Jumat, 31 Agustus 2012 08:47:21
PKB PKS PPP. ©2012 Merdeka.com





Pemilu 2014, partai Islam tenggelam?

Reporter : Laurencius Simanjuntak


Merdeka.com - Prediksi bahwa perolehan suara partai Islam atau berbasis massa Islam terus merosot dalam setiap pemilu, seolah ditegaskan oleh dua hasil survei belakangan ini. Survei Kompas dan Charta Politika yang sama-sama dilakukan pada Juli lalu menunjukkan perolehan suara PPP, PKB, PAN dan PKS berada di bawah 4 persen.

Survei Kompas yang dirilis lebih dulu lewat pemberitaan di Harian Kompas, Selasa (24/7), menunjukkan peroleh suara PKS 2,5 persen, PAN 1,8 persen, PPP 1 persen dan PKB 0,4 persen. Hasil survei nasional pada 16-19 Juli ini telah membuat empat partai menengah itu menjadi kelompok partai kecil.

Hasil yang tidak jauh berbeda ditunjukkan oleh survei nasional Charta Politika yang dilakukan pada 8-22 Juli lalu. Dalam rilisnya kemarin, Charta memperlihatkan hasil perolehan suara PKS 3,9 persen, PPP 2,7 persen, PKB 2,6 persen dan PAN 1,9 persen. Jika UU Pemilu tetang ambang batas parlemen 3,5 persen diterapkan, PPP, PKB, PAN gagal lolos ke DPR.

Tren merosotnya partai Islam atau berbasis massa Islam memang sudah tampak dari dua pemilu terakhir, 2004 dan 2009. Pada 2004, total perolehan suara partai Islam atau berbasis massa Islam sebanyak 37 persen. Kalah dengan perolehan perolehan partai nasionalis (Golkar, PDIP dan Demokrat) sebesar 45 persen. Pada 2009, total kekuatan partai Islam atau berbasis massa Islam di parlemen turun menjadi 22 persen.

Kekuatan terbesar partai Islam atau berbasis massa Islam dicapai pada pemilu demokratis pertama tahun 1955. Dipimpin Partai Masyumi, perolehan partai Islam atau berbasis massa Islam mencapai 44 persen. Angka ini masih di bawah partai nasionalis yang menjadi kekuatan terbesar saat itu.

Hasil studi Mujani, Liddle dan Ambardi menunjukkan walaupun mayoritas pemilih Indonesia beragama Islam (88 persen), total perolehan suara partai Islam atau berbasis massa Islam tidak menggambarkan mayoritas tersebut. Mereka menyebut telah terjadi tren sekularisasi elektoral bagi pemilih Islam di Indonesia.

Dalam Kuasa Rakyat (2012), Mujani, Liddle dan Ambardi berpendapat ada beberapa alasan terjadinya sekularisasi electoral tersebut. Pertama, secara umum tidak ada diferensiasi program yang ditawarkan partai Islam atau berbasis massa Islam dibanding partai lain. Kedua, diskursus politik pasca reformasi tidak lagi mengedepankan perdebatan ideologi Islam dan nasionalis/sekular. Ketiga, karena rasionalitas pemilih yang semakin tinggi.

Jadi apakah partai Islam atau berbasis massa Islam akan tetap bertahan atau tenggelam, pemilu 2014-lah yang akan menjawabnya.

(mdk/has)


SHARE & FOLLOW


Kamu suka berita
pemilu 2014 ?

Install Merdeka.com apps di Android
Dapatkan update beritanya

TAG TERKAIT




KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS