BANDUNG
  1. BANDUNG
  2. LAPAK
Bisnis

Potret Cibaduyut dari zaman sepatu Nurlela sampai sandal gaul

"Kalau cuman bisa bikin merek sendiri saja, tanpa dukungan pembeli akan sulit juga," kata Ujang.

Oleh: Iman Herdiana 14 Desember 2015 19:40
Bengkel spatu di Cibaduyut

Merdeka.com, Bandung - Industri sepatu Cibaduyut masih bertahan di tengah serbuan produk sepatu impor. Ada yang mencoba bangkit, ada juga yang tenggelam. Dari sisi kreativitas dan model, sebenarnya sepatu Cibaduyut tidak kalah dengan produk luar. Satu produk sepatu Cibaduyut yang pernah booming era 90-an adalah sepatu Nurlela atau disebut juga sepatu Emen.

"Anak zaman dahulu kan kalau punya sepatu Nurlela rasanya bangga sekali. Itu yang buat di sini aslinya. Jadi sebenarnya sepatu ceko produk Cibaduyut sudah ada dari dulu, tidak kalah sama Carterpilar yang sekarang banyak dipakai," kata salah satu pengrajin sepatu dan sandal Cibaduyut, Ujang Yana, kepada Merdeka Bandung, beberapa waktu lalu.

Pria 46 tahun tersebut menjelaskan, sepatu Nurlela atau sepatu Eman murni kreativitas warga Cibaduyut. Sekarang sepatu jenis boot tersebut banyak sekali turunannya. Hanya saja semakin membanjirnya keran sepatu impor, membuat produk-produk sepatu Cibaduyut mendapat saingan sengit.

Soal nama atau brand menjadi salah satu masalah yang membuat produk Cibaduyut kelabakan menghadapi persaingan. Masalah brand setali tiga uang dengan strategi pemasaran.

Ujang mengakui, pemasaran menjadi kendala klasik selain permodalan. Ia juga prihatin dengan isu produk-produk bermerek yang dibajak. Menurutnya, jika isu itu benar justru akar masalahnya karena sulitnya menjual nama produk sendiri.

"Padahal ilmunya mah sudah ada sebelumnya di sini, mau bikin model apapun juga bisa. Cuman sekarang banyak datang produk dari luar, merek sepatu luar lebih terkenal dan bagus pemasarannya," kata dia.

Namun kini, menurut dia sudah muncul beberapa merek lokal berusaha menyaingi produk impor, di antaranya Garsel, Gruty dan lain-lain. Ia berharap pengembangan merek sendiri didukung pasar, yakni adanya kecintaan memakai produk dalam negeri.

"Kalau cuman bisa bikin merek sendiri saja, tanpa dukungan pembeli akan sulit juga," kata ayah tiga anak ini.

Apalagi permodalan dan sistem dagang juga menjadi kendala. "Sekarang punya duit tipis terus usaha sepatu tidak akan lama. Misalnya modal Rp 10 juta, tidak akan lama karena dengan sistem anjuk (utang)," tuturnya.

Beda dengan masa keemasan Cibaduyut antara tahun 70-an hingga 85-an di mana transaksi masih cash. "Sistem sekarang keluar masuk. Misalnya sekarang kita masukin barang 15 kodi, kita dapat DP, sisanya baru dikredit tiap Minggu. Dulu kan cash. Jadi sekarang modalnya kudu kuat. Dengan modal kuat, kerjaan bisa terus ada," katanya.

Ada juga pedagang atau pengrajin sepatu Cibaduyut yang terus bertahan dengan memasarkan produknya secara online. Menurut Ujang, pangsa pasar mereka terutama negara-negara Timur Tengah seperti Arab Sudi dan Yaman.

"Pengrajin lainnya sih kerja sesuai pesanan. Ada pesanan bisa gawe tidak ada pesanan nganggur," katanya.

Ia sendiri sejak dua tahun ini mengerjakan sandal gaul pesanan sebuh pengusaha sebuh plasa di Bandung. Sandal-sandal tersebut untuk menjaring pangsa pasar anak muda, banyak yang dikirim ke luar pulau Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lain.

"Sekarang kita justru mengandalkan pasar di luar Pulau Jawa," kata pria yang mulai belajar membuat sepatu sejak tahun 1985 tersbeut. Sebelumnya di masa lesu, ia sempat meninggalkan dunia sepatu dengan kerja serabutan.

(mt/ih)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANDUNG

BERITA BANDUNG