BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI
profil

Pondok Pesantren Queen Assalam selamatkan nasib anak TKI terlantar

Saat ini, dari 225 santri, ada 75 anak dari TKI, korban kekerasan orang tua, anak jalanan, yatim dan dhuafa.

Oleh: Mohammad Ulil Albab 21 Februari 2017 11:27
Pesantren Queen Assalam

Merdeka.com, Banyuwangi - Puluhan anak-anak yang ditinggal orangtuanya bekerja sebagai TKI, terlihat sedang antre mengambil jatah makan di Pondok Pesantren Queen Assalam, Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi.

Dari 225 anak yang belajar di Pondok Pesantren Queen Assalam, 80 persennya merupakan anak dari TKI. Sebagian adalah anak jalanan, korban kekerasan orang tua, dan anak yatim.

Pengasuh Pondok Pesantren Quuen Assalam, Mahfud (44), mengaku sering harus mencari ide bagaimana bisa mencukupi kebutuhan Anak-anak asuhnya. Mulai kebutuhan makan hingga pendidikan formal dan informal di pondok pesantrennya.

Sebab dia tidak pernah memasang tarif biaya per bulan untuk belajar dan menetap di pondok.

"Dari kami tidak ada target bayar berapa. Ada yang bayar Rp 100 ribu per bulan. Semua makannya tiga kali sehari. Tapi ada yang bisa membayar Rp 500 ya Alhamdulillah bisa untuk bantu yang lain," kata Mahfud kepada Merdeka Banyuwangi, (21/2).

Mahfud mengamati kenakalan Anak-anak sebagian besar disebabkan kurangnya pendidikan dan kasih sayang dari orangtua. Dari situ dia ingin mendirikan pondok pesantren untuk putra-putri TKI.

"Dari kenakalan anak-anak bisa dikatakan 70 persen karena keberangkatan TKI. Ya karena sebagian besar Anak-anaknya dititipkan ke saudara atau embah. Banyak yang kurang kasih sayang," ujar Mahfud.

Pada tahun 2001, mulanya Mahfud dan istrinya Siti Mutmainah (43) hanya mendirikan tempat belajar pendidikan agama di rumahnya. Kemudian ingin mendirikan pondok pesantren untuk putra putri TKI pada 2010.

"Di samping rumah dulu banyak anak mabuk (miras). Kemudian saya tiap hari merenung, bagaimana kalau ditawari mengaji. Awalnya ada anak 8-10 yang belajar. Bapak sambi blantik sapi, saya sambil jualan gorengan," kata Mutmainah.

Saat ini, dari 225 santri, ada 75 anak dari TKI, korban kekerasan orang tua, anak jalanan, yatim dan dhuafa yang tinggal menetap di Pondok Pesantren Queen Assalam. Mereka berasal dari berbagai kota mulai Surabaya, Ponorogo, Gresik, Lampung, Papua, Kalimantan dan Bali.

Faisal (16), salah satu anak yang tinggal di Pondok Pesantren Queen Assalam, sejak kelas empat SD sudah putus sekolah usai ditinggal Ibunya bekerja sebagai TKW di Malaysia. Sedangkan Ayah Faisal mengalami gangguan jiwa.

"Sekarang dia sudah mau lepas anting, sudah hafal Al-Quran sampai juzz lima, dan mau sekolah," ujar Mutmainah.

Selain itu, Isabela (14), merupakan korban kekerasan orangtua. Dia pernah dipekerjakan sebagai pengemis di jalanan dan hanya melanjutkan pendidikan sampai kelas satu SMP. Dia masih ingat betul bagaimana ibunya memukul kepalanya hingga memar.

"Sampai ada bekas tangan di kepala sebelah kanan, karena ditampar. Sebelumnya saya di rumah singgah. Sekarang sudah lanjut sekolah lagi, kelas dua SMP," ujar Isabela.

Mutmainah mengatakan, sebagian besar anak-anak asuhnya memiliki masalah dan kisah masing-masing. Apalagi sebagian besar masih usia 5 tahun sampai belasan.

Agar mendapatkan kasih sayang layaknya anak sendiri, Mutmainah menempatkan anak asuh yang masih berusia di bawah 10 tahun, tinggal di samping kamar rumahnya sendiri.

"Sejak mulai mandi mau berangkat sekolah saya sudah mengawasi. TK sampai kelas SD 4 kamarnya berdampingan dengan kami. Sampai dandan, juga saya yang urus. Jadi ada metode pendekatan kasih sayang," ujarnya.

Selama ini, Mahfud dan Mutmainah dibantu oleh beberapa donatur. Dalam sehari, keuangan belanja kebutuhan dapur sekaligus uang jajan sekolah anak asuh mencapai Rp 350 ribu per hari. Sedangkan beras per hari bisa habis 15 Kg.

"Kalau enggak ada uang, kita jalan. Ada yang bantu dari toko, per bulan 750 dalam bentuk barang. Ada juga kenalan yang mau ngasih ikan buat lauk. Kalau mepet juga ambil di situ," ujar Mahfud.

Di sisi lain, Mahfud juga mencari jaringan ke sekolah yayasan bagaimana agar pendidikan anak asuhnya bisa sepenuhnya gratis.

Pada awal Januari lalu, Menteri Ketenagakerjaan RI bersama Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar berkunjung ke Pondok Pesantren Queen Assalam untuk mendukung pendirian pendidikan tingkat SMA.

"Kedepannya, ingin mendirikan SMK. Sekarang masih mengurus izinnya. Kemarin sudah dapat support dari bupati dan menteri ketenagakerjaan," ujar dia.

(mt/mua)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI