BANDUNG
  1. BANDUNG
  2. LAPAK
Bisnis

Kisah Tasirun, penjual mainan tradisional yang tak pernah putus asa

"Alhamdulillah selalu ada saja yang beli. Rezeki selalu datang dari mana saja, tanpa pernah kita tahu. Selama kita berusaha," kata Tasirun.

Oleh: Dian Rosadi 15 Desember 2015 10:17
Tasirun penjual mainan tradisional keliling

Merdeka.com, Bandung - Dengan memanggul barang dagangannya, langkah kaki Tasirun (43), terus menyusuri ramainya jalanan Kota Bandung, Jawa Barat. Tidak tampak raut lelah di wajahnya, hanya sesekali dia mengusap keringatnya yang terus bercucuran.

Tasirun adalah pedagang mainan tradisional anak-anak. Setiap hari dia memanggul barang dagangannya dengan menyusuri jalanan Kota Bandung.

Pria asal Desa Semin, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), ini berkisah. Dia mulai berjualan aneka mainan tradisional sejak 2010. Sebelumnya Ia membuka usaha makanan di Jakarta. Namun karena lapak yang menjadi tempatnya berjualan tergusur oleh pembangunan, membuatnya harus pindah.

"Sebelumnya saya usaha makanan di Jakarta. Namun lapak saya berjualan digusur oleh pembangunan gedung perkantoran, ya terpaksa saya harus pindah. Sejak itu saya pindah ke Bandung," ujar Tasirun kepada Merdeka Bandung saat ditemui di Jalan Maskumambang, beberapa waktu lalu.

Lima tahun sudah dia tinggal di Bandung. Setiap hari dia membawa aneka mainan tradisional seperti gangsing dan troktok. Namun ada juga alat musik tradisonal seperti suling dan priwit.

"Setiap hari saya membawa gangsing 70 buah, priwit 200 buah, troktok 70 buah, suling 100 buah. Troktok yang paling laku. Yang beli itu justru bapak-bapak dan ibu-ibu. Mungkin buat anak dan cucunya," ucap Tasirun.

Satu buah gangsing dijual Rp 10 ribu, untuk troktok Rp 5 ribu. Sementara suling berukuran kecil dihargai Rp 20 ribu, dan ukuran agak besar dihargai Rp 15 ribu. Untuk priwit berukuran kecil dihargai Rp 3 ribu dan ukuran lebih besar dijual Rp 5 ribu.

Tasirun membuat sendiri aneka mainan dan alat musik tradisional tersebut. Mainan terebut dibuat di Yogyakarta. Selama dua Minggu membuat aneka mainan tersebut, kemudian dibawa ke Bandung untuk dijual.

"Kalau dagangannya sudah habis saya pulang ke Yogyakarta. Saya yang buat sendiri dibantu istri. Setelah itu saya balik lagi ke Bandung untuk jualan," terang Tasirun yang mengaku tinggal di kawasan Kiaracondong.

Setiap hari Tasirun berjalan menyusuri jalanan Kota Bandung. Bahkan dia sering berdagang hingga ke Padalarang dan Lembang.

"Setelah subuh saya mulai keliling. Biasanya dari sini naik kereta dulu ke Padalarang, turun di stasiun kemudian jalan ke Bandung. Pernah juga naik angkutan umum ke Lembang, dari situ turun dan jalan menyusuri Bandung," katanya.

Penghasilannya dalam sehari tak menentu. Rata-rata dia mendapatkan penghasilan Rp 100-150 ribu. "Itu kotor, belum untuk makan dan lain lain. Namanya usaha kadang dapat kadang enggak. Ya namanya orang jualan enggak tentu. Hari ini sepi malah," katanya.

Tasirun mengakui bahwa mainan tradisonal kini mulai tegerus oleh perkembangan zaman. Anak-anak saat ini lebih senang untuk bermain video game dari pada mainan tradisional. Namun dia tak pernah berhenti memecut asa.

"Alhamdulillah selalu ada saja yang beli. Rezeki selalu datang dari mana saja, tanpa pernah kita tahu. Selama kita berusaha, rezeki pasti akan selalu menghampiri," ujarnya menegaskan.

(mt/dr)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANDUNG

BERITA BANDUNG