BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. KOMUNITAS
Seni dan Budaya

Para pegiat street art kampanyekan anti vandalisme

Ada yang mengajak agar mencintai lingkungan lewat teks dan gambar "malu membuang sampah sembarangan".

Oleh: Mohammad Ulil Albab 19 Agustus 2016 14:36

Merdeka.com, Banyuwangi - Para seniman street art dari beberapa kota di Indonesia baru saja melakukan tour untuk menggambar bersama. Mulai dari kota Pasuruan, Situbondo, Jember dan terakhir di Banyuwangi. Mereka berkarya di ruang publik melalui seni visual graviti. Mengekspresikan pesan-pesan sosial yang mendidik sesuai ekspresi masing-masing personal di ruang publik.

Selain itu, kegiatan plesiran ini juga ingin mengkampanyekan agar para seniman street art harus melampaui proses izin kepada pemilik tembok atau media gambar bila ingin berkarya. "Tujuannya sebagai wadah para pelaku seni jalanan di Banyuwangi, agar tidak mencoret-coret tembok tanpa izin dari pemilik. Menghilangkan aksi vandalisme. Soalnya itu membuat kotor, merusak," ujar Ferdian Anwar (25), ketua panitia dari komunitas street art Baft Banyuwangi, Kamis (18/8).

Acara yang bernama Street Art Plesiran ini sampai di Banyuwangi pada Minggu (14/8). Beberapa pegiat street art atas nama komunitas maupun personal seperti, Gusbill, Echo Morden, Aru, Eksumoreys, Chamocs, Novit Trisna, dari Jakarta, kemudian komunitas Forteslicks dari Solo dan yang lainnya saling menunjukkan kreativitas menggambar bersama di tembok RTH Maron, Genteng.


Sekitar 30 meter, sepanjang tembok RTH Maron Genteng, para pegiat street art ini saling mengekspresikan pesan yang ingin disampaikan. Ada yang mengajak agar mencintai lingkungan lewat teks dan gambar "malu membuang sampah sembarangan" ada pula yang bertema nasionalisme seperti gambar dengan simbol tangan memegang bendera merah putih.

Acara street art ini sendiri, kata Ferdian sudah mendapat izin dari pihak kecamatan, Polsek dan DKP Banyuwangi. "Bahwa kita menggambar itu bisa dapat izin, kalau mau izin baik-baik. Tidak perlu mengotori tembok orang. Bahwa karya yang dinilai bagus dan benar, harus dapat izin dari pemilik. Mereka sangat mendukung, asal tidak SARA dan bisa mendidik," ujar Ferdian.

Ferdian sendiri sebagai pegiat street art di Banyuwangi, seringkali menemui aksi vandalisme atau corat coret di tembok-tembok ruang publik tanpa izin dan tidak bertanggung jawab. Seringkali berupa kata-kata kotor, berbau pornografi dan menyuarakan kebencian.

"Soalnya sering menemui ada yang menggambar tanpa izin. Misalkan tulisan-tulisan vandal maupun gambar yang sifatnya olok-olokan. Kata-kata kotor yang saling menjatuhkan itu banyak. Sebenernya kalau niatnya bagus dan enak dipandang banyak yang mau memberi izin," ujarnya.

Bahkan, bila niat menggambar baik dan bisa dinikmati semua orang di ruang publik, maka akan mendapat apresiasi. Misalkan disuruh menggambar di cafe, gedung sekolah mulai TK, SD sampai SMA.

Sementara itu, Gusbill seniman street art asal Jakarta yang turut hadir mengungkapkan, melalui kegiatan tour menggambar bersama ini semoga para pegiat street art di daerah khususnya di Banyuwangi bisa lebih berkembang. "Semoga para pegiat street art lokal di setiap daerah yang disinggahi bisa mengambil dari para street artist dalam skala skill, konsep, dan tehnik praktek pembuatan karya yang sungguh-sungguh sekalipun medianya di jalanan," tutur Gusbill dalam keterangan tertulisnya.

Gusbill melanjutkan, melalui seni mural dan grafiti, generasi muda yang memiliki kreativitas menggambar bisa menyampaikan pesan lewat gambar sesuai realitas yang ada di sekitarnya, dengan terbuka dan bertanggung jawab.

"Mural graffiti di area publik itu sangat tepat karena dapat komunikasi langsung ke masyarakat umum dalam penyampaian pesan yang diusung melalui bahasa visual," tuturnya.

"Artinya pegiat street art sejati itu walaupun bermedia tembok jalanan yang kumuh rusak tapi dalam menciptakan karya tetap serius dan maksimal," imbuhnya.

(mh/mua)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI