BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI
Kopi Banyuwangi

Petik merah, masih jadi topik penting dalam festival proses kopi di Banyuwangi

Ada sekitar 10.833 hektar kebun kopi di Banyuwangi, 50 persen di antaranya merupakan kebun milik rakyat.

Oleh: Mohammad Ulil Albab 16 Oktober 2018 17:58
Festival Proses Kopi di Banyuwangi

Merdeka.com, Banyuwangi - Festival proses kopi yang digelar Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, mengundang ratusan barista dan pekebun kopi untuk belajar memperkuat cita rasa kopi dan meningkatkan harga jual.

Dalam festival tersebut, edukasi untuk petik merah saat panen, masih menjadi perhatian bersama untuk meningkatkan nilai jual harga kopi.

Tester Kopi Internasional, Iwan Subekti menyampaikan, Banyuwangi sudah dikenal menjadi sentra kopi sejak Kolonial Belanda.

Ada sekitar 10.833 hektar kebun kopi di Banyuwangi, 50 persen di antaranya merupakan kebun milik rakyat. Budaya petik merah dan proses pasca panen yang tepat, menurutnya perlu terus disuarakan agar harga kopi bisa lebih baik.

"Sejak kolonial Belanda Banyuwangi sudah dikenal sebagai salah satu penghasil kopi. Kita bisa lihat perkebunan-perkebunan kopi, itu peninggalan Belanda. Pekebun jangan kuatir, kopi punya prospek yang baik asal diproses dengan baik, harus petik merah," kata Iwan kepada para barista muda dan pekebun kopi yang hadir dalam Festival Proses Kopi di Rumah Kreatif Banyuwangi, Selasa (16/10).

Iwan mengatakan, untuk meningkatkan nilai jual kopi, selain petik merah juga ada serangkaian proses yang harus diperhatikan. Budaya menjemur di tanah, lantai harus dirubah menggunakan para-para agar kualitas rasa kopi optimal. Selain itu, harus memperhatikan kadar air kopi agar daya simpannya bertahan lama.

"Jangan bingung apa itu proses honey, full wash, yang penting petik merah matang, dijemmur maksimal 13 kadar air untuk ekspor agar daya simpan lama, jemur tidak ditanah lantai tapi di para-para. Saya yakin harga kopinya akan meningkat, minimal bisa lebih dari Rp 50 ribu per kilogram," tegasnya.

Masyarakat Banyuwangi kata Iwan, punya budaya yang kental dalam proses sangrai manual biji kopi menggunakan tungku dan wajan kreweng (dari tanah). Hal ini bisa diperkuat dengan kualitas bahwa sangrai kopi manual jangan sampai gosong agar cita rasanya tidak hilang.

"Menit kesepuluh disangrai menghilangkan kadar air, kemudian akan mulai keluar suara kletek-kletek, sampai keluar minyak langsung tiriskan dan dikipas. Biar aromanya gak keangkat hilang. Urusan sangrai orang bisa datang ke Banyuwangi, karena sudah jadi tempatnya," kata dia.

Sementara itu, Peneliti Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka) Indonesia, Yusianto Jamiran menambahkan, Banyuwangi terkenal dengan perkebunan kopi jenis robusta di Indonesia. Menurutnya ini peluang besar untuk menciptakan kedai-kedai baru dengan mutu olahan kopi yang bermutu. Dari situ perlu adanya komunikasi dan edukasi antara barista dengtan pekebun kopi.

"Harus petik merah, kalau enggak, harus dipisahkan antara yang kuning hijau dan merah," terangnya.

Apalagi saat ini sudah ada model pengolahan yang bisa mendongkrak nilai jual kopi. "Kalau dulu petik langung jemur. Sekarang ada model difermentasi. Rendam dulu sampai paling lama 7 hari, baru dijemur. 1 kilogram kopi arabika harganya bisa sampai 140 kilogram, itu green bean," jelasnya.

Beberapa peserta dari kalangan pekebun kopi yang hadir, ingin belajar bagaimana menciptakan pasar kopi yang lebih luas dan meningkatkan nilai jual kopi. Hasilnya, pekebun kopi ternyata hanya perlu melakukan proses panen dengan benar, seperti harus petik merah, sortasi, hingga penjemuran dengan benar.

Mohammad Fauzi (50) pekebun kopi asal Kecamatan Glenmore yang sudah merawat kopi sejak tahun 1997, mengaku masih kesulitan menjual kopi dengan harga mandiri. Soal harga dia masih belum bisa menentukan nilai jual tinggi, namun masih tergantung dengan tengkulak.

"Saya datang ke sini ingin belajar soal pemasaran, soalnya tantangan pemasaran dengan tengkulak. Kalau petani butuh duit cepat, jadi sulit kalau mau petik merah. Pembeli (tengkulak) nggak urus petik merah. Kalau yang petik merah itu perkebunan (PTPN)," terang Fauzi.

Sejauh ini, Fauzi mulai membuat kemasan bubuk kopi dengan branding Glen Raung Robhusta untuk meningkatkan nilai jual. Namun setelah mendapat meteri di Festival Proses Kopi, Fauzi yakin bakal terdapat pasar yang membutuhkan kopi dengan proses petik merah dan pengolahan tepat.

"Banyuwangi kan kedai kopinya sudah menjamur, saya diyakinkan bahwa bakal banyak yang berburu kopi bermutu," kata dia.

Saat ini, kata Fauzi, harga kopi di kalangan tengkulak sekitar Rp 20-25 ribu. "Itu tergolong, murah, biasanya bisa sampai Rp 30 ribu," ujarnya.

Sementara itu, peserta sekaligus pekebun kopi lainnya, Imam Mukhlisin asal Desa Telemung, Kecamatan Kalipuro sudah melakukan petik merah sejak empat tahun terakhir. Imam juga telah melakukan proses peremajaan pohon kopi untuk meningkatkan produktivitas, seperti yang disampaikan dalam materi Festival Proses Kopi.

"Per hektar rata-rata ada 850 pohon. Tiap tahunnya ada 10 pohonan yang diremajakan. Untuk meningkatkan nilai jual saya juga sudah punya produk sendiri namanya Kimmy Omah Kopi," katanya.

(es/mua)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI