Rabu, 6 Maret 2013 21:00:53
merapi. shutterstock



Bule Rusia hilang di Pasar Bubrah, wilayah angker di Merapi


Reporter : Parwito



Merdeka.com - Mendaki lereng gunung untuk pertama kalinya di Merapi, seorang wisatawan Rusia yang baru berumur 21 tahun tersesat di wilayah lereng Merapi yang terkenal angker terletak di perbatasan Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu.

Wilayah tersebut adalah di titik wilayah yang disebut sebagai Pasar Bubrah atau yang dikenal warga sebagai tempat Pasar Syetan maupun yang dipercaya tempat dedemit bertransaksi di kawasan puncak Merapi.

Mitos lainnya, Pasar Bubrah atau Pasar Syetan ini merupakan pusat kerajaan syetan atau dedemit penguasa Merapi. Sehingga, bila seorang pendaki berbuat atau berpikiran tidak bersih, maka akan secara tidak sengaja disesatkan atau dibuat bingung para makhluk halus penguasa Merapi.

Rima, nama bule asal Rusia itu selain tersesat juga sempat terjatuh di wilayah lereng Merapi, tepatnya di Balerante. Untung saja, Rima hanya mengalami luka lecet pada kedua kakinya karena terjatuh di lereng tebing dengan ke dalaman hanya lima meter.

Dari data yang dihimpun merdeka.com, tersesatnya Rima berawal ketika Selasa (5/3) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB mendaki menuju puncak lereng Merapi melalui jalur Pos Selo, Boyolali.

"Sebelum mulai naik, bule Rima itu sempat ditawari untuk menggunakan jasa gaet atau pemandu pendaki Merapi yang merupakan warga sekitar Selo, Boyolali. Namun, Rima menolak. Alasannya sudah sering naik gunung-gunung di Indonesia, walaupun untuk naik ke Merapi itu baru pertama kalinya," ungkap Ashroni, relawan Muhammadiyah Disaster Manajement Center (MDMC) Kabupaten Magelang, Jateng Rabu (6/3) yang ikut melakukan pertolongan bule Rusia itu.

Kemudian, Rima naik dan ternyata benar. Sampai di Pasar Bubrah atau yang sering warga sebut sebagai pasar dengan penghuni, pedagang dan pembelinya menurut kepercayaan warga adalah para demit dan syetan penghuni puncak Merapi, Rima pada Selasa (5/3) siang merasa kebingungan.

Akhirnya, Rima memutuskan untuk turun dan sampai di kawasan lereng Merapi di Balerante. Saking kebingungannya dan linglung, Rima naik kembali. Dan akhirnya, Rabu (6/3) pagi tadi Rima memutuskan untuk turun dan sampai lagi di Balerante bertemu dengan warga dan disuruh warga untuk naik ojek menuju ke Pos Pendakian Merapi di Selo, Boyolali.

"Barang-barang dia sempat dititipkan di salah satu warga Selo, Boyolali yang bernama Yoyok. Korban diselamatkan oleh Yoyok dalam kondisi mengalami luka lecet pada sekujur kedua kakinya. Menurut pengakuannya saat di Pasar Bubrah sempat terjatuh di lubang sedalam lima meter," ungkapnya.

Awalnya, ketika Rima ditemukan warga dalam kondisi kedua kakinya terluka rencananya mau dilarikan ke RSUD Muntilan, Kabupaten Magelang, Jateng. Namun, atas permintaan Rima sendiri dia dilarikan dan diantar oleh warga sekitar Pos Pendakian Selo, Boyolali ke rumah sakit international Jogja International Hospital (JIH) di Jl. Lingkar Ringroad, Yogyakarta.

Terkait keberadaan Pasar Bubrah di puncak Merapi, penduduk di daerah Gunung Merapi mempunyai kepercayaan adanya tempat-tempat angker atau sakral. Tempat angker tersebut dipercayai sebagai tempat-tempat yang telah dijaga oleh makhluk halus. Di mana tempat itu tidak dapat diganggu dan tempat tersebut mempunyai kekuatan gaib yang harus dihormati.

Penduduk maupun pendaki Merapi pantang untuk melakukan kegiatan seperti menebang pohon, merumput dan mengambil ataupun memindahkan benda-benda yang ada di daerah tersebut. Selain itu ada juga pantangan untuk tidak berbicara kotor, kencing atau buang air besar, karena akan mengakibatkan rasa tersinggung makhluk halus yang menghuni di situ.

Selain kawasan Pasar Bubrah, tempat yang angker di Gunung Merapi adalah kawah Merapi sebagai istana dan pusat keraton makhluk halus Gunung Merapi. Di bawah puncak Gunung Merapi ada daerah batuan dan pasir yang bernama Pasar Bubrah yang oleh masyarakat dipercaya sebagai tempat yang sangat angker.

Pasar Bubrah tersebut dipercaya masyarakat sebagai pasar besar Keraton Merapi dan pada batu besar yang berserakan di daerah itu dianggap sebagai warung dan meja kursi makhluk halus.

Bagian dari keraton makhluk halus Merapi yang dianggap angker adalah Gunung Wutoh yang digunakan sebagai pintu gerbang utama Keraton Merapi. Gunung Wutoh dijaga oleh makhluk halus yaitu 'Nyai Gadung Melati' yang bertugas melindungi linkungan di daerah gunungnya termasuk tanaman serta hewan.

Selain tempat yang berhubungan langsung dengan Keraton Merapi ada juga tempat lain yang dianggap angker. Daerah sekitar makam Sjech Djumadil Qubro merupakan tempat angker karena makamnya adalah makam untuk nenek moyang penduduk dan itu harus dihormati.

Selanjutnya tempat-tempat lain seperti di hutan, sumber air, petilasan, sungai dan jurang juga dianggap angker. Beberapa hutan yang dianggap angker yaitu Hutan Patuk Alap-alap dimana tempat tersebut digunakan untuk tempat penggembalaan ternak milik Keraton Merapi, Hutan Gamelan dan Bingungan serta Hutan Pijen dan Blumbang. Bukit Turgo, Plawangan, Telaga putri, Muncar, Goa Jepang, Umbul Temanten, Bebeng, Ringin Putih dan Watu Gajah.

Beberapa jenis binatang keramat tinggal di hutan sekeliling Gunung Merapi dimiliki oleh Eyang Merapi. Binatang hutan, terutama macan putih yang tinggal di hutan Blumbang, pantang ditangkap atau dibunuh. Selanjautnya kuda yang tinggal di hutan Patuk Alap-alap, di sekitar Gunung Wutoh, dan di antara Gunung Selokopo Ngisor dan Gunung Gajah Mungkur adalah dianggap/dipakai oleh rakyat Keraton Makhluk Halus Merapi sebagai binatang tunggangan dan penarik kereta.

Di puncak Merapi ada sebuah Keraton yang mirip dengan keraton Mataram, sehingga di sini ada organisasi sendiri yang mengatur hirarki pemerintahan dengan segala atribut dan aktivitasnya. Keraton Merapi itu menurut kepercayaan masyarakat setempat diperintah oleh kakak beradik yaitu Empu Rama dan Empu Permadi.

Seperti halnya pemerintahan sebagai sebagai Kepala Negara (Empu Rama dan Empu Permadi) melimpahkan kekuasaannya kepada Kyai Sapu Jagad yang bertugas mengatur keadaan alam Gunung Merapi. Berikutnya ada juga Nyai Gadung Melati, tokoh ini bertugas memelihara kehijauan tanaman Merapi.

Ada Kartadimeja yang bertugas memelihara ternak keraton dan sebagai komando pasukan makhluk halus. Ia merupakan tokoh yang paling terkenal dan disukai penduduk karena acapkali memberi tahu kapan Merapi akan meletus dan apa yang harus dilakukan penduduk untuk menyelamatkan diri. Tokoh berikutnya Kyai Petruk yang dikenal sebagai salah satu prajurit Merapi.

Begitu besarnya jasa-jasa yang telah diberikan oleh tokoh-tokoh penghuni Gunung Merapi, maka sebagai wujud kecintaan mereka dan terima kasih terhadap Gunung Merapi masyarakat di sekitar Gunung Merapi memberikan suatu upeti yaitu dalam bentuk upacara-upacara ritual keagamaan. Sudah menjadi tradisi keagamaan orang Jawa yaitu dengan mengadakan selamatan atau wilujengan, dengan melakukan upacara keagamaan dan tindakan keramat.

Upacara Selamatan Labuhan diadakan secara rutin setiap tahun pada tanggal kelahiran Sri Sultan Hamengku Buwono X yakni tanggal 30 Rajab. Upacara dipusatkan di dusun Kinahrejo desa Umbulharjo. Di sinilah tinggal sosok Almarhum Mbah Marijan sebagai juru kunci Gunung Merapi yang sering bertugas sebagai pemimpin upacara labuhan. Yang kini telah digantikan oleh Mas Asih sang anak sebagai pewaris juru kunci Merapi.

Di Selo setiap tahun baru Jawa 1 Suro diadakan upacara Sedekah Gunung, dengan harapan masyarakat menjadi aman, tentram dan sejahtera, dengan panen yang melimpah. Upacara ini disertai dengan menanam kepala kerbau di puncak Merapi atau di Pasar Bubrah.

(mdk/did)


CARA GAMPANG BACA BERITA, JOIN :
 





KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS

DOWNLOAD APP MERDEKA.COM