Sabtu, 27 Juli 2013 12:22:56
suap. shutterstock



Kongres Advokat Indonesia: Pengacara menyuap karena terpaksa


Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo



Merdeka.com - Wakil Ketua Umum Kongres Advokat Indonesia, Tommy Sihotang, berdalih pengacara Mario Carmelio Bernardo yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyuap karena terpaksa. Tommy yang juga penasihat hukum itu menyatakan hal itu dilakukan karena sistem hukum di Indonesia dan proses pengurusan perkara di Mahkamah Agung menyuburkan praktik kotor itu.

"Masalah utama bukan di pengacara. Advokat ngasih duit so what? Dia menghadapi sistem hukum yang bobrok di Indonesia. Dalam sistem penegakan hukum feodalis di Indonesia ukurannya duit," kata Tommy dalam acara diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (27/7).

Tommy yang juga pengacara terdakwa kasus dugaan korupsi simulator SIM dan pencucian uang, Djoko Susilo, mengatakan akuntabilitas putusan Mahkamah Agung tidak ada yang mengawasi. Hal itu diperparah dengan sulitnya mengakses informasi di lembaga hukum tertinggi itu.

"Apapun yang dia (MA) putuskan, enggak boleh ada yang mengkritisi," ujar Tommy.

Sementara Anggota Komisi III DPR Fraksi Partai Golkar, Nudirman Munir, mengatakan mestinya kedudukan antara para penegak hukum seperti polisi, jaksa, dan hakim dengan pengacara setara. Hal itu perlu untuk memutus perbedaan perlakuan dalam hal proses perkara.

"Jangan lagi ada diskriminasi. Jaksa, polisi, hakim, dan pengacara itu harus setara kedudukannya. Biar nanti tidak ada lagi cerita pengacara harus cium tangan jaksa, hakim, polisi biar perkaranya lancar," kata Nudirman.

Menurut Nudirman yang juga mantan pengacara, selama ini para penegak hukum seolah memandang sebelah mata para advokat. Akibatnya, para pengacara itu harus menghamba supaya perkaranya bisa berjalan lancar.

Wacana itu dikuatkan oleh dosen dan mantan hakim, Asep Iwan Iriawan. Menurut dia, mestinya memang kedudukan antara profesi pengacara dan penegak hukum setara. Dia pun mendesak supaya kedekatan itu dibangun atas dasar pekerjaan, dan bukan duit.

"Mestinya relasi dibangun atas nama profesi, bukan uang. Jadinya akan saling menghormati satu sama lain atas dasar pekerjaan," ujar Asep.

(mdk/has)


CARA GAMPANG BACA BERITA, JOIN :
 






KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS

DOWNLOAD APP MERDEKA.COM