Sabtu, 26 Mei 2012 15:32:23
Keramaian MTD di Jalan Raya Besar Ijen. merdeka.com/R. Fajar Yudhistira



Menyusuri bangunan kuno kota Malang


Reporter : Rizqi Adnamazida



Malang adalah kota sejuk yang terletak di Jawa Timur. Kota tersebut cukup banyak mewarisi cerita sejarah dari Jawa dan Belanda di masa lampau. Meskipun modernisasi berjalan sebagaimana yang terjadi di kota-kota lain di Indonesia, namun Malang masih tetap berusaha mempertahankan identitas dan menjaga beberapa bangunan kunonya bekas zaman penjajahan. Selain itu, ada festival tahunan di Malang yang fokus pada budaya lama kota Malang yang bertajuk Malang Tempo Doeloe.

Beberapa bangunan kuno yang masih dipertahankan di Malang, menurut buku "Malang: Telusuri dengan Hati" karya Dwi Cahyono, diantaranya adalah rumah sakit, sekolah, toko, dan tempat ibadah. Sebut saja rumah sakit Lavalette di daerah Blimbing yang awalnya merupakan sebuah klinik yang dirintis oleh D. Ghr. Renardel De Lavalette. Klinik yang kemudian besar menjadi rumah sakit tersebut dibangun pada tahun 1918 dan kini dikelola secara resmi oleh PT Pekerbunan Nusantara XI ( Persero).

Adapun sekolah dengan arsitektur kuno ala Belanda yang ada di Malang adalah Sekolah Kolese Santo Yusuf, Sekolah Cor Jesu, Sekolah Frateran. Ketiganya berada di daerah Celaket dan sempat dibakar secara massal bersama gedung Belanda yang lain oleh pejuang pribumi untuk mencegah penjajah kembali datang di tahun 1947. Namun pada tahun 1951, seluruh gedung yang dibakar berusaha dibangun kembali secara besar-besaran, perlahan-lahan diresmikan, dan masih kokoh berdiri sampai sekarang.

Sementara itu, satu-satunya restoran dari keluarga Cina 'Oen' yang selamat dari pembumihangusan pejuang adalah toko Oen Ice Cream Patissier di daerah Kayutangan. Menu yang disediakan di toko ini sangat khas Belanda. Lokasinya sering dijadikan tempat berkumpul warga Belanda yang ada di Malang. Bahkan sampai sekarang banyak warga Belanda yang datang kemari untuk bernostalgia.

Beberapa tempat ibadah seperti Masjid Jami', Gereja Santa Maria Bunda Karmel, Gereja GPIB Immanuel, Kelenteng Eng An Kiong, dan Pura Luhur Dwijawarsa pun masih kokoh berdiri di Malang dan tetap menjaga arsitektur asli kuno dari bangunan tersebut. Selain itu, ada juga Tugu Alun-alun Bunder yang menjadi simbol kemerdekaan kota Malang dari penjajahan Belanda yang sempat dihancurkan pembangunannya namun dilanjutkan kembali dan diresmikan oleh Presiden Soekarno tahun 1953 dengan nama Tugu Nasional.

Pergi ke Malang pun belum lengkap apabila tidak ikut memeriahkan Festival Malang Kembali yang kerap diadakan setiap tahun di sekitar akhir bulan Mei. Festival tersebut tepatnya diadakan di Jalan Raya Besar Ijen. Pengunjung yang datang akan disuguhi aneka kuliner, mainan unik, dan kesenian jadul khas Malang yang pasti sayang untuk dilewatkan. Tahun ini pun festival tersebut menambah program baru yang disebut Sekolah Si Boedi untuk meramaikan acara Malang Tempo Doeloe 2012.

(mdk/riz)


CARA GAMPANG BACA BERITA, JOIN :
 



TAG TERKAIT




KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS

DOWNLOAD APP MERDEKA.COM