BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. KULINER
kuliner

Menikmati Geseng Bangsong, kuliner entok asam-pedas khas Banyuwangi

"Ini adalah makanan khas Dusun Wijenan Kidul, kalau dusun atau desa lain masak rasanya sudah beda," kata Apandi.

Oleh: Mohammad Taufik 24 Januari 2018 15:24
Geseng Bangsong khas Banyuwangi

Merdeka.com, Banyuwangi - Banyuwangi adalah tempat berburu makanan yang pas untuk pecinta kuliner. Dari yang paling modern di restoran-restoran sampai yang paling kuno di kampung-kampung bisa dicicipi di kabupaten ujung timur Pulau Jawa itu.

Salah satunya makanan bernama Geseng Bangsong, menu yang sudah langka berbahan dasar entok, yang memiliki rasa pedas dan asam. Dibilang langka karena makanan berbahan daging entok saja sudah jarang, ditambah bumbu penambah rasa asam yang unik, plus daun Wadung muda.

Di Dusun Wijenan Kidul, Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, tempat Geseng Bangsong lestari, Pohon Wadung banyak ditemukan tumbuh liar. Selain memberikan rasa asam, daun Wadung ternyata juga bermanfaat menghilangkan bau amis dari daging entok.

Kepada Merdeka Banyuwangi Kepala Desa Singolatren Apandi mengatakan, Geseng Bangsong telah menjadi makanan khas secara turun temurun di desanya.

Apandi menuturkan, sejak kecil saban menjelang hari besar agama Islam dia melihat bagaimana ibu-ibu kampung sibuk mencari entok dan bumbu-bumbu yang dibutuhkan. Kalau tidak menemukan daging entok, biasanya daging sapi dan ayam dijadikan penggantinya.

"Ini adalah makanan khas Dusun Wijenan Kidul, kalau dusun atau desa lain masak rasanya sudah beda. Saat hari besar Islam, tamu-tamu yang sudah tahu pasti tanyakan 'gesengnya sudah matang'," kata Apandi, Rabu (24/1).

Sayangnya belum ada warung yang bisa menyediakan menu khas itu setiap harinya. Tapi wisatawan bisa memesan kepada warga, biasanya dikenakan harga Rp 200 ribu per ekor.

"Bagi warga sekitar ini adalah makanan mewah karena harga bahannya yang lumayan tinggi. Harga satu ekor entok Rp 140 ribu, setelah dibersihkan daging yang dimasak berbobot sekitar 2 kilogram," kata Apandi lagi.

Desa Singolatren sendiri berjarak sekitar 18 kilometer dari pusat Kota Banyuwangi. Di sana juga berkembang usaha-usaha warga produsen terasi, kerajinan kulit ular dan kesenian campursari.

(mt/mt)

Laporan: Ahmad Suudi

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI