BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. INFO BANYUWANGI
Pariwisata

Syukron berhasil pikat wisatawan asing dengan kuliner tradisional

"Beberapa hari lalu ada turis dari Belanda dan India yang penasaran, dan makan dengan lahap kuliner bekamal," kata Syukron.

Oleh: Mohammad Ulil Albab 8 Februari 2018 14:36
Syukron Sukur (30), warga Desa Gintangan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi

Merdeka.com, Banyuwangi - Banyuwangi sangat dikenal dengan wisata alamnya yang menakjubkan misalnya gunung ijen, pulau merah,watu dodol dan sebagainya. Dan juga Banyuwangi mempunyai tempat wisata kuliner favorite yang wajib Anda kunjungi bila Anda berkunjung atau sedang berada di Banyuwangi untuk menikmati salah satunya kuliner bekamal.

Pertumbuhan pariwisata di Banyuwangi yang sangat pesat dimanfaatkan oleh Syukron Sukur (30), warga Desa Gintangan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi memiliki inisiatif untuk mencoba menjual kuliner kuno bernama bekamal. Kuliner ini, muncul dari kebiasaan masyarakat Using mengawetkan daging dengan berbagai rempah-rempah.

Dengan usahanya, Syukron tidak menyangkan banyak warga Banyuwangi di luar kota memesan untuk bernostalgia merasakan kuliner bekamal. Selain itu wisata asing pun tidak ketinggalan untuk merasakan nikmatnya kuliner tersebut.

"Beberapa hari lalu ada turis dari Belanda dan India yang penasaran, dan makan dengan lahap kuliner bekamal. Kini, rumahnya mulai didatangi wisatawan bila ingin menikmati kuliner bekamal," ujar Syukron saat ditemui di rumahnya, Rabu (7/2).

Desa Gintangan, memang menjadi salah satu destinasi wisata di Banyuwangi karena mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai perajin berbahan bambu. Mulai kerajinan bambu perlengkapan dapur, hiasan interior rumah hingga busana dari bambu, namun Syukron lebih mengembangkan kuliner tradisional tersebut.

Bekamal, diolah dari daging sapi atau ayam yang diberi garam, gula merah dan berbagai aneka rempah nusantara. Setelah semua dicampur, daging harus ditaruh di tempat yang rendah oksigen atau tertutup rapat selama satu minggu untuk proses fermentasi. Hasilnya, daging mentah bekamal, bisa bertahan hingga 4 bulan.

"Saya kadang bikin 4-6 kilo daging, belum sampai empat bulan sudah habis,"katanya.

Masyarakat Using, kata Syukron, biasa mengolah bekamal saat Hari Raya Idul Adha, ketika semua orang mendapatkan daging dari hewan kurban.

Bekamal, punya arti yang diambil dari bahasa Jawa dan Using, biar amalnya penuh. "Dari pada banyak daging yang tersisa, biar tidak terbuang ya dibikin bekamal. Proses fermentasi seminggu. Dan semakin lama, ini kandungan kolesterolnya semakin hilang," jelasnya.

Kuliner tradisional ini, diperkirakan sudah ada sejak abad 16 saat Agama Islam mulai masuk ke kerajaan Blambangan-yang merupakan pecahan kerajaan Majapahit terkahir di Pulau Jawa.

"Orang dulu kalau punya daging, pas kurban. Dan kemudian bekamal ini diperkirakan sejak Islam masuk ke kerajaan Blambangan," ujarnya.

Bekamal ini, punya rasa khas. Dari proses fermentasinya, mengeluarkan aroma segar. Soal rasa daging bekamal cenderung asam bercampur asin. Cara olahnya, seringkali dibumbu rempah bersama irisan tempe, kemudian dibungkus memanjang bersama nasi menggunakan daun pisang. Sementara proses memasaknya, nasi bekamal dimasukkan ke dalam bambu segar untuk kemudian dibakar. Aromanya pun, sudah menggoda sebelum ditiriskan. Bila ingin mencoba, pengunjung maupun wisatawan bisa mampir ke Banyuwangi, khususnya di Desa Gintangan.

(es/mua)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI