Selasa, 23 April 2013 15:48:35
foto RA Kartini. ©2013 Merdeka.com/parwito



Cerita Kartini menentang ajaran sang kiai


Reporter : Parwito



Merdeka.com - Sosok pahlawan wanita Raden Adjeng Kartini ternyata tidak hanya berjuang melawan tirani kungkungan dan pembatasan wanita yang dilakukan oleh orangtua dan suaminya saja. Tercatat, Kartini juga pernah melawan ajaran serta pemikiran kiai besar kala itu.

Ulama besar itu adalah KH Sholeh Darat yang merupakan ulama kondang penyiar agama Islam di sekitar kota Walisongo yaitu sekitar kerajaan Demak. Konon, KH Sholeh diyakini oleh warga Kota Semarang dan sekitarnya mempunyai dua makam.

Satu makam berada di sekitar wilayah Pelabuhan Tanjung Mas Kota Semarang. Kemudian versi lainnya kiai Sholeh Darat dimakamkan di Tempat pemakaman Umum Bergota Jl. Veteran, Kota Semarang. Kedua tempat makam itu kini banyak dikunjungi dan diziarahi oleh kaum muslimin, baik dari Pulau Jawa maupun dari luar Jawa.

Atas perintah kakeknya KH Ngudirono yang merupakan ulama besar Teluk Awur di Mayong, Jepara tempat kelahiran Kartini, ayah ibu Kartini, Ngasirah memerintahkan Kartini yang saat itu berusia remaja untuk belajar mengaji ke Demak, di Pondok Pesantren (Ponpes) yang diasuh oleh kiai Sholeh Darat.

"Memang benar, Kartini diperintah oleh orangtuanya atas perintah kakeknya KH Ngudirono yang merupakan ulama besar Teluk Awur untuk mengaji di pondok milik KH Sholeh Darat," jelas Muhammad Sahid (64 tahun), juru kunci makam RA Kartini kepada merdeka.com Selasa(23/4).

Saat menjadi santri, Kartini sering memprotes ajaran sang guru. Aksi protes itu di antaranya; saat Kartini meminta sang guru untuk menerjemahkan AlQur'an ke dalam bahasa Jawa, saat itu tidak diperkenankan.

"Perdebatan pun terjadi antara Kartini dan kiai Sholeh Darat. Hingga akhirnya tidak ada solusi dan mempertemukan perdebatan yang tak ada ujung pangkalnya. Hingga kiai Soleh Darat membawa Kartini untuk pergi mengaji ke salah seorang ulama besar lainnya di Demak," ungkap Riza Khaerul, petugas Museum Kartini Jepara saat ditemui merdeka.com Senin (23/4) di sekitar alun-alun Kota Jepara, Jateng.

Tak hanya itu, termasuk poligami yang diperbolehkan dalam Islam pun mendapatkan perlawanan dan perdebatan dari RA Kartini. Hingga akhirnya, setelah mendengarkan penjelasan dari ulama besar di Demak itu, Kartini pun mengalah dan memutuskan untuk berhenti menjadi santri.

"Juga soal kenapa wanita di saat menstruasi pada zaman itu tidak diperbolehkan menjalankan ibadah salat, puasa maupun ibadah lainnya dalam Islam. Kartini dinilai sebagai santri yang menonjol dan kritis oleh kiai Sholeh Darat saat itu," ungkapnya.

Sampai-sampai, KH SHoleh Darat yang berupaya keras untuk menerjemahkan Al Quran bersama kiai lain dari Demak. Namun, sayangnya saat kiai Sholeh Darat selesai menerjemahkan dan ingin menghadiahkan Al Quran beserta terjemahannya itu, RA Kartini sudah meninggal dunia.

"kiai Sholeh Darat tidak sempat memberikan Al Quran itu kepada RA Kartini karena RA Kartini keburu meninggal," pungkas Rizal.

(mdk/war)


CARA GAMPANG BACA BERITA, JOIN :
 






KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS

DOWNLOAD APP MERDEKA.COM