BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. KOMUNITAS
Kesehatan

Kisah kepedulian warga Gendoh, donor darah selama 30 tahun

Masyarakat Gendoh sudah menyumbangkan darahnya untuk kemanusiaan sebanyak 9.126 kantong.

Oleh: Mohammad Ulil Albab 3 Agustus 2016 15:15

Merdeka.com, Banyuwangi - Sekitar 30 Km dari kota Banyuwangi, tepatnya di Desa Gendoh, Kecamatan Sempu, ada satu komunitas relawan donor darah yang sudah berusia 30 tahun. Bila ditotal, masyarakat Gendoh sudah menyumbangkan darahnya untuk kemanusiaan sebanyak 9.126 kantong, dari 111 kali kegiatan donor darah.

Komunitas relawan donor darah bernama Komunikasi Remaja Antra Lingkungan (Koral) ini, mulanya hanya ruang silaturahmi warga Gendoh. Semacam radio komunitas. Semangat warga Gendoh untuk mendonorkan darahnya, berawal dari satu peristiwa yang tidak ingin terulang kembali.

Masih segar dalam ingatan Sumarno (63), generasi pertama Koral dari enam temannya masih tersisa. Pada Bulan Desember tahun 1986, warga Gendoh dibuat bingung ketika ada anggota keluarga yang membutuhkan darah, namun stok darah di Unit Transfusi Darah (UTD-PMI) Banyuwangi habis.  

Ditemui dalam acara Gathering Penggerak Donor Darah Sukarela oleh UTD PMI Banyuwangi di Hotel Ketapang, Sumarno ditemani oleh Prastono (46), Sekertaris Koral. Keduanya menjelaskan, dengan adanya peristiwa tersebut, Sumarno dan teman-temannya membuat suatu kelompok relawan donor darah. Anggota awalnya, berjumlah 44 orang.

“Dengan adanya peristiwa itu, beliu-beliau ini ingin membuat suatu kelompok. Mengajak teman-teman agar berdonor darah. Tujuannya, apabila ada keluarga yang membutuhkan darah itu mudah dengan adanya kelompok,” ujar Prastono, pekan lalu kepada Merdeka Banyuwangi.

Sejak saat itu, warga Gendoh mulai bergandengan tangan. Membuat acara sederhana di desanya, bekerjasama dengan UTD-PMI Banyuwangi untuk mendonorkan darahnya. Semua dilakukan dengan sukarela, tanpa dibayar atau meminta imbalan uang. Hingga saat ini, tujuannya murni membantu donor darah bagi siapapun yang membutuhkan pertolongan.

“Mulai tahun 1986 sampai kegiatan donor terakhir 17 Juli 2016, kami non provit. Tidak mengambil keuntungan. Sampai sekarang pun, sebagai organisasi atau kelompok, kami nol rupiah dana yang kami punyai. Murni swadaya,” jelas Prastono.

Kegiatan donor darah rutin dilaksanakan dengan swadaya tiap tiga bulan sekali ini, juga mengajak generasi muda. Siapun yang datang, ke acara donor pasti akan diberi konsumsi. Meskipun tidak mendonorkan darahnya. Tujuannya, sebagai bentuk pendekatan, pengenalan agar mau turut serta donor darah. Dan tentunya, mempererat persaudaraan lewat donor darah yang sudah berlangsung selama 30 tahun.

“Konsumsi itu untuk mengembalikan energi dan rasa persaudaraan tadi.  Karena susah, 30 tahun mempertahankan persaudaraan, untuk teman-teman anggota yang tadinya sudah 300. Karena sudah uzur, yang tua-tua sudah banyak meninggal. Sehingga anggotanya sekarang tinggal 150. Lah ini mulai regenerasi muda lagi,” jelas generasi kedua Koral ini.

Sebagai bentuk regenerasi, kelompok Koral mulai mengenalkan proses donor darah kepada generasi muda. Anak-anak di bawah umur juga diajak dalam kegiatan donor, agar bisa mengenal sejak dini proses donor darah.

“Sebagian besar takut pada jarum, ketika sudah melihat sejak dini, tidak akan takut lagi. Ujian pertama, itu adalah tes darah. Yang penting tahu golongan darahnya,” tutur pria yang sudah mendonorkan darahnya sebanyak 33 kali ini.

Tingginya rasa kepedulian

Lahirnya Koral, ternyata tidak hanya melalui kegiatan donor saja. Warga Desa Gendoh, Kecamatan Sempu Banyuwangi ini, juga bersedia membantu siapapun yang membutuhkan darah.

“Dan satu lagi, kami pengurus sangat salut pada anggota. Walaupun orang Pesanggaran (Banyuwangi Selatan) minta darah pengganti, jam 12 malam pun, anggota itu mau diajak untuk ke UTD-PMI. Kami tidak mengenal waktu. Walaupun tempat kami 30 Km dari Banyuwangi, anggota kami tetap berangkat. Itu sudah 30 tahun seperti itu,” jelas Prastono.

Tidak hanya bersedia membantu masyarakat Banyuwangi, Warga Desa Gendoh ini juga pernah menyumbangkan darahnya untuk pasien yang ada di Kabupaten Jember. “Karena Jember kosong. Pasien ada di Jember. Otomatis berangkat ke Jember. Ini laki laki, perempuan sama,” tuturnya.

Bila Anda membutuhkan bantuan donor darah, bisa berkunjung ke Desa Gendoh. Tepatnya di alamat rumah Sumarno, di Dusun Klontang, RW 3, RT 1, Desa Gendoh.

“Kami memang tidak punya dana organisasi sama sekali. Biar saja menjadi organisasi kampungan. Tetapi tetap eksis dan bias berguna bagi masyarakat,” jelasnya.  

Sebagai generasi pertama, Sumarno sudah mendonorkan darahnya sebanyak 110 kali. Dia pernah mendapatkan penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2013 silam.

“Waktu itu yang dari Banyuwangi itu dua orang. Kalau dari Jawa Timur itu sekitar 555. Terbanyak Jawa Timur itu. Cuma dari Banyuwangi ada dua, salah satunya saya,” imbuh Sumarno.

(mh/mua)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI