Senin, 22 April 2013 12:17:52
Petisi untuk Google Reader. ©2013 Merdeka.com



Teror lewat surat elektronik


Reporter : Alwan Ridha Ramdani



Jalanan bukan lagi pilihan untuk menyuarakan protes ketidakpuasan pada satu kebijakan dianggap tidak adil. Gerakan virtual menjadi pilihan untuk mengungkapkan rasa galau, marah, resah atau protes pada satu keadaan. Bahkan bisa diunggah oleh siapa pun tanpa memiliki pengalaman sebagai aktivis jalanan.

Protes lewat dunia maya menjadi salah satu cara mengumpulkan massa lebih efektif, cepat, dan murah. Contohnya gerakan satu juta pengguna Facebook selamatkan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Tak berselang lama setelah petisi itu muncul, hampir 15 ribu orang berkumpul menyuarakan dukungan terhadap KPK di jalanan.

Pegiat media sosial Wicaksono atau lebih dikenal dengan ndorokakung mengungkapkan perkembangan teknologi mendorong siapa saja memiliki hak sama memprotes kebijakan dirasakan tidak adil. Fenomena ini ditiru dari luar negeri. "Saat ini banyak organisasi sosial atau NGO melakukan protes lewat online. Saya pun bisa bikin petisi," katanya.

Wicaksono mengingatkan tidak semua petisi berhasil meraup sokongan. SEbab di jagat maya, kedudukan semua orang setara. Sehingga mereka juga bebas memutuskan apakah mau mendukung sebuah petisi atau menolak.

Direktur Kampanye change.org Indonesia Usman Hamid mafhum petisi akan disebarluaskan menurut isu. Sebagai contoh, tidak mungkin petisi soal lingkungan dikampanyekan kepada pegiat antikekerasan. "Kita harus punya alamat surat elektronik dituju. Ke mana pun dia akan terganggu," ujarnya.

Dia menegaskan tidak semua sasaran petisi menyambut positif lantaran khawatir akun digunakan palsu. Tetapi pihaknya mempunyai cara mengecek akun pendukung. "Kalau pendukungnya ternyata banyak yang palsu itu menghancurkan kredibilitas," tutur Usman.

(mdk/fas)


CARA GAMPANG BACA BERITA, JOIN :
 



TAG TERKAIT




KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS

DOWNLOAD APP MERDEKA.COM