Senin, 27 Agustus 2012 11:07:19
kerusuhan syiah dan sunii. ©Istimewa





Penganut Syiah diserang, wibawa negara dipertaruhkan

Reporter : Muhammad Sholeh


Merdeka.com - Penyerangan terhadap kelompok minoritas terus menerus terjadi di Indonesia. Dan ini tentunya berbahaya demi kerukunan antar umat beragama. Padahal, kebebasan menjalankan ibadah dan keyakinan sudah diatur dan dilindungi oleh negara.

Sebut saja insiden tragedi kelompok minoritas Ahmadiyah, kemudian melebar ke jamaah MTA (Majelis Tafsir Al-Quran) di Jawa Tengah, kemudian berlanjut ke kelompok Syiah.

"Jangan-jangan nanti akan berlanjut kepada kelompok berikutnya lagi yang minoritas di suatu daerah. Terus berlanjutnya serangan ini sungguh tidak lagi bisa ditoleransi. Ini bukan persoalan kecemburuan sosial ekonomi lagi, melainkan sudah mengarah pada berkembangnya budaya intoleransi dan kekerasan terhadap kelompok yang minoritas di suatu kawasan," kata Wakil Ketua MPR Hajriyanto Thohari saat dihubungi, Jakarta, Senin (27/8).

Hajriyanto menegaskan, hal ini berbahaya sekali karena di Indonesia kemajemukan itu tersegmentasi (segmented pluralism). Suatu kelompok atau jamaah bisa saja mayoritas di suatu daerah, tetapi minoritas di daerah lain.

"Bayangkan saja kalau suatu saat salah satu kelompok yang minoritas di suatu daerah menjadi korban penyerangan kelompok lain, padahal di daerah lain mereka mayoritas? Saya rasa negara sudah sampai pada tahap perkembangan harus bertindak tegas. Sungguh perkembangan ini sudah terlalu ekstensif dan eksesif," jelas Hajriyanto.

Ketua DPP Partai Golkar ini menambahkan, kekerasan intoleran terhadap minoritas seperti halnya kejadian di Sampang ini, kewibawaan negara dipertaruhkan. Negara harus merangkul semua tokoh-tokoh masyarakat agama.

"Ini urusan kewibawaan negara dan bersifat struktural kok. Urusan hukum, urusan pidana kekerasan, di mana pelaku kekerasan harus diproses secara hukum. Bukan urusan agama, karena sejak lama agama dianggap urusan privat. Sejak lama agama-agama dan tokoh-tokoh agama dipinggirkan," papar Hajriyanto.

"Ada proses periferalisasi dan marginalisasi agama dengan desakan-desakan agar agama tidak dibawa-bawa ke ruang publik. Bahkan ada tendensi berkembangnya pandangan dan sikap di kalangan msyarakat untuk merendahkan institusi-institusi keagamaan. Maka merosot lah kewibawaan agama di tengah-tengah masyarakat. Akibatnya, masyarakat cenderung bertindak sendiri-sendiri dalam menghukum kelompok yg minoritas yg dianggap menyimpang dari mainstream," tandasnya.

(mdk/bal)


SHARE & FOLLOW






KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS