Rabu, 15 Agustus 2012 08:25:34
istana merdeka. blogspot.com





Tak ingatkah pejabat sederhananya proklamasi 17 Agustus 1945?

Reporter : Ramadhian Fadillah


Merdeka.com - LSM Fitra membocorkan anggaran perayaan HUT RI tanggal 17 Agustus 2012 sebesar Rp 7,8 miliar. Lewat Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara, Lambock VN Nahattands, pihak istana tidak membantah maupun membenarkan jumlah ini. Istana hanya berkata anggaran perayaan HUT RI di kelurahan dan di Istana pasti berbeda. Karena itu jangan dipermasalahkan.

Setiap tahunnya acara 17 Agustus diperingati dengan meriah di Istana Merdeka. Pejabat dan tamu-tamu penting diundang menghadiri acara prestisius ini. Sementara rakyat cukup mengintip dari jauh.

Segala kemewahan ini kontras dengan proklamasi. Dulu, tanggal 17 Agustus 1945, tak ada biaya sepeserpun untuk mengumandangkan proklamasi Indonesia. Tak ada kemewahan sama sekali dalam acara di Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta Pusat.

Soekarno yang berhari-hari sakit demam membacakan naskah proklamasi di teras rumahnya didampingi Mohammad Hatta. Naskah proklamasi hanya dicatat di atas secarik kertas.


Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta

Dalam teks itu, tahun yang digunakan bukan tahun masehi 1945 melainkan penanggalan tahun Jepang 2605. Karena itu ditulis tahun 05 saja.

"Pernyataan itu tidak dipahatkan di atas perkamen dari emas. Kalimat-kalimat itu hanya digoreskan pada secari kertas. Seseorang memberikan buku catatan bergaris-garis biru seperti yang dipakai pada buku tulis anak sekolah. Aku menyobeknya selembar dan dengan tanganku sendiri menuliskan kata-kata proklamasi di atas garis-garis biru itu," aku Soekarno dalam buku biografi yang ditulis Cindy Adams.

Soekarno sempat tidak percaya akhirnya Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Acara yang digelar sangat sederhana ini jauh dari angan-angan Soekarno soal proklamasi kemerdekaan yang lama telah diimpikannya.

"Tidak seperti yang kuangankan. Tidak ada terompet yang ditiup. Tidak ada paduan suara merdu dari para bidadari. Tidak ada upacara keagamaan yang khusyuk. Tidak ada pelayan istana yang berpakaian indah. Acara ini juga tidak diliput besar-besaran oleh wartawan dan juru foto," kenang Soekarno.

Yang datang seluruhnya adalah rakyat. Berdiri berjejal menyaksikan peristiwa bersejarah itu.

"Dia tidak dihadiri oleh orang-orang terkemuka yang mengenakan celana bergaris-garis atau oleh para wanita cantik berbaju satin dengan perhiasan berlian. Tempatnya pun bukan di Istana tapi hanya sebuah kamar depan yang kecil," kata Soekarno.

Soekarno juga mengingat tak ada jamuan makan. Satu-satunya minuman yang dia minum adalah air soda hangat untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Hanya itu.

Maka jika setiap tahunnya HUT RI menghabiskan dana miliaran rupiah, apa tidak berlebihan?

(mdk/ian)


SHARE & FOLLOW



TAG TERKAIT




KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS