BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI
Festival Banyuwangi 2018

Ini Alasan Desainer Asal Italia Datang ke Banyuwangi

"Saya mau bilang terimakasih ke Pak Ali, saya bilang, mau ke Banyuwangi untuk support," kata Milo.

Oleh: Mohammad Ulil Albab 18 November 2018 14:42
Festival Batik

Merdeka.com, Banyuwangi - Desainer Asal Italia, Milo Miliavicca mengaku mendukung pagelaran Banyuwangi Batik Festival (BBF) yang berlangsung di Gedung Seni dan Budaya (Gesibu) Banyuwangi, Sabtu (17/11).

Milo ternyata sudah pernah berkunjung ke Banyuwangi saat ajang BBF di tahun 2017 dengan tema 'Kopi Pecah', dan tahun ini, dia bersedia datang kembali untuk menyumbangkan ide desainnya bersama pebatik lokal Banyuwangi.

Milo, ternyata bisa datang ke Banyuwangi setelah diajak oleh Ketua Indonesia Fashion Chamber (IFC) Ali Charisma. Sebelumnya, Milo Sendiri sudah lama tinggal dan berkarir menjadi desainer di Bali.

"Saya mau bilang terimakasih ke Pak Ali, saya bilang, mau ke Banyuwangi untuk support," kata Milo saat jumpa pers di Pendopoho Sabhwa Swagata Blambangan.

Milo kali ini membawakan desain yang cocok dan disukai oleh wisatawan Eropa. Menurutnya, di Eropa tidak memakai batik seperti masyarakat Indonesia. Dari situ, dia akan membuat desain yang mungkin dari sudut pandang orang Indonesia tampak sederhana, namun bagi wisatawan mancanegara bisa suka.

"Nanti malam saya bikin empat, pakai batik punya Ali. Saya desain agar orang asing mau beli. Karena orang asing tidak pakai batik kayak Indonesia. Mungkin akan tampak sederhana. Tapi bisa dipakai bule itu," ujarnya.

Dia berharap, ide desainnya bisa memberi inspirasi generasi muda Banyuwangi, agar bisa menyajikan produk dengan segmentasi pasar yang disukai wisatawan asing.

"Semoga bisa memberi inspirasi desainer muda Banyuwangi.Saya juga sering tampilkan di Singapura, Thailand, Malaisa," ujarnya.

Sementara itu, desainer nasional, Priscilla Saputra yang juga hadir, menampilkan desain Japan, harapannya juga bisa menguatkan ide kreatif desainer dan pebatik lokal untuk menyajikan oleh-oleh wisatawan asing.

"Saya menampilkan satu disain komsep Japan is style.Di Banyuwangi bisa mposisikan kesukaan turis mancanegara unyuk menyukai batik.Pewarnaannya alam. Semoga jadi inspirasi," kata dia.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyampaikan, festival ini digelar memang untuk memberi panggung desainer dan pebatik lokal Banyuwangi agar bisa mengenalkan produknya. Selain itu, bisa meningkatkan rasa percaya diri.

"Mendorong kepercayaan diri desainer dan pembatik lokal Banyuwangi. Dulu hanya pendapatannya Rp 5 sampai Rp 10 juta sekarang sampai Rp 100 juta. Tidak ada gunanya tiap tahun kita bikin event glanmore kalau IKM (Industri Kecil Menengah) di bawah tidak tumbuh," kata dia.

Ajang BBF tahun 2018, mengangkat tema gedhegan, yang berarti kesederhanaan. Gedheg yang berarti anyaman bambu, memberikan motif gambar horizontal dan vertikal.


"Bambu akarnya sangat kuat, jadi simbol persatuan bertemunya rajutan vertikal dan horizontal. Masuk dengan kondisi saat ini untuk menguatkan kekuatan horizontal dan vertikal," katanya.

(es/mua)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI