BANDUNG
  1. BANDUNG
  2. KOMUNITAS
Seniman

Penyair ini bandingkan koruptor dengan orang gila

Puisi berjudul “Mending Gila Dari Pada Korupsi” pun sudah dibukukan dan diterbitkan.

Oleh: Iman Herdiana 18 April 2016 09:55
Gusjur Mahesa

Merdeka.com, Bandung - Puisi satir tentang korupsi berjudul “Mending Gelo Dari Pada Korupsi” karya penyair Bandung, Gusjur Mahesa, diterbitkan dalam buku antologi puisi dengan judul yang sama, yakni Antologi Puisi Mending Gelo Dari Pada Korupsi (Mending Gila Dari Pada Korupsi).

Buku antologi puisi ini berisi sekitar 60 puisi Gusjur Mahesa yang ditulis antara 2013-2015. Buku setebal 134 halaman ini sudah mengalami dua kali cetak, yakni Maret dan April 2016 dengan penerbit Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Cetakan kedua diluncurkan bersama bedah buku puisi tersebut di Gedung Indonesia Mengguggat, Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung, Sabtu (16/4) sore.

Sejumlah penyair dan penikmat sastra dari berbagai kalangan menghadiri acara peluncuran dan bedah buku ini. Salah satu komunitas yang mensponsori acara bedah buku adalah Majelis Sastra Bandung.

“Tema antologi puisi ini macam-macam, tapi ditulis menggunakan pola pikir orang gila,” kata Gusjur, kepada Merdeka Bandung.

Dalam buku tersebut, Gusjur menjabat Presiden Republik Gelo. “Semua puisi di buku ini ditulis dari sudut pandang orang gila, dalam arti orang gila itu sederhana, tak berlebihan, kebutuhan secukupnya, dan tidak korupsi,” terangnya.

Menurutnya, seniman dan orang gila memiliki perbedaan yang tipis. Seniman bisa hidup di dua dunia antara kegilaan dan kewarasan. Seniman sadar dengan dua dunia itu. Sementara orang gila tidak sadar dengan kegilaannya.

Buku tersebut diterbitkan secara independen dengan harga Rp 50.000. Cetakan pertama sebanyak 40 eksemplar. “Langsung habis, seolah-olah best seller-lah. Makanya kita cetak lagi, kali ini 300 eksemplar,” ujar Gusjur yang  juga aktif di teater.

Meski mengaku menulis puisi dari sudut pandang orang gila. Puisi-puisi  seniman berusia 49 tahun yang mendirikan Kelompol Teater Tarian Mahesa ini tetap menggunakan bahasa Indonesia.
Bangunan puisi-puisinya memakai diksi-diksi populer, mengolok-olok, vulgal, bahkan campur dengan bahasa Sunda kasar. Puisi Gusjur juga tidak menggunakan metafora-metafora yang gelap seperti terdapat pada puisi “Mending Gelo Dari Pada Korupsi” yang bunyinya sebagai berikut:

Hai kamu!
Katanya mau memberantas korupsi,
ternyata kok malah korupsi, gubrak!

Katanya kampanye anti korupsi
Ternyata kok malah melindungi koruptor, gubrak!

Katanya mau menyelamatkan uang negara
Ternyata kok malah merampok pajak rakyat. Gubrak!

Kamu itu
Tong kosong nyaring bunyinya.
Otakmu bolong Hatimu kosong
Otakmu bolong Hatimu kosong

Nol nol nol nol nol nooooooooooolllllll…….!!!!!!

Nol samadengan kosong
Kosong samadengan bohong
Bohong samadengan podol
Podol itu tempat tai
Tai itu bau
Bau itu rujit
Rujit anjiiiing!

Hai kamu
Katanya mau berkata jujur
Ternyata kok malah sering menipu, gubrak!

Katanya mau hidup sederhana
Ternyata baju dan mobilmu mewah semua, gubrak!

Katanya mau mendidik generasi muda
Ternyata kok malah pesta narkoba, gubrak!

Kamu itu
Tong kosong nyaring bunyinya.
Otakmu bolong Hatimu kosong
Otakmu bolong Hatimu kosong

Nol nol nol nol nol nooooooooooolllllll…….!!!!!!

Nol samadengan kosong , ..
Kosong samadengan bohong...
Bohong samadengan waduk..
Waduk itu tempat tai ...
Tai itu bau..
Bau itu rujit ..
Rujit anjiiiing!

Korupsi adalah narkoba
Yang membuat kamu terlena
Mabuk harta tahta dan wanita
Mobilmu mewah tak cukup dua
Tiga empat bahkah duapuluh lima, gubrak!

Pangkatmu tak cukup direktur utama
Menteri bahkan bintang lima, gubrak!

Istrimu cantik tak cukup dua
Tiga empat dan anak SMA, gubrak!

Kamu itu
Buta seperti rahwana. Serakah dan Hawek.
Otakmu bolong Hatimu kosong
Otakmu bolong Hatimu kosong

Nol nol nol nol nol nooooooooooolllllll…….!!!!!!

Nol samadengan kosong
Kosong samadengan bohong
Bohong samadengan podol
Podol itu tempat tai
Tai itu bau
Bau itu rujit
Rujit anjiiiing!

Kamu itu waras to? Kamu itu tidak gelo to?
Kamu itu waras kan? Kamu itu tidak gelo kan?
Mending gelo jiga aing tapi tara bohong
Mending gelo jiga aing tapi selalu jujur
Mending gelo jiga aing tapi sederhana
Mending gelo jiga aing tapi tara menipu
Mending gelo jiga aing tapi tara korupsi
kerna euweuh yang dikorupsinya
Hahahahahahaha

Kamu itu waras to?
Orang waras kok kelakuanya seperti buta
Buta ijo, buta terong, buta hati
Dasar buta!

Otakmu bolong Hatimu kosong
Otakmu bolong Hatimu kosong

Nol nol nol nol nol nooooooooooolllllll…….!!!!!!

Nol samadengan kosong , ..
Kosong samadengan bohong...
Bohong samadengan podol
Podol itu tempat tai
Tai itu bau
Bau itu rujit
Rujit anjiiiing!

Mending gelo dari pada bohong
Daripada waras tapi korupssssss…….

Republik Gelo, 9 Desember 2014

(ff/ih)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANDUNG

BERITA BANDUNG