BANDUNG
  1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG
Info Kota

Mengolah limbah jadi aksesories, Mulatsih berhasil tembus pasar internasional

"Lingkungan rumah saya terkenal dengan kerajinan mebel. Banyak sisa-sisa limbahnya yang tidak terpakai, saya berani berkreasi".

Oleh: Astri Agustina 26 Maret 2018 14:41
Pengrajin aksesories Mulatsih Wiyanti

Merdeka.com, Bandung - Bermula dari kepekaannya terhadap lingkungan dengan mengolah limbah menjadi aksesories, Mulatsih Wiyanti berhasil memasarkan produknya hingga ke kancah internasional. Produk buatannya berhasil mencuri perhatian konsumen asal Singapura dan Filipina.

Mulatsih yang merupakan salah satu pelaku usaha menengah yang didukung PT Telkom itu mengolah limbah seperti kawat tembaga, serta kayu menjadi aksesories seperti anting-anting yang tentu saja unik kala dikenakan. Keunikan itulah yang membuat produk buatannya laris manis dipasaran.

"Lingkungan rumah saya terkenal dengan kerajinan mebel. Banyak sisa-sisa limbahnya yang tidak terpakai, saya berani berkreasi bersama teman-teman," ujar Mulatsih kepada Merdeka Bandung, Senin (26/3).

Dukungan yang diberikan oleh PT Telkom kepada pelaku usaha kecil menengah ini memang sangat dirasakan oleh Multasih. Terlebih, baru saja PT Telkom memberikan ruang bagi pelaku usaha sepertinya dalam kegiatan Telkom Craft Indonesia di Jakarta, kemarin.

Kata dia, event seperti Telkom Craft Indonesia ini merupakan ajang untuk unjuk gigi. Di mana ia bisa mengenalkan kepada publik perihal produk dan bagaimana sebuah karya bisa hadir dari sebuah limbah industri.

Mulatsih menjelaskan, usaha aksesoris yang sudah digeluti selama empat tahun ini memang begitu dinilai gampang-gampang susah. Butuh kejelian untuk mengerjakan setiap produk yang dihasilkan.

"Khusus yang merangkai dengan kawat tembaga, itu masih saya lakukan sendiri karena butuh kejelian. Dalam pengerjaannya, saya pakai batu- batu unik dari Pacitan yang dikombinasikan dengan bahan-bahan daur ulang tersebut, sehingga terlihat semakin elegan," jelas dia.

Setiap desain aksesoris yang dibuatnya tidak akan diproduksi lagi, sehingga konsumen bisa tampil unik dan berbeda. Konsumennya berkisar antara usia 20 hingga 40 tahun.

Target kedepannya, UKM yang ia namai Wint Craftnesia ini akan memiliki website sendiri. Tidak lupa, Mulatsih juga memberi semangat bagi calon pengusaha lainnya.

"Tidak perlu khawatir barang tidak akan laku. Yang terpenting adalah produk kalian punya ciri khas dan berdasarkan passion, jadi lebih enak menjalaninya," katanya.

(es/aa)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANDUNG

BERITA BANDUNG