BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI
Pertanian

Saat anak-anak muda Banyuwangi belajar bertani

Mereka mengikuti pelatihan membuat mikro-organisme agent hayati di area Festival Agro Expo 2017.

Oleh: Mohammad Ulil Albab 20 Mei 2017 15:07

Merdeka.com, Banyuwangi - Puluhan petani generasi muda dengan rentang usia 25-30 tahun sedang asyik mengikuti pelatihan membuat mikro-organisme agent hayati di area Festival Agro Expo 2017, di Kelurahan Kebalenan Kabupaten Banyuwangi, Jumat (19/5). Para peserta ini diberi ruang edukasi agar petani muda di Banyuwangi bisa lebih optimis dan bersaing secara global.

Selama Festival Agro Ekspo berlangsung mulai 13-20 Mei, beragam edukasi pertanian dan peternakan diberikan kepada masyarakat di lahan seluas 9 hektare. Mulai dari cara pembibitan, penanaman, perawatan hingga pasca panen.

"Kemarin soal pembenihan, kemudian gesah tani. Untuk hari ini pelatihan pengembangan agent hayati untuk generasi muda," ujar Sudarman, Kasie Bina Usaha dan Kelembagaan SDM Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi.

Sudarman mengatakan, untuk pelatihan agent hayati memang menargetkan generasi muda, agar bisa meneruskan masa depan pertanian dan ketahanan pangan di Banyuwangi. "Sasaran generasi muda agar menjadi penerus petani kita, karena bisa lebih inovatif dan mau berkembang. Petani selama ini identik dengan kumuh, kurang menjanjikan, sementara permintaan pasar global minta yang aman konsumsi, lebih ke organik," ujarnya.

Melalui agent hayati, masa depan pertanian dikelola dengan penggunaan pupuk sampai pestisida organik. Sehingga lebih menyehatkan, ekonomis, ramah lingkungan dan nilai jual hasil panennya lebih tinggi.

Seperti mengatasi serangan hama, sistem agent hayati memberikan solusi dengan membuat predator alami, agar siklus rantai makanan bisa tetap terjaga.

Koordinator Pengendali Organisme Tanaman Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, Basori yang turut serta membantu pelatihan mengatakan, penggunaan pestisida kimia mengakibatkan semua hama dan mikro-organisme menjadi mati. Sehingga, rentan terjadi serangan hama secara massal yang sulit dihindari.

Basori melanjutkan, dalam sistem pertanian ramah lingkungan, hama tetap diperlukan selama tidak merugikan secara ekonomis.
Dampak dari serangan hama wereng terhadap tanaman padi di Banyuwangi akhir-akhir ini, menurutnya akibat penggunaan pestisida kimia yang membunuh musuh alaminya.

"Misalkan wereng dimakan laba-laba. Artinya laba-laba juga harus ada dalam pertanian. Tapi secara ekonomis tidak merugikan. Kalau pakai pestisida, semua akan mati," jelasnya di sela materi praktek pembuatan mikro-organisme.

Sistem kerja mikro organisme yang dibuat dalam pelatihan agent hayati, untuk mengendalikan mikro-organisme lain yang merugikan secara ekonomis. Pengendalian secara alami ini dilakukan agar ekosistem alam bisa seimbang.

Seperti dalam sistem pertanian tradisional nenek moyang sebelum menggunakan pupuk dan pestisida kimia, namun tetap bisa menghasilkan panen yang menguntungkan dikarenakan keseimbangan mikro-organismenya masih terjaga. "Kalau pakai pestisida kimia, semua akan mati, dan bisa terjadi ledakan. Seperti serangan wereng, banyaknya serangan tikus. Semua yang dialam ada musuh alamnya," lanjutnya.

Selain itu, Bustomi (27) salah satu peserta petani muda Asal Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah mengaku mendapatkan pelajaran membuat pupuk hayati. Dia tertarik karena lebih aman, murah, dan tidak berisiko. "Sebelumnya belum pernah pakai. Dan ingin saya kembangkan di daerah saya. Karena di rumah saya, masih banyak petani yang pakai pestisida kimia," jelas Bustomi.

Bustomi juga mengakui bawah petani di Banyuwangi sedang mengeluhkan serangan hama wereng dalam tanaman padi. Dia sendiri sudah sering mengalami serangan hama tersebut, yang mengakibatkan target panen padi menurun. "Saat ini yang sulit dikenalkan hama wereng. Padi saya kemarin juga diserang," ujarnya.

Sebagai generasi muda yang tekun menjadi petani, lulusan SMK jurusan otomotif ini memutuskan menjadi petani karena sudah turun temurun dari orang tuanya. "Kehidupan petani dari orang tua. Saya senang saja jadi petani, gak perlu malu. Menurut saya, pemuda harusnya bangga jadi tani, soalnya sampai kapanpun petani akan selalu diperlukan," ujar dia.

(mh/mua)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI