BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI
Abdullah Azwar Anas

Kampung Lego, cara nikmati wisata kopi di Banyuwangi

"Kopi kami ini enak rasanya, hasilnya melimpah, tapi kok tidak terlalu berdampak pada ekonomi kami. Saat itu".

Oleh: Endang Saputra 1 November 2018 12:08
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas

Merdeka.com, Banyuwangi - Banyuwangi terus memperkaya destinasi wisatanya. Tidak hanya pantai, namun agrowisatanya juga berkembang. Salah satunya, Kedai Kopi Lego yang menawarkan paket wisata lengkap, mulai kebun kopi hingga minum susu kambing ettawa.

Wisata Kopi Lego terletak di Lingkungan Lerek, Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro. Desa ini terkenal dengan perkebunan kopi rakyatnya. Hampir setiap rumah di sana, menanam kopi di pekarangan rumah dan kebunnya. Tak hanya itu, desa ini juga dikenal sebagai kampung ettawa, salah satu sentra peternakan kambing ettawa di Banyuwangi.

Adalah Hariyono (40), warga Lerek yang berinisiatif meningkatkan potensi desanya. Pria yang akrab disapa Pak Ho ini mengungkapkan ide awal membuka wisata agro ini, dipicu dari rendahnya harga kopi rakyat di pasaran. Waktu itu, katanya, harga biji kopi hanya Rp 17–18 ribu/kg. Padahal warga Gombengsari sebagian besar menggantungkan hidupnya dari kebun kopi.

"Kopi kami ini enak rasanya, hasilnya melimpah, tapi kok tidak terlalu berdampak pada ekonomi kami. Saat itu, yang kami lakukan hanya tanam, panen, lalu biji kopinya kami jual. Orang lain yang mengolah biji kopinya. Akhirya kami sadar, sejak akhir 2015 lalu kami ubah," kata dia.

Perubahan yang dimaksudkan Pak Ho, adalah mereka mulai memproses kopi sendiri, memproduksi bubuk kopi untuk meningkatkan nilai jual kopinya.

"Kita olah bijinya jadi bubuk kopi, kita brand, lalu kita pasarkan sendiri. Dan ternyata, secara ekonomi jauh lebih menguntungkan," jelasnya.

Brand yang dijual adalah Kopi Lego (Lerek Gombengsari) dengan enam varian kopi. Yakni kopi luwak, kopi lanang, kopi arabika, kopi robusta, kopi leberica, dan house blend (campuran arabika dan robusta).

"Kami bikin kemasan per 200 gram, harganya antara Rp 40 ribu hingga 200 ribu, tergantung jenis kopinya. Dalam sebulan, produksi kita mencapai 1,5 kuintal," kata dia.

Tidak hanya berhenti di situ, warga desa Gombengsari juga memperkenalkan potensi kopi yang dimilikinya melalui pariwisata. Mereka lalu membuat paket wisata edukasi kopi. Di sini, wisawatan akan dikenalkan berbagai proses kopi.

"Kami tawarkan paket wisata lengkap. Mulai tracking kebun kopi, melihat petik kopi, pemrosesan biji kopi secara tradisional, hingga minum kopi dan menyantap kuliner dan buah lokal khas Gombengsari,"katanya.

Kebun kopi di Gombengsari luasnya mencapai sekitar 400 hektar. Rata-rata, setiap petani memiliki 1-5 hektare, dengan produksi 1,5 ton per hektare.

Dalam satu bulan, kata dia , rata-rata wisatawan yang datang kesini ada sekitar 200 rombongan. Wisatawan juga diajak melihat kandang kambing ettawa yang banyak tersebar di rumah penduduk.

"Selain bisa membawa pulang hasil roasting kopinya, wisatawan bisa menikmati atraksi perah susu, dan meminum susu kambing secara langsung. Kami ada teknis khusus, susunya tidak bau prengus (bau kambing)," kata dia.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyatakan kopi memiliki potensi pariwisata yang tinggi. Aneka kopi dari Sabang sampai Merauke dapat menjadi alasan wisatawan untuk mengunjungi berbagai daerah di Indonesia.

"Kopi yang dihasilkan setiap daerah itu memiliki aroma dan cita rasa yang berbeda, itu yang memicu para pecinta kopi menjelajah sejumlah daerah di Indonesia untuk mencicipi kopinya. Tak hanya itu, cara memproses, penyajian yang bervariasi tiap daerah juga menjadi salah satu atraksi yang menarik bagi wisatawan," kata Anas.

Anas berharap dengan tumbuhnya wisata agro ini bisa mengangkat perekonominian masyarakat sekitar. "Bukan hanya petani kopi saya kira, tapi juga masyarakat bisa meraih keuntungan dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke mari," katanya.

(es)

Laporan: Ahmad Suudi

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI