BANDUNG
  1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG
Info Kesehatan

Ini alasan wanita lebih rentan darah tinggi

Seringnya hamil membuat hipertensi dimungkinkan menetap.

Oleh: Astri Agustina 28 Oktober 2016 14:09
Ilustrasi

Merdeka.com, Bandung - Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu penyakit kronis yang “akrab” di masyarakat. Data Riset Kesehatan Dasar Jawa Barat (Riskesdas Jabar) 2007, hipertensi menempati urutan teratas penyakit masyarakat yakni 30 persen dari jumlah penduduk Jabar.
 
Menurut dr. Toni Mustahsani Apramiamun hipertensi rupanya banyak menimpa kaum hawa. Ada beberapa faktor yang membuat wanita lebih berpotensi mengalami penyakit hipertensi. Salah satunya, hormon progesteron yang mendorong naiknya tensi darah hingga memicu darah tinggi. Hormon ini biasa muncul di saat kehamilan sehingga muncul hipertensi pada masa kehamilan.
 
“Di Indonesia jumlah penduduk wanita itu banyak, juga banyak kehamilan. Jadi banyak waanita mengalami hipertensi pada masa kehamilan,” kata Toni saat berbincang dengan Merdeka Bandung, baru-baru ini.
 
Meski demikian, hipertensi pada masa kehamilan bisa menetap maupun hilang pascamelahirkan. Hal ini tergantung pada keseimbangan hormonal juga. Selain itu, seringnya hamil membuat hipertensi dimungkinkan menetap.
 
“Wanita hamil lebih beresiko hipertensi. Biasanya setelah lahir hipertensinya hilang meski ada yang berlanjut, jadi jangan terlalu banyak hamil,” kada dokter Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung ini.
 
Faktor lain yang membuat wanita lebih berpotensi hipertensi adalah program Keluarga Berencana (KB). Di Indonesia KB umumnya dilakukan wanita, meski laki-laki juga sebenarnya bisa KB. Alat KB yang digunakan kebanyakan pil atau suntik. Pil atau suntik memicu munculnya hormon progesteron yang bisa menaikan tensi darah yang akhirnya memicu hipertensi. Kendati demikian program KB tidak salah karena sebagai upaya pemerintah dalam mengendalikan populasi.
 
Selain itu, program KB menyediakan banyak pilihan tidak hanya pil dan suntik. Contohnya ada program IUD yang lebih aman dari efek hormonal. “Makanya KB sekarang diarahkan ke IUD yang lebih aman karena tidak ada hormonnya,” katanya.
 
Walaupun wanita lebih rentan terkena hipertensi, ia menambahkan belum ada data pembanding yang menunjukkan jumlah penderita hipertensi pada wanita dan pria. Hanya berdasarkan pengalaman para dokter, hipertensi pada wanita bisa dipastikan lebih banyak dibandingkan hipertensi pada pria karena dua faktor tadi.

(ff/aa)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANDUNG

BERITA BANDUNG