BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. GAYA HIDUP
Jazz Festival

Peleburan yang tua dan muda di jazz lereng Gunung Ijen

"Mereka tidak pernah belajar musik dengan saya, saya tidak pernah mengajari musik pada mereka," kata Idang.

Oleh: Mohammad Taufik 24 September 2018 11:55
Jazz lereng Gunung Ijen Banyuwangi

Merdeka.com, Banyuwangi - Tidak hanya bertabur bintang musisi tanah air seperti Marcell Siahaan dan Andien, Jazz Gunung Ijen juga menjadi kesempatan meleburnya musik jazz dari yang tua dan muda. Pianis jazz senior Idang Rasjidi memboyong Mus Mujiono (58) pada vokal, Ule Pattiselano (72) pada gitar, dan anak-anak muda yang dibimbingnya bertahun-tahun.

Sepanggung dengan Idang, ada musisi-musisi belia seperti Danis Junio (19) pada saksofon dan Samuel (19) pada bass yang masih berstatus mahasiswa semester 5 Universitas Bandar Lampung (UBL). Saat kesempatan datang masing-masing dari mereka memperlihatkan kebolehan, misalnya Sam, sapaan Samuel, yang telah mampu memberikan petikan-petikan cepat pada bassnya.

Ada pula Joshua Song (16) siswa kelas 2 SMA sekaligus menjadi yang termuda di panggung, yang terus menatap Idang dari balik dramsetnya, menunggu intruksi. Penampilan Joshua cukup sederhana di atas panggung, namun pukulannya mampu selaras dengan musik yang dibawakan. Bimbingan berlatih musik yang diterimanya dari Idang tanpa dipungut biaya menghasilkan ketakziman pada sang guru.

"Mereka tidak pernah belajar musik dengan saya, saya tidak pernah mengajari musik pada mereka. Saya hanya memunculkan apa yang sudah ada di dalam diri mereka. Merekalah yang nanti akan mengisi," kata Idang kepada Merdeka Banyuwangi setelah Jazz Gunung Ijen 2018 beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan anak-anak itu tidak hanya berlatih musik, melainkan juga cara bersikap, berbicara dan bertingkah ala musisi Indonesia. Tidak hanya pada Junio, Sam dan Joshua, dia juga bercerita telah membagikan pengetahuan musiknya di berbagai daerah di Indonesia dalam berbagai workshop 30 tahun terakhir.

Musisi yang jago menirukan berbagai bunyi alat musik dengan mulutnya itu juga mengatakan musisi Indonesia harus berani dan tidak ragu melakukan pembaruan. Salah satunya dengan menyiapkan generasi baru di bidang musik, dan bidang-bidang lainnya.

"Kita-kita ini, saya, Ule, mendorong mereka, jadi betul-betul regenerasi. Jadi musik ini semangat memberi, spirit to give, spirit to feat," katanya lagi.

Vokalis Putu Sastrani Dewantara bergabung dengan Idang di panggung untuk 2 nomor lagu, salah satunya Di Bawah Bulan Purnama yang dipopulerkan Sundari Soekotjo. Di banyak bagian syair, penyanyi opera dengan tipe vokal sopran itu tetap membubuhkan aksen Keroncong.

Idang mengatakan vokal sopran tidak lazim dipadukan dengan musik jazz. Namun kali ini sengaja dipasangkan keduanya untuk menampilkan warna baru yang berbeda. Dia mengatakan musisi harus berani mencoba hal-hal baru seperti itu. "Salah satu persyaratan dalam Jazz itu menurut saya fearless, jangan takut," katanya.

Sementara bersama Mus Mujiono mereka membawakan lagu dari adik kandung Mus Mulyadi itu sendiri yang berjudul Arti Kehidupan dan Tanda-tandanya yang mendapatkan respon meriah dari 150 penonton. Konser Jazz Gunung Ijen 2018 tuntas menggenapi rangkaian even jazz di Banyuwangi dari yang digelar di pantai, di kota dengan penampil para pelajar, hingga di Desa Tamansari di lereng Gunung Ijen itu.

Ampliteater Terakota Gandrung tempat konser digelar memberikan udara dingin dengan latar belakang panggung lingkungan persawahan dimana berdiri patung-patung Gandrung dari gerbah. Konser utama yang dibuka Marcell bersama The Shadow Puppets, lalu menampilkan Idang Rasjidi and The Next Generation, ditutup dengan cantik oleh Andien dengan lagu manisnya Moving On.

(mt/mt)

Laporan: Ahmad Suudi

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI