BANDUNG
  1. BANDUNG
  2. PARIWISATA
Wisata Mistis

Takut gelap? Ikuti terapi ala Wisata Mistis Bandung ini

"Kita bukan pemburu hantu, kita mempelajari mitos, mencari penjelasan logisnya, dan menelusuri sejarah lokalnya," kata Iman.

Oleh: Iman Herdiana 3 Desember 2015 10:36
Ilustrasi hantu

Merdeka.com, Bandung - Wisata mistis diyakini sebagai alternatif untuk membuktikan mitos dan menghilangkan rasa takut. Banyak peserta yang tadinya penakut saat berada di tempat gelap dan sepi jadi pemberani setelah mengikuti ekspedisi Komunitas Wisata Mistis (Wismis) Bandung.

"Ekspedisi kita jadi semacam terapi untuk yang takut gelap. Ada peserta yang awalnya tidak mau ikut ekspedisi, setelah sekali ikut jadi ketagihan," kata Penasihat Wisata Mistis Bandung Iman Abdurahman, kepada Merdeka Bandung, Sabtu (3/10).

Ia menjelaskan, tujuan Komunitas Wismis tidak semata-mata mencari tempat angker. Komunitas ini punya sejumlah kriteria dalam mencari peserta maupun menentukan tempat ekspedisi. "Kalau cuman angker, kita tinggal datangi saja kuburan," katanya.

Ia menegaskan, komunitas yang berdiri 2011 ini bukanlah kumpulan paranormal atau dukun. Mayoritas pengurusnya adalah anak muda melek internet. Komunitas Wismis sendiri terbentuk lewat forum digital Kaskus.

Di forum tersebut, awalnya hanya di-share foto tempat angker di Bandung, yakni sebuah sekolah di Jalan Belitung yang terkenal dengan penampakan none Belanda. Ternyata respon Kaskuser luar biasa. Akhirnya diputuskan untuk mendatangi tempat tersebut beramai-ramai. Di sana mereka jalan-jalan malam sambil ber-selfie ria.

Setelah itu mereka mencari tempat angker lainnya, sebuah kuburan tua di daerah Jalan Sangkuriang. Jumlah peserta masih sedikit, antara tujuh sampai sembilan orang. "Itulah kuburan satu-satunya kita datangi. Hasilnya pun tidak memuaskan, kuburannya tak ketemu," katanya seraya terbahak.

Mereka pun mulai merumuskan konsep lebih serius. Maka terbentuklah Komunitas Wismis, Iman sendiri yang jadi ketua waktu itu. Mereka menyusun struktur organisasi, AD/ART, dan prosedur penjaringan peserta.

Peserta yang berminat, tutur Iman, tidak langsung dibawa ke tempat ekspedisi, melainkan diajak ngumpul dulu di tempat Komunitas Wismis biasa nongkrong, yakni di angkringan ITB tiap Rabu malam. Di sana peserta akan diterangkan visi misi komunitas, bahwa tujuan utama komunitas adalah menelusuri mitos dan sejarah tempat ekspedisi.

"Kita bukan pemburu hantu, kita mempelajari mitos, mencari penjelasan logisnya, dan menelusuri sejarah lokalnya," terangnya.

Setelah sharing di acara tiap Rabu malam, baru diputuskan untuk ekspedisi yang biasa digelar tiap malam Minggu. Seminggu sebelum ekspedisi, tim Komunitas Wismis melakukan survei, mengurus perizinan, dan menyiapkan narasumber lokal.

Pada hari H mereka berangkat ramai-ramai. Awalnya jumlah peserta tidak banyak, kurang dari 10 orang. Berikutnya jumlah peserta terus meningkat, minimal 30 orang dalam sekali ekspedisi, pernah 40 sampai 50 orang seperti pada ekspedisi terbaru di Goa Belanda, Dago Pakar, Bandung.

Rencananya mereka berencana menerbitkan buku hasil ekspedisi selama ini. Buku ini berisi testimoni peserta, mitos dan sejarah lokasi-lokasi ekspedisi. Materi buku di antaranya sudah dimuat di situs www.wisatamistis.com.

Rencana lain, Komunitas Wismis menjejaki kerja sama dengan Dinas Pariwisata Jawa Barat untuk mendorong wisata mistis sebagai wisata alternatif Kota Bandung.

(mt/ih)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANDUNG

BERITA BANDUNG