BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. KOMUNITAS
Komunitas

Komunitas Aka Tuli, Ajarkan Pahami Bahasa Isyarat Bisindo di Banyuwangi

"Termasuk ada orang tua yang datang bersama anaknya yang tunarungu, untuk belajar".

Oleh: Mohammad Ulil Albab 9 November 2018 17:03
Maulana Aditya dan Jaepry Minangka

Merdeka.com, Banyuwangi - Maulana Aditya dan Jaepry Minangka tampak aktif memberikan materi dasar Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) kepada puluhan guru pendidikan inklusi dan sekolah luar biasa di Kabupaten Banyuwangi.

Keduanya tergabung dalam anggota komunitas Arek Tuli Malang (Aki Tuli) untuk mensosialisasikan Bahasa Bisindo.

Maulana dan Jaep memberi materi dasar mulai mengenal huruf dengan isyarat tangan, hingga isyarat untuk komunikasi yang biasa digunakan sehari-hari.

Agar mudah dipahami oleh para guru yang non tuli atau dengar-istilah untuk menyebut bukan penyandang tuli dan wicara- Maulana dan Jaep dibantu oleh penerjemah verbal, Nisrina Firdausi, voulentir AKI Tuli.

Nisrina mengatakan, di Indonesia terdapat dua bahasa isyarat yang digunakan oleh masyarakat tuli dan non-wicara, yakni antara Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (Sibi) dengan Bahasa Isyarat Indonesia, Bisindo.

Namun kata, Nisrina di kalangan penyandang tuli Bahasa Bisindo lebih mudah dipahami.

"Bisindo, lebih pakai gestur dan ekspresi, bahasanya diringkes. Karena mereka lebih peka dengan visual, Bisindo lebih bermakna dan mudah dipahami," kata Nisrina disela mengajar para guru Inklusi daan SLB di Kelurahan Sobo, Banyuwangi, Jumat (9/11).

Sementara bahasa isyarat Sibi, diciptakan oleh orang-orang dengar, atau orang non tuli agar bisa memahami kosa kata verbal, kata per kata dengan mimik bibir.

"Sibi diciptakan orang hiring, supaya bisa mengetahui kosa kata verbal. Dan banyak teman-teman (tuli) tidak libatkan, karena mereka bedasarkan visual. Jadi tadi dikasih pilihan, banyak yang memilih bahasa Bisindo, lebih mudah dipahami, dan bahasa ini terus berkembang," katanya.

Kominitas AKA Tuli sendiri, katanya, terbentuk pada 2013 dengan voulentir non tuli 20 orang dan anggota 40 orang tuli.

"Untuk penyebutan kami memilih kata tuli, nontuli, dengar dan tidak dengar, bukan tuna rungu dengan perbandingan orang normal. Jadi lebih menyebut orang dengar, bukan orang normal," jelasnya.

Sementara itu, Maulana dan Jaep saat ditemui langsung mengenalkan namanya dengan menyebutkan ejaan huruf Bisibi lewat kedua tangannya.

Jaep Minangka yang akrab dipanggil Jefri, saat ini sedang menyelesaikan tugas akhir di Fakultas Pertanian. Sementara Maulana Aditya yang akrab dipanggil Adit, telah menyelesaikan studi D3 Teknik Informasi Komputer Universitas Brawijaya.

Keduanya, kata Nisrina, sudah menjadi makanan sehari-hari untuk memasyarakatkan Bahasa Bisibi mulai di komunitas, kampung hingga di pedesaan.

"Sudah jadi makanan sehari-hari. Harapannya Bahasa Bisibi bisa dipahami semua lapisan masyarakat, karena bahasa jadi pintu awal untuk masa depan mereka. Kalau tidak teraentuh pendidikan, biasanya mereka hanya mengembangkan bahasa isyaratnya sendiri, tapi hanya bosa dipahami oleh dirinya sendiri," terangnya.

Sementara itu, Andreina Marcelina (37) salah satu pendiri Yayasan Matahari, Banyuwangi yang fokus mendidik Anak-anak berlebutuham khusus mengatakan, kegiatan edukasi tersebut dia selenggarakan untuk penguatan SDM para pengajar si internal Yayasan mereka. Ternyata, banyak guru SLB dan pendidikan insklusi lain di Banyuwangi yang ingin bergabung.

"Termasuk ada orang tua yang datang bersama anaknya yang tunarungu, untuk belajar," katanya.

Di Yayasan Matahari sendiri, kata Nina, terdapat 6 anak dengan kebutuhan khusus tuli yang butuh diberi edukasi bahasa isyarat, sementara belum terdapat guru yang berkompeten.

"Kalau tidak mengetahui bahasanya sulit untuk mengetahui IQ anak," katanya.

(es/mua)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI