BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI
Kesehatan

Puskesmas di Banyuwangi jadi destinasi wisata kesehatan karena program Sakina

"Saya mulai memimpin Puskesmas Sempu tahun 2012, di mana selama 2 tahun ada 16 orang ibu hamil dan 28 bayi meninggal dunia".

Oleh: Endang Saputra 5 Oktober 2018 17:54
Bidan Kabupaten Pacitan menyimak penjelasan kader Puskesmas Sempu

Merdeka.com, Banyuwangi - Tidak hanya pesona alam dan kebudayaan yang membuat pengunjung datang ke Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, melainkan juga prestasi pelayanan kesehatannya. Misalnya Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Sempu yang berhasil menekan angka kematian ibu hamil dan janin sampai 0 orang per tahun, padahal bertanggung jawab atas kawasan yang cukup sulit hingga lereng Gunung Raung.

Kepala Puskesmas Sempu Hadi Kusairi mengatakan, kunjungan ke tempat wisata dan studi banding kesehatan di Banyuwangi saling melengkapi. Dia mengatakan daya tarik pelayanan di puskesmas yang dipimpinnya muncul dari inovasi program yang dimulai tahun 2015.

"Saya mulai memimpin Puskesmas Sempu tahun 2012, di mana selama 2 tahun ada 16 orang ibu hamil dan 28 bayi meninggal dunia. Sehingga kami berkolaborasi dengan masyarakat, berusaha mendampingi ibu hamil agar terawat dan selamat," kata Hadi kepada Merdeka Banyuwangi,Jumat (5/10).

Setelah berhasil menekan angka kematian ibu hamil dan janin sampai 0 sejak 2016 sampai saat ini, Puskesmas Sempu mendapatkan berbagai penghargaan. Salah satunya program Setop Angka Kematian Ibu Hamil dan Anak (Sakina) yang menjadi 35 besar dalam Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) nasional hingga menyedot perhatian publik.

Sakina didukung program-program lain seperti pemburu ibu hamil risiko tinggi (bumilristi) yang melibatkan tukang sayur keliling dan motivator Asi dan Gizi yang melibatkan para kader puskesmas. Mereka telah mendapatkan banyak kemampuan dari para bidan dalam pelatihan-pelatihan sehingga memahami masalah risiko ibu hamil dan perihal gizi.

Hari ini rombongan bidan koordinator dan petugas Dinas Kesehatan (Dinkes) dari Kabupaten Pacitan datang ke Banyuwangi. Sebanyak 38 orang datang ke Puskesmas Sempu untuk mengetahui upaya mencegah kematian bumilristi, sedangkan 58 orang lain ke Puskesmas Wongsorejo untuk belajar mengenai pengelolaan bantuan operasional kesehatan.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dinkes Pacitan Ratna Susi Rahayu mengatakan, sehari sebelumnya mereka telah ke Bangsring untuk berwisata di destinasi konservasi laut itu. Beristirahat setelah berbelanja ke pusat oleh-oleh, hingga hari ini melakukan studi banding dan akan pulang ke Pacitan malam nanti.

"Dibandingkan jumlah penduduk dan luas wilayah, lebih luas Banyuwangi daripada Pacitan. Juga banyak inovasi bidang kesehatan yang bisa kita pelajari di sini," kata dia.

Ratna mengatakan memutuskan untuk studi banding ke Banyuwangi karena melihat laporan keuangan bantuan operasional kesehatan puskesmas Banyuwangi yang lebih baik dibandingkan daerah lain. Selain itu di Pacitan pada tahun 2017 ada 7 orang ibu hamil yang meninggal dunia.

Dia berharap angka itu bisa ditekan setelah mengadopsi program-program inovasi di Puskesmas Sempu. Masing-masing peserta studi banding akan menyusun laporan, termasuk apa yang bisa diterapkan di Pacitan mempertimbangkan kondisi di masing-masing wilayah kerja puskesmas.

"Bulan depan dievaluasi mana yang bisa diterapkan, apa kendalanya, bagaimana strategi jangka pendek dan jangka menengah. Walau tidak sama persis, bisa ditambahi ide dan potensi masing-masing daerah akan kita lihat mana yang bisa diambil untuk Pacitan," katanya.

(es)

Laporan: Ahmad Suudi

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI