BANDUNG
  1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG
Wisata sejarah

Belum kantongi izin, Ridwan Kamil segel bangunan bersejarah karya presiden Sukarno

"Kami menyesalkan terjadinya sebuah pelanggaran luar biasa terhadap undang-undang cagar budaya, khususnya bangunan," kata Emil.

Oleh: Dian Rosadi 23 Juli 2018 18:07
segel bangunan bersejarah

Merdeka.com, Bandung - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menyegel sebuah bangunan bersejarah yang berada di Jalan Gatot Subroto No 54. Penyegelan dilakukan karena pemilik bangunan belum mengantongi izin sebelum melakukan renovasi bangunan, yang menjadi cagar budaya tersebut.

Diketahui, bangunan tersebut merupakan bangunan bersejarah karena didesain oleh Presiden pertama RI Sukarno. Sesuai aturan, bangunan yang masuk ke dalam bangunan cagar budaya harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan Pemkot Bandung melalui tim cagar budaya jika akan dilakukan renovasi atau perubahan.

Sebelum melakukan penyegelan, pria yang akrab disapa Emil ini sempat meninjau sekeliling bangunan. Bagian atap bangunan sebagian besar sudah dibongkar. Tak hanya itu, beberapa bagian tembok juga sudah dibongkar termasuk bagian lantai.

"Kami menyesalkan terjadinya sebuah pelanggaran luar biasa terhadap undang-undang cagar budaya, khususnya bangunan. Di mana bangunan ini adalah bangunan bersejarah, bangunan cagar budaya, sudah masuk klasifikasi di perwal saya sebagai cagar budaya. Kemudian oleh pemiliknya dihancurkan dengan cara-cara yang melanggar aturan," ujar Emil kepada wartawan di lokasi.

Emil mengungkapkan, bahwa setiap renovasi yang dilakukan terhadap bangunan cagar budaya, pemilik bangunan harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan tim cagar budaya. Sementara pemilik bangunan tidak melakukan konsultasi, tetapi langsung melakukan renovasi.

"Mereka (pemilik bangunan) mengintrepretasi sendiri renovasinya dengan cara merusak. Bangunan ini sangat bersejarah,karena didesain langsung oleh presiden pertama Indonesia Bapak Ir Sukarno sebagai bangunan kembar. Kembarannya ada di sana (seberang jalan), itu relatif sesuai walaupun tidak orisinil karena sudah direnovasi. Ini dengan pembongkaran atap dan lain sebagainya kita mengkhawatirkan banyak perusakan contohnya tegelnya juga adalah tegel yg bersejarah dari zaman Belanda,"katA dia.

Selain melakukan penyegelan Emil pun akan melakukan pemanggilan terhadap pemilik bangunan. Emil meminta pemilik bangunan untuk mengembalikan seperti semula meski diyakninya tidak akan sama persis seperti sebelumnya.

"Kami akan melakukan pemanggilan di mana nanti ada pasal-pasal sesuai perda yang melanggar. Yang pasti bangunan ini harus dikembalikan seperti semula. Kita menyesalkan karena walaupun dikembalikan auranya tidak seperti bangunan aslinya. Kemudian kami akan memberikan hukuman sesuai dengan peraturan dan diharapkan ini jadi pelajaran pada seluruh yang membangun di kota Bandung, silahkan hidupnya maju modern tapi harus menghargai sejarah karena setiap apapun di kota ini harus ikut tata aturan yang sudah disepakati," paparnya.

Lebih lanjut Emil mengatakan bahwa Kota Bandung memiliki karakteristik tersendiri dengan banyaknya bangunan cagar budaya. Dia pun meminta partisipasi masyarakat untuk ikut melaporkan jika ada pembangunan yang tidak sesuai aturan.

"Saya kira peran masyarakat harus dimaksimalkan juga. Kalau curiga di wilayah tertentu mohon dilaporkan juga agar hal serupa tidak terjadi di masa depan," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Penataan Ruang Kota Bandung Iskandar Zulkarnain mengatakan bahwa pemilik bangunan tidak pernah mengajukan konsultasi dalam pembongkaran bangunan yang dimilikinya. Setelah mengetahui pemilik bangunan belum mengantongi izin, pihaknya meminta untuk segera menghentikan pembongkaran.

"Hari Sabtu kita suruh hentikan. Minggu mereka bilang ingin beres-beres dulu. Senin pagi tadi kita sudah panggil orangnya kebetulan yang punya tidak datang dan diwakili kuasanya," kata dia.

Pemilik bangunan, Rico Harsadi akhirnya tiba di lokasi sesaat sebelum Emil akan meninggalkan lokasi. Emil pun sempat berbincang dengan Rico di lokasi. Emil pun memberi tahu bahwa bangunan yang dimilikinya merupakan bangunan cagar budaya sehingga tidak sembarang bisa direnovasi.

Sementara Rico mengaku tidak ada niat merusak bangunan cagar budaya tersebut, sebab pembongkaran dilakukan dalam rangka renovasi bangunan yang akan dijadikan rumah tinggal untuk dirinya.

"Kita cuma betulin saja, enggak ubah bentuk. Kita mau perbaiki, ini kan bangunan model lama, ada rayap. Cuma memang belum minta petunjuk," kata Rico yang langsung meninggalkan lokasi.

(es/dr)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANDUNG

BERITA BANDUNG