Jumat, 2 Agustus 2013 12:51:26
Kalpataru dikembalikan. ©2013 Merdeka.com



Danau Toba dirusak, peraih Kalpataru balikkan penghargaan


Reporter : Yan Muhardiansyah



Merdeka.com - Peraih Piala Kalpataru dan penghargaan lingkungan lainnya mengembalikan piagam yang mereka terima kepada Gubernur Sumut, Gatot Pujo Nugroho, Jumat (2/8). Aksi ini dilakukan sebagai protes mereka atas pembiaran terhadap perusakan ekosistem Danau Toba.

Mereka yang mengembalikan penghargaan di antaranya Marandu Sirait, peraih Kalpataru 2005 dan LSM PILIHI Dairi pimpinan Hasoloan Manik (Kec. Sitinjo, Sidikalang, Kab. Dairi, Sumatera Utara), peraih Kalpataru 2010. Selain itu, juga ada Wilmar Eliaser Simanjorang, peraih Danau Toba Award. Hadir pula Ngakat Tarigan, penerima Kalpataru 2002.

"Saya juga siap kembalikan penghargaan saya," kata Annette Horschmann, warga Jerman pecinta Danau Toba.

Para penerima penghargaan ini memulai prosesi pengembalian dengan berorasi di Taman Beringin, Jalan T Cik Ditiro, Medan. Aksi mereka diiringi musik tradisional Gondang Batak.

Masih diiringi musik tradisional, mereka kemudian berjalan kaki ke kantor Gubernur Sumut di Jalan Diponegoro Medan. Di kantor Gubernur Sumut, piagam yang diserahkan Marandus dan kawan-kawan diterima Sekdaprov Sumut Nurdin Lubis.

"Kami mengembalikan piagam dari Pemprov Sumut karena mereka penciptanya. Makanya, kalau tidak juga digubris, kami akan ke Jakarta menyerahkan Kalpataru kepada penciptanya, yaitu Presiden," ucap Marandus.

Dia mengatakan, perbaikan ekosistem lebih baik dibandingkan pemberian penghargaan. Mereka kecewa karena pemerintah tidak serius dalam melestarikan kawasan hutan Danau Toba dan perambahan terus terjadi di sana.

"Kami sudah lapor sampai ke Kapolri, tapi tidak ada tindak lanjutnya," sebut Marandus.

Wilmar Eliaser Simanjorang menambahkan, kondisi kawasan Danau Toba saat ini memprihatinkan. "Sungai dan anak sungai kering, sebagian disikat excavator. Jika dibiarkan akan terjadi gurun pasir di sana," kata mantan Pj Bupati Samosir 2004-2005 ini.

Menurut dia, surat-surat dari instansi pemerintah yang memerintahkan penghentian tindakan perusakan lingkungan tidak diikuti aksi nyata. "Polisi diam-diam saja, makanya kami sepakat, buat apa kami simpan-simpan penghargaan ini," ucapnya.

Para penerima penghargaan ini menyatakan tidak tahu mau berbuat apa lagi. Karena itu, pengembalian penghargaan diharapkan dapat menggugah pemerintah untuk menjaga ekosistem dan kelestarian Danau Toba.

(mdk/lia)


CARA GAMPANG BACA BERITA, JOIN :
 






KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS

DOWNLOAD APP MERDEKA.COM