Sabtu, 1 Juni 2013 15:22:11



Cerita dua wanita super penambang batu kali


Reporter : darmansyah|darmansyah



Merdeka.com - Pekerjaan yang dilakukan Warinem (55) dan Soimah Purba (47) lazimnya dilakukan kaum pria. Tapi, tuntutan hidup mengharuskan dua janda itu, menghabiskan sekitar 35 tahun kehidupannya, berendam di air sungai Padang. Tubuh keduanya, kelihatan ringkih berbalut pakaian lusuh, basah kuyup.

Dalam satu hari masing-masing bisa mengangkut empat hingga lima meter kubik batu dan pasir, dari dasar sungai ke pinggir sungai. Kerja keras kedua perempuan itu, ternyata tak sebanding pula dengan penghasilan yang diperoleh. Hasil Sirtu yang mereka tambang, hanya dihargai Rp 4 ribu per meter kubik, sehingga dalam sehari penghasilan mereka rata-rata Rp. 20.000 hingga Rp.24. 000 saja. Kedua wanita super itu, kami sambangi, Jumat (31/05/2013), saat melakukan ekspedisi hulu sungai Padang, di Desa Marjanji, Kecamatan Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

Warinem, ibu dari empat anak itu sosok pertama kami sapa. Ada kesan ragu-ragu di wajahnya, saat sejumlah rekan wartawan menyapa. Bermodalkan pengki dan cangkul karatan bergagang pendek, perempuan dengan tinggi badan sekitar 1,40 cm itu, terus mengorek Sirtu di dasar sungai dengan cekatan. Perlahan, kami menyapa dan mengajaknya berbincang, berlanjut dengan kesediaannya berkisah, tanpa meninggalkan pekerjaannya. "Udah lama kali kerja ini, nggak ingat lagi sejak kapan," ujar perempuan yang gerahamnya tak lagi menyisakan gigi yang utuh.

Ketika disebutkan angka 40 tahun, Warinem, mengatakan mungkin lebih dari segitu. Diungkapkan, pekerjaan menambang Sirtu dimulai ketika sang suami pergi meninggalkan dirinya bersama empat anaknya yang masih kecil-kecil. Karena tidak ada pekerjaan sedangkan anak butuh makan, warga Desa Marjanji itu, terjun ke sungai mengerjakan pekerjaan kaum pria. "Waktu itu saya berumur 25 tahun lah gitu," cetus dia. Sejak itu, tak sehari pun pekerjaan itu ditinggalkan, hingga anak-anaknya beranjak dewasa dan kini telah pula berumah tangga.

Senasib dengan Warinem, dialami Soimah Purba. Perempuan bernama sama dengan sinden yang kini lagi naik daun asal Yogya itu, telah melakoni pekerjaan sebagai penambang batu di usia 10 tahun. Selama itu, janda beranak satu itu, menjadi pasangan tak terpisahkan dengan Warinem. Mereka bahu membahu melakukan pekerjaan itu, demi mendapatkan uang Rp. 20.000 rper hari.

Soimah bertutur, pekerjaan itu pula menyebabkan dirinya lambat mendapatkan jodoh. Alasannya, karena terus menerus berendam di air dan bekerja dari pagi hingga sore, sehingga jarang bergaul layaknya gadis remaja. Dia, baru menikah di usia 27 tahun.

Namun, rumah tangga Soimah bubar, setelah sang suami meninggalkannya begitu saja bersama anaknya. Dilema rumah tangga kedua wanita beda usia itu, mengharuskan mereka melakoni kehidupan itu bersama sejumlah wanita lain. Untuk tangkahan berbatasan dengan hutan lindung Gunung Simbolon itu, Warinem dan Soimah, merupakan dua perempuan di antara sejumlah laki-laki pekerja penambangan galian C itu. "Memang cuma kami berdua, kalau di sini," imbuh Soimah.

Tapi lebih ke hilir ada juga sejumlah perempuan pemecah batu. Beberapa rekan yang prihatin dengan kehidupan keduanya, menyodorkan sedikit uang untuk membeli makan siang. Terlihat, Warinem meneteskan air mata menerima pemberian itu, sembari menjunjung uang yang tak seberapa itu.

Diakui, mereka berdua ada juga menerima BLT dari pemerintah. Pun demikian, keduanya tidak pernah tahu, apa yang mereka lakukan telah merusak lingkungan sungai. Selama puluhan tahun mereka menambang, sudah tak terkira berapa ribu meter kubik Sirtu yang terangkut keluar.

Hilangnya Sirtu itu, menjadi salah satu penyebab rusaknya hulu daerah aliran sungai Padang. "Kalau tak kerja ini, kami tak tahu apa lagi pekerjaan lain," ujar kedua penambang perempuan itu. Sebuah paradoks kehidupan yang tak tahu dari mana harus memutusnya.



CARA GAMPANG BACA BERITA, JOIN :
 






KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS

DOWNLOAD APP MERDEKA.COM