BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI
Seniman

Seniman Korsel dan Filipina saling kenali budaya di Banyuwangi

"Ini kan bagus, mereka menampilkan tarian khas negara masing-masing dengan karakter yang kuat-kuat".

Oleh: Endang Saputra 28 Agustus 2018 10:47
Seniman Korsel

Merdeka.com, Banyuwangi - Sebanyak 20 orang seniman dari Filipina dan 17 orang dari Korea Selatan (Korsel) datang ke Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur, untuk bertukar wawasan budaya masing-masing negara. Acara ini diinisiasi CIOFF Indonesia yang merupakan organisasi non-profesi dan organisasi budaya internasional, sesuai pengertian yang ditentukan oleh UNESCO, yang juga sudah menjadi partner resmi UNESCO.

Mereka tinggal beberapa hari di Banyuwangi, mengunjungi beberapa tempat wisata termasuk Kawah Ijen, mendatangi beberapa festival seperti Seblang Bakungan semalam, hingga menampilkan karya tari dari masing-masing negara, di Sanggar Dewi Sri, Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Senin (27/8).

Mula-mula kelompok penari Yang Chan Hee Korsel yang menampilkan tarian Buchae menggunakan kipas, drum kecil serta baju khas mereka dengan atasan putih dan rok mengembang berwarna cerah. Kemudian tim tari Filipina yang merupakan mahasiswa Universitas Santo Thomas yang menampilkan 2 tarian.

Bila wanita-wanita Korsel memperlihatkan keanggunan mereka, pemuda-pemudi Filipina justru memperlihatkan tarian energik dan atraktif. Tarian pertama yang mereka tunjukkan berjudul Binasuan yang biasa digunakan untuk menguji orang-orang di negaranya yang mabuk, bisa atau tidak menjaga keseimbangan gelas berisi air, setelah minum-minuman keras.

Bukannya gampang, penari wanita meletakkan gelas berisi air di atas kepala tanpa perekat sambil membawa 2 gelas di tangan kanan dan kirinya. Mereka menari berputar-putar mirip dansa, merebahkan diri sambil berguling dengan gelas tetap di kepala tanpa pengaman, sampai memasukkan gelas di tangan ke bawah ketiak tanpa menumpahkan isinya.

Sementara 3 orang penari laki-laki masuk ketika penari wanita merebahkan diri. Segelas air berada di sudut lengan yang diangkatnya setinggi wajah dan dibawa sambil berputar-putar. Lalu gelas dipindahkan ke punggung telapak tangan yang menghadap ke atas dan kembali menari berputar-putar.

Klimaksnya penari laki-laki meletakkan gelas di dahi yang mendongak sambil duduk. Bertiga mereka merebahkan diri sampai terlentang, mengambil gelas dengan kedua lutut dengan perut tertekuk. Masih dengan kedua lutut, mereka meletakkan gelas di lantai atas kepalanya sambil menggulung diri mundur hingga didapati posisi duduk menghadap gelas masing-masing. Belum selesai, mereka harus mengembalikan gelas ke atas dahi sendiri hanya menggunakan kedua lutut.

Mochammad Nizar perwakilan dari CIOFF Indonesia mengatakan, budaya Indonesia sudah sangat kaya, namun alangkah baiknya bila menambah wawasan tentang kebudayaan bangsa lain. Dia juga mengatakan acara ini bertujuan agar sejumlah seniman tari dari luar negeri itu mengenali tari budaya Gandrung Banyuwangi.

"Ini kan bagus, mereka menampilkan tarian khas negara masing-masing dengan karakter yang kuat-kuat. Dan anak-anak yang biasa latihan Gandrung di sanggar ini melihatnya sendiri dan menjadi tambahan wawasan bagi mereka," kata Nizar.

Penampilan kedua kelompok mahasiswa Filipina tak kalah ceria dengan tarian berjudul Tinikling yang memperlihatkan gerakan burung-burung sedang menghindari jebakan petani di sawah. Dua potong bambu panjang dengan cat warna-warni dipegang 2 orang di masing-masing ujungnya. Mereka hentak-hentakkan kedua bambu, kadang terbuka yang cukup untuk kaki masuk, kadang juga menghimpit yang dalam cerita menjadi jebakan penjepit kaki-kaki burung.

Sepasang penari berperan sebagai burung saling berhadapan dan berpegangan, sambil melompat-lompat kecil memasukkan kaki di antara 2 bambu atau mengeluarkannya untuk menghindari jepitan. Gerakan seperti itu juga bisa dilihat di Indonesia dalam permainan Rangku Alu atau Tari Tongkat, namun jumlah bambunya 4, bukan 2.

"Kami ingin memperlihatkan energi positif yang kuat dan kehidupan yang ceria dan menyenangkan," kata Stevhen dari Universitas Santo Thomas.

Stevhen mengatakan tari Gandrung yang dibawakan anak-anak Banyuwangi sangat berkelas, eksotis dan sangat menghibur. Mereka juga kagum pada vokalis cilik yang berhasil tampil menyanyikan gending Osing dengan nada-nada tinggi.

Budayawan Banyuwangi Aekanu Hariyono menjelaskan kepada seniman luar negeri itu, Banyuwangi menampilkan penari Gandrung dan panjak atau pemain alat musik cilik. Hal itu untuk memperlihatkan bahwa daerah di ujung timur Pulau Jawa itu melatih kesenian masyarakat sejak mereka masih kecil.

"Kita juga belajar dari mereka yang tampil di luar negeri dan ternyata bertanggungjawab pada perlengkapan sendiri, setelah tampil mereka rapihkan sendiri semuanya. Manajemen pertunjukan mereka bagus, dan ini menjadi pelajaran bagi kita," katanya.

 

(es)

Laporan: Ahmad Suudi

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI