Senin, 6 Agustus 2012 08:32:00
Suasana Ramadan di ICC, Pejaten, Jakarta Selatan. (merdeka.com/Muhammad Taufik)



Sunni buka puasa duluan, Syiah belakangan


Reporter : Mohamad Taufik



Puluhan gelas plastik berisi kolak pisang, singkong dan ubi rebus juga sudah ditata di atas dua meja. Sejam lamanya takjil disiapkan sebelum waktu berbuka. Selain pengurus ICC dari kalangan pribumi, beberapa pria dan perempuan Iran juga nimbrung menyiapkan menu takjil itu.

Meski azan sudah berkumandang, namun belasan peserta pengajian Ustad Hasan Dalil al-Idrus di husainiyah pusat kebudayaan Iran, Islamic Cultural Center (ICC), Rabu pekan lalu, masih menyimak sesi tanya jawab seputar masalah agama. Seperempat jam kemudian, pengajian diakhiri dan buka puasa dengan takjil dimulai.

Syiah memiliki keyakinan berbeda dengan kalangan sunni terkait waktu azan magrib. Sebab itu, saat berbuka puasanya pun tidak sama. Menurut Sunni, magrib tiba setelah tergelincir matahari, ketika mega di langit timur masih kemerahan. Sedangkan versi Syiah, magrib datang bila matahari tenggelam, diikuti hilangnya mega kemerahan di langit timur.

Walau beda pemahaman, ICC membuka kesempatan bagi umat muslim di luar Syiah yang ingin ikut buka bersama di sana. Nanti kalau pengen iftar (buka puasa) lebih dulu juga tidak apa-apa, silakan ambil takjilnya, kata Inna Amalai, Kepala Perpustakaan ICC.

Satpam ICC bernama Jumadi bukan penganut Syiah. Dia memilih berbuka duluan ketika kawan-kawannya masih mengaji. Kolak sudah dilahap habis, tinggal sebatang rokok kretek belum diisap tuntas. Kleppussss ..... Sambil mengisap rokok, Jumadi mengaku selama dua tahun bekerja di sana, dia menikmati pekerjaanya. Berbeda boleh saja, asal tetap rukun, saling menghormati, bukan begitu Mas, ucap dia, kemudian dibenarkan Samudi, seorang sopir ICC yang meyakini Syiah.

Direktur Pendidikan ICC Ustad Abdullah Beik mengungkapkan setidaknya ada 30 pegawai di pusat kebudayaan pengikut ajaran ahlul bait itu. Sejak berdiri satu dekade lalu, seluruh pegawai ICC tidak semuanya Syiah. Ada beberapa staf masih Sunni, misalnya satpam, sopir, dan pegawai kebersihan. Bagi dia, perbedaan tidak apa-apa, asal tetap menjaga kebersamaan. Sejak masuk di Indonesia berabad-abad lalu, Syiah mampu beradaptasi dengan budaya Nusantara.

Kondisi komunitas Syiah di Indonesia juga masih aman-aman saja. Meski beberapa bulan lalu ada penyerangan jamaah Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur. Tapi belakangan kasus itu disebut-sebut bukanlah konflik agama, melainkan masalah keluarga. "Orang-orang Indonesia itu lebih dingin, lebih biasa dengan keberagaman. Apalagi sekarang konflik agama sudah tidak ada lagi di sini," kata Abdullah.

Menurut dia, Sunni dan Syiah sudah ada sejak lama dan hidup berdampingan. Konflik dan perpecahan bisa muncul bila diadu domba pihak ketiga. Sebagai negara majemuk, Pemerintah Indonesia mempunyai kewajiban memberi ruang dalam beragama dan berkeyakinan sesuai amanat pasal 29 Undang-undang Dasar 1945, termasuk Syiah.

Apalagi mazhab ini sudah muncul lama dan tersebar di pelbagai negara. Tidak ada satu negara pun di dunia melarang keberadaan Syiah sebagai mazhab. Sejauh ini tidak ada sensus mengenai penganut Syiah di Indonesia, tapi beberapa orang menyebut jumlah mereka mencapai sejuta. Bahkan, beberapa organisasi mengklaim anggotanya mencapai dua juta.

ICC hanya tahu pada peringatan Hari Karbala saban 10 Muharam, sebanyak tujuh ribu orang hadir di ICC. "Tapi kalau bicara apakah Syiah itu besar, iya. Mereka membaur, hidup berdampingan dengan masyarakat umum," Abdullah menegaskan.

(mdk/fas)


CARA GAMPANG BACA BERITA, JOIN :
 



TAG TERKAIT




KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS

DOWNLOAD APP MERDEKA.COM