Rabu, 17 Juli 2013 12:46:00
gedung bertingkat. ©2012 Merdeka.com/arie basuki



Pasar properti Indonesia paling aman se-ASEAN


Reporter : Novita Intan Sari



Merdeka.com - Kekhawatiran pengembangan dan masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya bubble di pasar properti dalam negeri, dirasa terlalu jauh. Konsultan properti melihat, bubble properti tidak bakal terjadi di Indonesia. Indikatornya, memasuki triwulan II 2013, semua sub sektor properti di Jakarta mengalami kenaikan baik dalam hal permintaan maupun harga.

Konsultan properti internasional, Jones Lang LaSalle menilai, tren pertumbuhan positif yang telah berlangsung sekitar tiga tahun belakangan ini membuat pasar properti di Indonesia khususnya Jakarta makin berkilau. Jakarta menjadi salah satu tujuan peluang investasi bagi penanam modal asing.

"Fundamental perekonomian dan pasar saat ini masih berada dalam posisi kuat dibanding tahun lalu. Maka dari itu dampak bubble masih jauh," ujar Kepala Riset Jones Lang LaSalle, Anton Sitorus saat konferensi pers "Media Briefing Jakarta Property Market Review 2Q 2013" di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (17/7).

Menurutnya, jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya, Indonesia masih berada di posisi aman. Sebab, tahun ini rasio kredit properti terhadap kredit nasional masih di level sekitar 14 persen. "Ini masih relatif rendah, tahun 2012 saja berada di level 13,6 persen," jelas dia.

Jika dibandingkan dengan rasio kredit properti terhadap PDB Nasional juga relatif masih rendah. Catatan Jones Lang pada 2012, Indonesia menduduki rasio kredit properti di level 4,5 persen terhadap PDB Nasional.

Dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, Australia, Thailand dan Filipina jauh berbeda untuk rasio kredit properti terhadap PDB Nasional. Untuk Malaysia mencapai 30 persen, Thailand, Australia dan Filipina rata-rata mencapai 80 persen.

"Tentunya secara umum belum terlalu beralasan," ungkapnya.

Menengok ke belakang, Anton menceritakan saat 1998 pasar properti Indonesia terpuruk sebagai imbas dari keterpurukan ekonomi nasional. "Untuk rasio kredit properti terhadap kredit nasional di tahun 1995 mencapai 20 persen dan 1997 sebesar 17 persen. Ini belum masuk 1998 sudah berada di level tinggi. Tapi ini kan semua karena krisis moneter yang terjadi saat itu," tutup dia.

(mdk/noe)


CARA GAMPANG BACA BERITA, JOIN :
 



TAG TERKAIT




KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS

DOWNLOAD APP MERDEKA.COM