Jumat, 5 Oktober 2012 04:32:00
cosplay TNI. ©2012 Merdeka.com/handout/Rubbin nanda/reenactors





Kisah para pejuang dan tentara 'palsu' 1945

Reporter : Ramadhian Fadillah


Merdeka.com - Satu regu pasukan Infanterie Gadjah Merah tampak bersiap mencegat pasukan TNI. Di tempat lain, satu peleton pasukan Inggris menyusuri jalanan Kota Surabaya dengan jeep. Ada juga tentara Pembela Tanah Air (PETA) dengan samurai.

Semua aksi itu bisa disaksikan di facebook perkumpulan Independent Reenactor. Anggotanya penggila sejarah dan semua hal yang berbau jadul alias zaman dulu. Tak hanya menjadi tentara atau pejuang, ada juga yang hobi berpose ala mahasiswa kedokteran STOVIA zaman Boedi Oetomo dulu.

Mereka mencoba mempelajari sejarah dengan diskusi, mengkoleksi seragam tua, dan mereka ulang adegan bersejarah. Tak heran perlengkapan mereka hampir mirip 100 persen dengan peristiwa sejarah kala itu.

"Dulu awalnya semua cinta sejarah. Lalu buat grup di Facebook, sekarang anggotanya sudah 500. Sekarang kan jarang anak muda yang tahu sejarah. Tahunya K-POP," kata anggota Independent Reenactor, Rubbin Nanda saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (4/10).

Rubbin mengaku senang segala sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa 1945. Dia mengkoleksi pakaian seragam Badan Keamanan Rakyat (BKR), PETA, serdadu NICA, bahkan tentara Inggris.

"Saya koleksi juga tentara Jerman. Ada sebagian kecil dari mereka yang pernah ke Indonesia," kata Rubbin.

Barang orisinil menjadi incaran Rubbin dan kawan-kawannya. Karena itu Rubbin gemar berburu ke orang-orang tua di Surabaya. Barang apa saja yang kuno dicarinya. Kalau dia tidak berniat mengkoleksinya, Rubbin akan menawarkan barang-barang itu di di grup Independent Reenactor atau Roode Brug di Kota Surabaya.

"Kalau sudah kecanduan, asli budget bisa terkuras. Beli barang ratusan ribu tidak terasa," bebernya.

Anggota lainnya, Noer Satriawan berkisah untuk menyiasati barang asli yang makin langka. Mereka membuat replikanya. Misalnya hendak membuat baju pejuang, maka mereka akan mencari informasi sedetil mungkin soal seragam, senjata, atribut hingga perlengkapan lain. Jika sudah begini soal dana tergantung kreativitas.

"Mungkin kita ini belajar sejarah dengan cara yang unik. Yang biasanya kita cuma baca-baca sekarang kita mengaplikasikannya untuk edukasi agar generasi muda menghayati dan tidak lupa akan nilai-nilai kejuangan 45," kata Noer.

Anggota lain, Wahyu Bowo ikut berkisah. Beruntung orang-orang yang punya kakek atau ayah pejuang. Biasanya mereka punya warisan peralatan tempo doeloe. Kalau tidak punya, siasatnya membuat replika. Satu setel seragam replika tidak terlalu mahal, kisarannya Rp 200 ribu untuk celana dan baju. Tinggal menambah aksesoris lain sesuai kebutuhan.

"Jadi kenapa tertarik dengan baju jadul, mungkin ada darah karena turunan dari kakek-kakeknya dulu yang mungkin pernah jadi pejuang atau priyayi zaman dulu," kata Wahyu.

Lalu bagaimana tanggapan keluarga soal hobi unik ini?

"Dulu keluarga melihatnya aneh. Ini salah zaman kok keluar pakai baju pejuang. Tapi akhirnya bisa menerima. Apalagi jarang anak muda yang peduli sejarah," ujar Rubbin yang bekerja di sebuah Bank di Surabaya ini.

(mdk/ian)


SHARE & FOLLOW



TAG TERKAIT




KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS