BANDUNG
  1. BANDUNG
  2. KULINER
Makanan Khas Bandung

Bacang panas Braga, dari pelanggan cantik hingga Pak polisi

Bacang ini sangat istimewa karena bacang panas berisi daging cincang, daging jando dan sambal pedas.

Oleh: Iman Herdiana 5 April 2016 11:13
Bacang Pak Halim

Merdeka.com, Bandung - Sudah 26 tahun Halim (44) menjajakan roda bacang panasnya di Jalan Braga. Banyak pelanggan yang menggemari bacang bertabur daging jando dan sambal merah.
 
Pak Halim memiliki banyak pelanggang dari berbagai kalangan, mulai karyawan atau karyawati, PNS, hingga polisi. Pria asal Majalengka ini mencatat baik nomor-nomor ponsel pelanggannya.
 
“Kalau dihitung-hitung lebih dari 100 pelanggan yang saya catat,” kata Halim yang baru saja menerima SMS pesanan, kepada Merdeka Bandung, Senin (4/4).
 
Salim sendiri tidak menerima jasa antar, tetapi ia memajang nomor ponselnya di roda bacangnya. Pelanggan yang akan membeli bacang biasanya minta disediakan bacang via pesan singkat, sehingga saat dia datang bacang tersebut bisa langsung diambil.
 
Pelanggan yang sering mengiriminya pesan singkat, Salim mencatat nomor ponselnya. Lucunya, nomor ponsel yang ia simpan tidak dinamai sesuai nama asli pelanggan.
 
“Saya nggak enak kalau nanya-nanya nama, jadi saya namain sendiri biar nggak ketukar,” katanya.
 
Nama yang dikarang Salim untuk menamai nomor ponsel pelanggannya macam-macam, biasanya sesuai dengan penampilan pelanggan. “Ada pelanggan cantik, saya namai si cantik,” katanya sambil tersenyum.
 
Jika pelanggannya menggunakan kacamata ia namai kacamata, begitu juga pelanggan dari rumah sakit, pasangan suami istri, kepolisian dan seterusnya.  
 
Dalam sehari, rata-rata ia bisa menjual 100 buah bacang yang dijual Rp 7.000 per buah. Jika dihitung-hitung, pendapatan kotor Salim dalam sebulan bisa mencapai Rp 21 juta.
 
Salim sendiri baru-baru ini kembali menjajakan rodanya. Kali ini di tempat milik sebuah apotek di seberang Museum Konferensi Asia Afrika (KAA), agar bebas dari razia Satpol PP.
 
Ayah tiga anak ini mengaku pernah suatu waktu ditangkap Satpol PP. Begitu juga saat peringatan KAA yang ke-60 tahun lalu, ia terpaksa harus pulang kampung. Ia tidak mungkin jualan dengan rodanya sementara Museum KAA dibanjiri tamu negara.
 
Memiliki pelanggan polisi juga menyimpan cerita lucu bagi Salim. Suatu hari tiba-tiba ada mobil dinas polisi yang berhenti tidak jauh dari roda bacangnya. Polisi itu memamanggilnya. Awalnya ia mengira akan ditangkap polisi karena jualan di zona merah PKL. Ternyata polisi itu pelanggannya.

(ff/ih)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANDUNG

BERITA BANDUNG