BANDUNG
  1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG
Layanan Kesehatan

Waspada, Awal Tahun 2019 Ada 48 Kasus DBD di Kota Bandung

Masyarakatan diimbau untuk membersihkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Oleh: Dian Rosadi 19 Januari 2019 14:22

Merdeka.com, Bandung - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Bandung pada awal tahun kembali muncul. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mencatat ada 48 kasus DBD yang terjadi pada awal tahun 2019.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Bandung dr. Rosye Arosdiani Apip mengatakan, memang hampir setiap tahun kasus DBD terjadi di awal tahun. Data ini diperoleh dari laporan rumah sakit dan puskesmas yang merawat pasien DBD.

"Kalau di Kota Bandung cukup endemis DBD ini. Sampai kemarin 48 kasus di kami. Ini laporan dari rumah sakit dan puskesmas ke kami," ujar Rosye saat dihubungi lewat ponselnya, Sabtu (19/1).

Dia menuturkan, jika berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, maraknya kasus DBD selalu terjadi di awal tahun. Hal ini berkaitan dengan terjadinya musim penghujan. Jika ditotalkan, rata-rata kasus DBD di Kota Bandung pada bulan Januari mencapai 200 kasus.

"Kalau dilihat dari data memang banyaknya di minggu minggu awal tahun. Tahun lalu juga sama minggu begini. Kalau ditotal memang sekitar 200-an di bulan Januari. Ini terjadi sejak 3 tahun lalu. Banyaknya kasus terjadi di bulan Januari, ini karena saat musim penghujan. Jadi relatif lebih banyak dibanding bulan-bulan lain. Saat kemarau menurun angkanya. Awal Januari atau Februari ini puncaknya kalau dibilang," katanya.

Adapun untuk sebaran kasus DBD ini kata Rosye secara umum hampir merata di wilayah Kota Bandung. Namun pihaknya belum bisa mendeskripsikan untuk sebaran per kecamatan. Namun, pihaknya memastikan bahwa rumah sakit di Bandung selalu siap untuk menangani pasien DBD. Termasuk dari aspek pelayanan.

"Kalau kesiapan, rumah sakit kita selalu siap menangani pasien DBD," ucapnya.

Meski demikian, pihaknya lebih menekankan kepada aspek pencegahan kepada masyarakat. Dinkes lanjut Rosye tak henti-hentinya mengingatkan kepada masyarakat untuk mewaspadai kasus DBD yang banyak terjadi saat musim penghujan.

"Yang harus diwaspadai perkembangbiakan nyamuk saat musim penghujan ini. Sekali bertelur nyamuk itu bisa sampai 200. Tempat-tempat perindukan nyamuk menjadi bertambah banyak dibanding musim kemarau. Nyamuk sendiri sebagai vektor atau perantara (virus dengue), apalagi di musim hujan semakin besar untuk berkembang biak," ungkapnya.

Rosye menambahkan, berdasarkan catatan dinas kesehatan, jumlah kasus DBD dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir (2010-2018) di Kota Bandung, jumlah kasus tertinggi terjadi pada tahun 2013 yakni 5.736 kasus. Angka ini kemudian turun di tahun 2014 yakni 3.132 kasus. Namum kemudian kembali naik pada tahun 2015 yakni 3.640. Begitu juga pada tahun 2016 naik menjadi 3.880. Namun kemudian kembali turun di tahun 2017 yakni 1786 dan kembali naik di tahun 2018 yakni 2.826 kasus.

Pemkot Lakukan Sosialisasi Pencegahan

Maraknya kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Bandung menjadi sebuah peringatan bagi masyarakat. Dinas Kesehatan Kota Bandung semakin gencar menyosialisasikan langkah pencegahan DBD lewat gerakan 3M plus.

Rosye mengimbau masyarakat untuk melakukan gerakan 3M plus untuk mencegah DBD. Seperti diketahui untuk 3M sendiri yakni menguras, menutup dan mengubur.

Pertama kata Rosye yakni menguras bak mandi dan wadah air. Namun menurutnya tak cukup hanya dengan menguras tetapi juga menggosok dinding bak agar telur nyamuk tak menempel. "Jadi ketika menguras bak mandi ini, harus disikat, karena nyamuk itu bertelurnya bisa di pinggir bak mandi. Jadi harus dikuras 1 Minggu sekali," ujar Rosye kepada wartawan.

Selain itu juga menutup tempat penampungan air. Hal ini dilakukan agar tidak menjadi tempat nyamuk berkembang biak. "Tempat-pempat penampungan air harus ditutup dan dipastikan tidak ada genangan air," katanya.

Kemudian juga mengubur barang-barang yang tidak digunakan. Jangan sampai ada barang-barang seperti bekas botol ataupun wadah bekas yang tergenang air. Sebab dikhawatirkan menjadi sarang nyamuk.

"Membersihakan barang-barang yang kemungkinan berisiko tergenang air. Bekas minuman plastik yang ada dibawah got dalam jangka 7 hari ini berisiko menjadi tempat nyamuk berkembang biak di sana. Termasuk juga kalau di dalam rumah ada dispenser, itu kan ada tempat menahan air, kalau menetes, nah itu juga harus harus diwaspadai. Termasuk juga tatakan pot," ungkapnya.

(mh/dr)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANDUNG

BERITA BANDUNG