Senin, 2 Juli 2012 08:00:00
Mandra. ( merdeka.com/dpk)





Siang jadi tukang batu dan kenek, malam ngelenong

Reporter : Mohamad Taufik


Perjalanan pelawak Betawi tidak semulus pipinya ratu sejagat. Kisah Mandra misalnya. Seperti diceritakan Alwi Shahab, pengamat Budaya Betawi, karir Mandra sebagai seniman panggung dimulai sejak umur tujuh tahun ketika mengekor babenya menjadi pemain lenong dan topeng Betawi keliling kampung di pinggiran Jakarta. Hingga dewasa, ia konsisten meneruskan profesi keluarga bareng saudaranya, Omas. Keduanya kini sama-sama ngetop sebagai komedian tanah air.

Nama Mandra, lelaki kelahiran Kampung Ledok, Cisalak, Bogor, 2 Mei 1965, itu mulai terkenal sejak menjadi kenek oplet dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Selepas itu, ia laris menjadi model iklan. Maka mengalirlah rezeki ke kantong seniman Betawi dulu hidup pas-pasan itu. Hidupnya dulu susah, miskin, pernah jadi kenek. Kalau malam bermain lenong, kata Alwi ketika dihubungi, Sabtu pekan lalu.

Bukan cuma Mandra, beberapa pelawak Betawi lain mengalami kondisi mirip. Mereka rata-rata mengawali karir sebagai pemain lenong dan topeng Betawi. Dengan lampu minyak sebagai penerang dan seperangkat Gambang Kromong, mereka menggelar panggung di jalan-jalan perkampungan tengah kota berharap mendapat uang saweran. Semalaman mereka manggung, mengocok perut orang-orang.

Para pemain lenong itu, lanjut Alwi, kebanyakan tinggal di desa-desa pelosok pinggiran Jakarta. Bahkan, untuk manggung ke kota, mereka harus berjalan kaki membawa lampu minyak. Bila sedang tidak manggung, siang menjadi kenek dan tukang batu. Lama-lama di antara mereka bisa bertahan cuma beberapa orang saja. Akhir tahun 60-an, lenong dan topeng Betawi nyaris musnah, ujarnya.

Baru pada 1970-an, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin kembali mengangkat budaya asli Betawi hampir punah ini. Dia meminta para seniman panggung menampilkan lenong di Taman Ismail Marzuki. Beberapa lagi diberi kesempatan manggung di televisi. Sejak saat itu, hidup mereka terangkat hingga sekarang, kata Alwi.

Lenong dan topeng Betawi ini muncul; sejak abad ke-19. Dikutip dari laman situs www.lembagakebudayaanbetawi.com, lenong merupakan teater tradisional Betawi. Sebelumnya, masyarakat mengenal komedi stambul dan teater bangsawan. Dua kesenian ini dimainkan oleh bermacam suku bangsa menggunakan bahasa Melayu. Orang Betawi meniru pertunjukan itu dan mereka sebut lenong.

Hampir di semua wilayah Jakarta ada perkumpulan atau grup lenong. Bahkan, banyak pula perkumpulan lenong di Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Pertunjukan lenong biasanya untuk memeriahkan pesta. Dulu, lenong sering ngamen dengan musik pengiring disebut Gambang Kromong. Musik ini dipengaruhi alat musik Cina: tehyan, kongahyan, dan sukong. Selebihnya alat musik berasal dari Betawi yaitu : gambang, kromong, kendang, gong, kempor, ningnong, dan kecrek.

Kuatnya unsur Cina ini karena dulu orkes gambang kromong dibina dan dikembangkan oleh masyarakat keturunan Cina. Pertunjukan ini dilakukan bukan untuk memeriahkan pesta tetapi untuk memperoleh uang. Penonton yang menyaksikan pertunjukan akan dimintai uang. Dalam perkembanganya, lanjut Alwi, beberapa bekas pemain lenong dan topeng bertahan hingga kini. Sekarang hidup mereka enak, meski sebagian belum, katanya.

(mdk/fas)


SHARE & FOLLOW



TAG TERKAIT




KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS