BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI
Sejarah

Komunitas Pegon, pemburu jejak karya intelektual kiai di Banyuwangi

"Jarang yang menceritakan kiprah intelektual tokoh pesantren. Jadi kami dokumentasikan jejak intelektual tentang kebangsaan, sosial msyarakat".

Oleh: Mohammad Ulil Albab 31 Mei 2018 13:30
komunitas Pegon

Merdeka.com, Banyuwangi - Sejak dua tahun terakhir, komunitas Pegon rutin menelusuri jejak karya intelektual para tokoh pesantren di Kabupaten Banyuwangi. Komunitas Pegon yang terdiri dari para pemuda Nahdlatul Ulama (NU) tersebut, mendatangi pondok-pondok pesantren di Banyuwangi untuk berburu cerita dan menyalin arsip karya tulis para tokoh atau kiai.

Ayunk Notonegoro (28) pendiri komunitas Pegon, menunjukkan puluhan koleksi hasil berburu karya intelektual kiai yang tersimpan rapi di almari Kantor PCNU Banyuwangi. Ada yang berupa buku, kitab, manuskrip dan lembaran risalah tematik.

Hasilnya, komunitas pegon tidak hanya mengumpulkan data, namun mengkaji dan mengkisahkan melalui media sosial tentang Islam yang toleran sesuai ciri khas Nusantara.

"Jarang yang menceritakan kiprah intelektual tokoh pesantren. Jadi kami dokumentasikan jejak intelektual tentang kebangsaan, sosial msyarakat dan menelusuri kembali tentang ciri khas Islam Nusantara yang toleran dan akomodatif terhadap kebudayaan," ujar Ayunk kepada Merdeka Banyuwangi, Kamis (31/5).

Saat ini komunitas Pegon masih mengumpulkan 20 arsip intelektual para Kyai dari pondok pesantren. Ayunk mengatakan, masih ada ratusan karya yang hanya tersimpan rapi di rumah keluarga ahli waris dan belum bisa diakses untuk disalin. Komunitas Pegon, butuh melakukan pendekatan dan edukasi agar arsip bisa diakses untuk dipelajari bersama.

"Yang kami koleksi itu masih sangat sedikit, karna masih banyak koleksi yang hanya tersimpan di rumah keluarga ahli waris. Ada yang menganggap sebagai jimat juga, jadi hanya tersimpan, jumlahnya setahu saya ada ratusan," terangnya.

Ayunk, kembali menunjukkan beberapa karya kiai dalam bentuk syair-syair dan kajian, semua menunjukkan ajaran Islam khas Nusantara yang toleran. Karya berjudul Aqoid Seket, karya kiai Saleh, kemudian Ulan Handardari dan Zawahirul Adab karya kiai Zubairi, mengkaji bagaimana agama Islam bisa disebarkan melalui pendekatan budaya.

"Islam Nusantara dekat dengan tradisi, misalkan ada buka bersama, halal bihalal, kemudian mendakwah Islam lewat musik, tari dan wayang,"ujar Ayunk mencontohkan.

Komunitas Pegon, beranggota belasan anak muda berusia 20-an tahun. Para generasi millenial tersebut, mengkaji karya-karya para kiai dengan pendekatan akademis dan mudah diterima oleh pembaca. Lewat akun instagram @komunitas_pegon dan fanpage facebook @Komunitas.Pegon para pemuda menulis profil, resensi hingga kisah sejarah yang relevan dengan isu saat ini.

"Seperti kisah Kyai Abdullah Syafi’i asal Banyuwangi yang menjadi korban represif era Orde Baru, dia dipenjara karena dianggap mengganggu kampanye Partai Golkar. Jadi banyak kajian kontemporer,” katanya.

Beberapa naskah yang anonim, para Komunitas Pegon juga menggandeng kalangan akademisi untuk mengartikan naskah hingga mendeteksi usia arsip.

"Jika ada yang tidak kami pahami seperti dalam bentuk manuskrip untuk mengetahui usia kami deteksi lewat jenis kertas. Kami juga konsultasi dengan ahli filologi Ginanjar Syakban, Dosen Filolog Universitas Padjajaran, untuk mempelajari bahasa dalam sumber sejarah," terangnya.

Terbentuknya komunitas Pegon, kata Ayunk, bermula saat dia sedang menulis sejarah NU dan berhasil menemukan kisah intelektual yang menarik dibagikan. Sementara para kiai seringkali hanya diceritakan dari sisi kehebatan yang diluar nalar.

"Soalnya yang banyak diketahui masyarakat hanya dongeng tentang kehebatannya diluar nalar, seperti bisa menghilang, dan yang lain," ujar pria yang juga menjadi anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama ini.

Nama Pegon sendiri, diambil dari aksara khas yang ditulis para ulama di Jawa. Para pemuda ini coba mengenalkan kembali bahwa ada aksara pegon yang perlu diketahui agar bisa membaca naskah-naskah sumber sejarah.

"Pegon artinya menyimpang, aksara hijayah diaransemen Jawa. Nama aksaranya pegon, karena bukan hijaiyah, bukan hanacaraka, para kyai banyak menulis dengan aksar pegon," ujarnya.

Ke depan, komunitas Pegon bercita-cita bisa menjadi museum dan pusat kajian Islam Nusantara. Ayunk dan teman-temannya akan terus berburu jejak intelektual para kiai untuk menemukan kembali keakraban Islam Nusantara.

"Dan kami merujuk karya karya ulama Nusantara, segera dikumpulkan, dikaji, bagaimana Islam Nusantara dalam sisi intelektual. Sekaligus mengenal Kyai yang menarik diketahui publik, mulai dari karyanya hingga perjuangannya," katanya.

(es/mua)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI