BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI
Idul Adha

Momen Idul Adha, Banyuwangi jadi tempat berburu kambing etawa bermutu

"Tren pembeli sekarang banyak yang langsung datang ke kampung, makanya semakin jarang yang jualan di pinggir jalan".

Oleh: Mohammad Ulil Albab 21 Agustus 2018 14:08
kambing etawa

Merdeka.com, Banyuwangi - Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi tidak hanya dikenal sebagai sentra penghasil kopi robusta. Dari 3.400 Kepala Keluarga (KK) di Gombengsari, 75 persen masyarakatnya memiliki ternak kambing etawa.

Momen Idul Adha membuat Gombengsari menjadi salah satu tempat berburu hewan kurban oleh masyarakat Banyuwangi sendiri dan dari luar kota.

Amir (50) salah satu peterak dan pedagang kambing etawa Gombengsari, dalam sebulan terakhir rata-rata menerima kunjungan pembeli 5-10 orang.

"Tren pembeli sekarang banyak yang langsung datang ke kampung, makanya semakin jarang yang jualan di pinggir jalan. Mulai tanggal 15 kemarin saya sudah banyak pembeli yang datang," kata Amir saat ditemui di rumahnya, Lingkungan Kacangan, Gombengsari, Selasa (21/8).

Hingga siang ini, pada momen H-1 Idul Adha yang jatuh pada Rabu 22 Agustus, Amir sudah menjual 30 ekor kambing. Sementara stok yang tersisa tinggal 40 ekor.

"Kemarin ada 50 kambing yang saya jual, kalau habis stok saya ambil dari peterak sini. Rata-rata di sini tiap KK punya 10 kambing minimal," terangnya.

Tahun ini kata Amir, Banyuwangi banyak menjual kambing ke luar daerah mulai Jakarta, Pasuruan, dan Surabaya. Berbeda dengan tahun lalu, dia lebih banyak menjual ke pedagang lokal Banyuwangi.

"Sekarang Banyuwangi banyak menjual ke luar daerah. Kalau pembeli perorangan (bukan pedagang) banyak dari warga Banyuwangi sendiri. Tahun lalu saya jual ke pedagang lokal ada 300 ekor," kata dia.

Kambing dari Gombengsari, kata Amir, terkenal dengan tubuhnya yang gemuk dengan kualitas pakan yang terjaga. Kawasan perkebunan kopi rakyat di sana, membuat tanaman pendamping untuk ternak jenis rasidi sangat melimpah. Saat ini harga kambing untuk kurban dijual antara Rp 1,5 - 5 juta.

"Untuk jaga kualitas, makan harus penuh, minum dikasih gula merah, dimandikan sebulan sekali," kata dia.

Sementara itu, Hariyono Ha'o (40), Litbang Asosiasi Peternak Kambing Perah Indonesia (Aspekpin) Jawa Timur, yang juga peternak kambing etawa di Gombengsari, mengaku sudah banyak mendapat permintaan kambing dari luar kota sejak sebulan yang lalu.

"Satu bulan sebelum Idul Adha sudah banyak yang datang, sampai ratusan ekor per hari. Kemarin dari Jakarta ada permintaan 1000 ekor, tapi belum bisa memenuhi. Sekarang sudah mulai habis di sini," kata Hariono di kediamannya, Lingkungan Lerek, Gombengsari.

Ha'o melanjutkan, wilayah Banyuwangi selain di Gombengsari, kawasan barat seperti Glenmore dan Kalibaru juga menjadi sentra kambing.

"Dari 3.400 KK warga Gombengsari sendiri, peternaknya ada 75 persen. Rata-rata tiap KK punya 10 ekor kambing. Di Banyuwangi, wilayah Gombengsari paling banyak populasi kambingnya," terangnya.

Pariwisata membantu pemasaran kambing di Gombengsari

Tidak hanya peterak kambing, Ha'o juga menjadi pelaku pariwisata yang menyediakan paket berlibur. Rumahnya didesain menjadi tempat nongkrong yang enak, dilengkapi dengan fasilitas homstay.

"Ada paket petik kopi, sangrai, dan pengalaman memerah susu kambing. Jadi Pariwisata ini membantu mengenalkan Gombengsari jadi sentra kambing etawa juga," ujarnya.

Apalagi kata Ha'o, masyarakat Gombengsari juga rutin mengenalkan potensi lokalnya melalui Banyuwangi Festival dan even swadaya.

"Sering ada event, petik kopi sudah kali ketiga. Tahun lalu ada Gombengsari Farm Festival. Ada kegiatan kontes kambing juga, ini sangat mengenalkan kampung kami jadi sentra kambing," jelasnya.

Saat ini, para peternak kambing di Gombengsari tidak perlu lagi repot menjual kambingnya ke luar. Sebaliknya, sudah banyak pembeli dari Banyuwangi dan luar kota langsung datang ke Gombengsari.

"Jadi belinya langsung datang ke sini, melihat langsung. Keluarga saya sudah ternak kambing sejak tahun 1970-an, tapi baru tiga tahun ini terbantu dengan pariwisata. Sekarang di sini sudah ada 17 homstay," jelasnya.

Hal serupa juga dirasakan Amir, sebagai pedagang dan peterak kambing dia tidak perlu menjual ke luar atau di pinggir jalan.

"Sekarang sudah enggak ngirim lagi ke pinggir jalan. Pembeli sudah banyak yang langsung datang sendiri ke sini. Jadi pariwisata membantu sekali untuk mengenalkan potensi kambing di sini," katanya.

 

(es/mua)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI