastinya akan berdampak secara visual pada keindahan situs. Beruntung pada 2006, pemerintah memutuskan untuk membatasi ketinggian bangunan yang dibangun di dekat dan di sekitar katedral Katolik Roma tersebut.

Keindahan Kuil Tiga Raja

Kuil Tiga Raja di Katedral Cologne

Kuil Tiga Raja adalah harta paling populer yang dimiliki oleh Katedral Cologne. Pembuatan kuil ini ditugaskan oleh Philip von Heinsberg, Uskup Agung Cologne dari 1167-1191 dan diciptakan oleh Nicholas Verdun, dimulai pada 1190. Kuil Tiga Raja memiliki bentuk seperti sebuah wadah besar - dalam bentuk sebuah gereja basilikan - yang terbuat dari perunggu dan perak, disepuh dan dihiasi dengan detail arsitektonis, patung figuratif, enamel dan batu permata. Kuil tersebut dibuka pada tahun 1864.

Lonceng gereja

Katedral ini memiliki sebelas lonceng gereja, empat di antaranya berasal dari abad pertengahan. Yang pertama adalah Dreikoenigsglocke seberat 3,8 ton ("Bell Tiga Raja"), yang dibuat tahun 1418, dan dipasang pada 1437. Dua lonceng lain, Pretiosa (10,5 ton) dan Speciosa (5,6 ton) dipasang pada tahun 1448 dan tetap di tempatnya sampai hari ini.

Menarik rata-rata 20.000 orang per hari, Katedral Cologne telah menjadi tujuan wisata paling populer di Jerman. Berminat untuk mengunjunginya? Jangan lewatkan liputan selanjutnya ya!

(mdk/des)


CARA GAMPANG BACA BERITA, JOIN :
 






KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS

DOWNLOAD APP MERDEKA.COM