Rabu, 14 Maret 2012 16:28:20
PLTU Mura Karang./merdeka.com. Iman Buchori.



Penyebab subsidi listrik membengkak Rp 93 triliun


Reporter : Saugy Riyandi



Merdeka.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengungkapkan melonjaknya subsidi listrik pada tahun 2012, hingga Rp 93,05 triliun dari sebelumnya dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara 2012 hanya Rp 44,9 triliun karena beberapa alasan.

Alasan itu, ujar Jero, turunnya penggunaan batubara yang ditargetkan semula 48,05 juta ton hanya menjadi 39,37 juta ton karena proyek PLTU 10 ribu megawat yang direncanakan sudah mencapai 8.250 megawatt hanya menjadi 6.087 megawat, sehingga tambahan subsidinya mencapai Rp 26,72 triliun.

Pasokan gas semula yang ditargetkan 372,5 tera british thermal unit hanya menjadi 351 TBTU karena terminal penerima gas Jawa Barat yang direncanakan beroperasi maret 2012 mundur menjadi agustus 2012, dan terminal penerima gas Sumatera Utara semula direncanakan beroperasi pada September 2012 masih menggunakan BBM sehingga tambahan subsidi sebesar Rp 8,26 triliun. Ditambah, penurunan pendapatan listrik yang semula 173,77 twh menjadi 170,30 twh menambah subsidi sebesar Rp 6,98 triliun.

Kemudian, kenaikan Indonesia Crude Price dari USD 90 per barel menjadi USD 105 mengakibatkan tambahan subsidi sebesar Rp 4,70 triliun. Serta, kenaikan sewa diesel semula 7,25 twh menjadi 11,41 twh untuk menghindari pemadaman di daerah sehingga subsidi bengkak sebesar Rp 3,51 triliun.

Pembengkakan subsidi juga karena peningkatan pembelian listrik dari IPP semula 40,71 twh menjadi 43,03 twh karena pembangkit IPP selesai lebih cepat dari yang diperkirakan mengakibatkan tambahan subsidi sebesar Rp 1,40 triliun.

Dan penurunan biaya bunga pinjaman, dengan mundurnya cash on delivery proyek PLTU mengakibatkan mundurnya penarikan bunga pinjaman sehingga ada ada tambahan subsidi sebesar Rp 2,48 triliun.

Hal tersebut, ungkap Menteri Jero Wacik tp://profil.merdeka.com/indonesia/j/jero-wacik/">Jero Wacik mengungkapkan melonjaknya subsidi listrik pada tahun 2012, hingga Rp 93,05 triliun dari sebelumnya dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara 2012 hanya Rp 44,9 triliun karena beberapa alasan.

Alasan itu, ujar Jero, turunnya penggunaan batubara yang ditargetkan semula 48,05 juta ton hanya menjadi 39,37 juta ton karena proyek PLTU 10 ribu megawat yang direncanakan sudah mencapai 8.250 megawatt hanya menjadi 6.087 megawat, sehingga tambahan subsidinya mencapai Rp 26,72 triliun.

Pasokan gas semula yang ditargetkan 372,5 tera british thermal unit hanya menjadi 351 TBTU karena terminal penerima gas Jawa Barat yang direncanakan beroperasi maret 2012 mundur menjadi agustus 2012, dan terminal penerima gas Sumatera Utara semula direncanakan beroperasi pada September 2012 masih menggunakan BBM sehingga tambahan subsidi sebesar Rp 8,26 triliun. Ditambah, penurunan pendapatan listrik yang semula 173,77 twh menjadi 170,30 twh menambah subsidi sebesar Rp 6,98 triliun.

Kemudian, kenaikan Indonesia Crude Price dari USD 90 per barel menjadi USD 105 mengakibatkan tambahan subsidi sebesar Rp 4,70 triliun. Serta, kenaikan sewa diesel semula 7,25 twh menjadi 11,41 twh untuk menghindari pemadaman di daerah sehingga subsidi bengkak sebesar Rp 3,51 triliun.

Pembengkakan subsidi juga karena peningkatan pembelian listrik dari IPP semula 40,71 twh menjadi 43,03 twh karena pembangkit IPP selesai lebih cepat dari yang diperkirakan mengakibatkan tambahan subsidi sebesar Rp 1,40 triliun.

Dan penurunan biaya bunga pinjaman, dengan mundurnya cash on delivery proyek PLTU mengakibatkan mundurnya penarikan bunga pinjaman sehingga ada ada tambahan subsidi sebesar Rp 2,48 triliun.

Hal tersebut, ungkap Menteri Jero Wacik

(mdk/arr)


CARA GAMPANG BACA BERITA, JOIN :
 


TAG TERKAIT




KOMENTAR ANDA



BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA

LOAD MORE NEWS

DOWNLOAD APP MERDEKA.COM