BANDUNG
  1. BANDUNG
  2. KULINER
Makanan Tradisional

Abon khas Bandung yang digemari para meneer Belanda

Orang Bandung pasti tahu Pasar Kosambi. Pasar ini ada sejak zaman Belanda.

Oleh: Muhammad Hasits 2 Desember 2015 13:18
Abon

Merdeka.com, Bandung - Pasar Kosambi sudah beroperasi sejak zaman Belanda. Tidak heran jika para pedagangnya banyak mewarisi usaha orangtua, salah satunya Abon Ibu Achmad yang dirintis sejak 1942. Di zaman sebelum kemerdekaan itu, banyak meneer Belanda membeli abon di kios abon lokal ini. Hingga kini, anak cucu para meneer tersebut masih suka membeli produk Abon Ibu Achmad.

Kios Abon Ibu Achmad menempati lantai dasar Pasar Kosambi, tidak jauh dari blok pedagang daging dan sayuran. Usaha abon ini mulai dirintis oleh pasangan suami istri Anna Kusumah dan Achmad Adipoera. Kini usaha tersebut diteruskan anak mereka, Nenden, 47 tahun.

Nenden menuturkan, orangtuanya mulai membuat abon hasil eksperimen dari membuat gepuk, yaitu daging yang dimasak dengan cara ditumbuk-tumbuk agar teksturnya lembut. Cara membuat abon mirip seperti membuat gepuk, daging ditumbuk lebih ekstrem lagi hingga tinggal berupa serat-serat seperti sabut. Di masa lalu abon disebut sawud.

Sejak 2010, Abon Ibu Achmad biasa mengikuti pameran kuliner di Belanda. Dalam sekali pameran, abon yang dikirim ke Belanda sampai dua kuintal dengan harga EUR 7 per dua ons-nya.

Menurut Nenden, banyak orang Belanda menjadi pelanggan tetap. Ia menduga, orang-orang Belanda itu merupakan anak cucu dari para meneer yang dulu menjadi pelanggan abon dari orangtuanya.

"Sampai sekarang mungkin anak cucu mereka tahu dengan Abon Ibu Achmad. Karena dulu kan ibu banyak pelanggan Belanda hingga dia fasih bahasa Belanda," kata Nenden bercerita kepada Merdeka Bandung, baru-baru ini.

Nenden meneruskan usaha orang tuanya sejak 2003. Ibu dua anak ini kemudian mengembangkan produknya seperti abon ayam dan ikan dengan rasa beragam, abon manis, pedas dan sedang. Abon yang paling digemari pelanggan adalah abon sapi rasa sedang.

Abon ini dijual mulai Rp 300 ribu per kilogramnya. Selain abon, kios ini memproduksi kornet, paru goreng, dendeng dan serundeng. Produknya tersebar di berbagai rumah makan, cafe dan hotel di Bandung.

Nenden juga membuka cabang di Jalan Kalijati Raya Nomor 2 Antapani Bandung. Ia mempekerjakan Iima pegawai yang digaji antara 1,5 juta rupiah sampai Rp 3 juta rupiah per bulan.

(mh/mh)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANDUNG

BERITA BANDUNG