BANDUNG
  1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG
Inovasi

Gelas dari kertas ini selain unik juga ramah lingkungan

Ini merupakan gelas yang dibuat dari kertas sehingga bisa dengan mudah diurai dan tentu saja ramah lingkungan. 

Oleh: Farah Fuadona 30 September 2017 14:04
Share Cup

Merdeka.com, Bandung - Dibutuhkan waktu 500 hingga 1.000 tahun agar sampah plastik bisa terurai di alam. Meski lama terurai, sampah plastik hingga saat ini masih sangat banyak. Bahkan, banyak sekali produsen khususnya makanan dan minuman yang menggunakan plastik sebagai tempat pembungkus produk mereka. 

Melihat kekhawatiran sulitnya sampah plastik yang terurai, hadirlah sebuah produk yang menjadi jalan keluar permasalahan tersebut. Yakni Share Cup. Ini merupakan gelas yang dibuat dari kertas sehingga bisa dengan mudah diurai dan tentu saja ramah lingkungan. 

Share Cup merupakan pemenang dalam hajatan Socio Digi Leader (SDL) 2017, kompetisi sosial berbasis TIK yang dihelat PT Telkom. COO Share Cup Eunike Regina Febby, CEO Technology Share Cup Yosua Nathanael, dan CEO Share Cup Steven Aditya, menjadi pemilik ide tersebut.

Diakui oleh Steven, ide ini hadir atas kekhawatirannya terhadap lingkungan. Pihaknya berupaya memberikan alternatif kepada produsen untuk menggunakan kemasan yang ramah lingkungan, memiliki bentuk unik, serta dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan plastik. 

"Kami memberi alternatif kepada advertiser melalui paper cup dengan harga jauh lebih hemat," ujar Steven kepada Merdeka Bandung, Rabu (28/9) malam.

Inilah yang membuat pebisnis minuman bahkan tak perlu beli gelas karena bea produksi sudah diperoleh dari pengiklan dari depan cup tersebut. Jika gelas habis, melalui aplikasi teknologi informasi komunikasi (TIK), bisa disampaikan infonya untuk dipasok kembali.

Tak kalah pentingnya, bahan baku gelas tersebut dibuat dari kertas yang mudah diurai sehingga ramah lingkungan. 

Ketiganya mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Nanyang Technological University. Steven merupakan mahasiswa teknik mesin, Yosua teknik elektro, dan Eunike dari teknik kimia. Akan tetapi, rasa ingin memberi dampak sosial kepada Indonesia, membuat mereka belajar otodidak.

"Semua tentang coding juga belajar dari internet dan scratch. Design juga waktu itu pakai power point. Tapi penting sekali dalam setiap aplikasi start up mempertimbangkan dampak sosial. Kalau hanya bisa menghisap sumber daya tanpa memberi impact, Indonesia bisa hancur," papar dia.

Share Cup memperoleh hadiah Rp60 juta, beasiswa, serta company visit ke Eropa. Selepas mereka, juara kedua diraih Travel Share (Rp 45 juta, beasiswa, dan company visit ke Hongkong) dan juara ketiga Market Hub (Rp 30 juta, beasiswa, dan company visit ke Hongkong).

SDL yang dihelat keduanya kalinya setelah tahun kemarin meneruskan tradisi sebelumnya ketika pemenang SDL 2016 dikirim antara lain ke Google, Facebook, Plug & Play di Silicon Valley, Amerika Serikat, Net CV di Hong Kong, serta Pay Pal Incubator di Singapura. 

Program employee branding ini sekaligus berusaha mencari karyawan BUMN TIK terbesar di Indonesia tersebut.

 

 

 

 

(ff)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANDUNG

BERITA BANDUNG