Kamis, 13 September 2012 08:30:19
kuda lumping. ©2012 Merdeka.com/dok



Kesenian tradisional, dihina di Indonesia, direbut Malaysia


Reporter : Mohamad Hasist



Merdeka.com - Pernyataan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Bibit Waluyo kembali menyulut kontroversi. Mantan Pangdam Jaya itu menyebut kesenian tradisional kuda lumping atau jarang kepang adalah kesenian paling jelek se-dunia.

Sontak saja, pernyataan itu bikin pegiat seni langsung berang. Komunitas Ebeg (kuda kepang) Banyumas menuntut agar Bibit minta maaf. "Seorang pemimpin harus berani minta maaf jika salah," kata Sugeng dari komunitas Ebeg.

Menurut dia, kuda lumping dalam kesenian Ebeg merupakan gambaran sifat seseorang yang harus bisa mengendalikan diri. "Bibit harus pulang, bali ndeso untuk mengaji sehingga bisa menghargai kesenian yang berakar pada budaya," kata pegiat seni lainnya, Arno Suprapto.

Pernyataan kontroversi Bibit diungkapkan saat memberikan sambutan dalam pembukaan The 14th Merapi and Borobudur Seniors Amateur Golf Tournament Competing The Hamengku Buwono X Cup. Acara itu digelar di Borobudur International Golf and Country Club (BIGCC), Kota Magelang.

Acara dihadiri sejumlah tokoh Jawa Tengah. Di antaranya mantan menteri dalam negeri sekaligus mantan Gubernur Jateng Mardiyanto, mantan menteri tenaga kerja dan transmigrasi Cosmas Batubara, dan Ketua Umum Persatuan Pegolf Seluruh Indonesia Yuwono Kolopaking. Karena menurut Bibit yang datang orang-orang penting, seharusnya acara itu menampilkan kesenian yang berkelas, bukan jaran kepang.

"Wali Kota Magelang sungguh memalukan, menampilkan kesenian jaran kepang dalam acara seperti ini," kata Bibit. Pernyataan Bibit itu langsung membuat peserta dalam acara itu terdiam.

Menurut komunitas seni Ebeg, sebagai seorang gubernur, Bibit tidak pantas mengatakan hal seperti itu. Sebagai seorang pemimpin harus melindungi seni dan budaya, bukan malah menjelekkan.

Jangan sampai, sebagai bangsa tidak menghargai budaya dan seni yang ada di negara sendiri. Jangan sampai pula, gara-gara tidak pernah mengurus, lalu diklaim oleh negara lain.

Kasus klaim seni dan budaya masih sering terjadi. Terutama Malaysia. Negara serumpun ini kerap kali mengklaim budaya asli Indonesia. Contohnya, tarian tor-tor, alat musik gordang Sambilan, batik, tari pendet, wayang kulit, angklung, reog ponorogo, lagu rasa sayange, bunga rafflesia arnoldi, keris, rendang padang, lagu soleram dari Riau, lagu Injit-injit semut dari Jambi, tari Piring dari Sumatera Barat dan termasuk kuda lumping juga pernah diklaim Malaysia.

Jika sudah terjadi kasus seperti itu, tidak sepantasnya seorang pemimpin sekelas gubernur menyia-nyiakan budaya sendiri. Apa mau seni asli Indonesia ini diklaim negara lain lagi?

(mdk/lia)


CARA GAMPANG BACA BERITA, JOIN :
 



TAG TERKAIT




KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS

DOWNLOAD APP MERDEKA.COM