BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. LAPAK
profil

Banyak mantan TKI asal Banyuwangi sukses berbisnis kue Lebaran

"Saya mengajak teman-teman agar bisa belajar bagaimana membuat kue-kue kering ini. Tidak ada resep yang ditutupi," kata Ani.

Oleh: Mochammad Andriansyah 24 Juni 2016 14:28
Ilustrasi pembuatan kue Lebaran

Merdeka.com, Banyuwangi - Tidak selamanya kisah tentang buruh migran berisi tentang penderitaan. Tidak sedikit di antara mereka justru mengukir sukses setelah mampu mengelola hasil jerih payahnya di negeri orang untuk membuka usaha di negeri sendiri.

Di antara mereka yang memilih tak kembali lagi menjadi TKI atau TKW adalah pasangan Krisna Adi (43) dengan istrinya Ani Sugianti (28). Keduanya memilih membuka usaha sendiri di Banyuwangi.

Pasangan itu memang memiliki keinginan kuat untuk berdaya dan mandiri secara ekonomi sehingga tidak perlu tergoda untuk mencari nafkah di negeri rantau. Kini, Krisna-Ani memiliki usaha kue kering yang biasa ramai mendapatkan pesanan menjelang Lebaran. Pasangan yang pernah bekerja di Taiwan itu memanfaatkan akses ke sesama pekerja migran sebagai pangsa pasar.

Krisna bercerita dirinya menjadi TKI sejak 2006, sementara Ani sejak 2007 saat mereka berusia 18 tahun. Mereka berdua sama-sama pernah dua kali bekerja sebagai buruh migran di Taiwan.

Setelah sekian tahun menimba pengalaman bekerja di Taiwan keduanya bertekad untuk melepaskan status sebagai TKI dan TKW. Mereka kemudian membangun usaha kue kering di rumah tinggalnya di Dusun Jatisari, Desa Wringin Agung, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi.

"Saya bagian pemasaran, sedangkan untuk produksi ditangani oleh istri saya," kata Krisna, seperti dikutip dari Antara, hari ini.

Menurut dia, tantangan terberat yang dihadapi oleh para buruh migran justru ketika telah kembali ke Tanah Air. Jika tidak punya ide kreatif untuk membuka usaha maka sebagian besar akan memilih untuk pergi ke luar negeri lagi. Beruntunglah Krisna dan Ani mampu menjaga tekadnya untuk memiliki usaha sendiri.

Dia menuturkan, awal ide membuat usaha kue kering itu. Setelah pulang untuk kedua kalinya dari Taiwan, Krisna mengawali usaha penjemputan TKI di Indonesia, sementara Ani hanya sebagai ibu rumah tangga.

Saat itulah Ani yang di luar negeri biasa aktif bekerja, merasa bosan hanya berada di rumah. Untuk mengisi rasa bosan, dia kemudian mencoba membuat kue dengan belajar kepada ibu dan belajar dari internet.

Lazimnya sebuah usaha, apa yang dilakukan Ani juga tidak langsung berjalan mulus. Beberapa kali ia gagal dalam proses pembuatan kue kering tersebut. Melihat kegagalan istrinya, Krisna sempat meminta Ani berhenti bereksperimen. Namun, tekad sudah dibulatkan. Ani terus berupaya dan tidak mau menyerah pada kegagalan.

"Alhamdulillah, akhirnya rasanya sekarang sudah enak. Modal saya waktu itu yang hanya Rp 200 ribu, sekarang sudah berkembang menjadi usaha dengan omzet Rp 3 juta per bulan," ujar Ani.

Kue kering yang diproduksi oleh Krisna dan istri beraneka macam, seperti carang mas, kuping gajah, stik coklat, stik gurih, akar kelapa, pastel abon, dan aneka kacang-kacangan, seperti kacang telur, kacang bawang dan kacang tolo.

"Produksi kue kering kami memang khusus yang melalui proses goreng. Kalau untuk kue kering khas Lebaran seperti nastar, kastengel itu diproduksi oleh rekan kami sesama eks buruh migran yang tergabung dalam Keluarga Migran Indonesia (KAMI). Tapi untuk pemasarannya kami saling bersinergi, lewat KAMI juga," ujar Krisna yang pernah menjadi Ketua Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Taiwan ini.

Untuk pemasaran kue-kue yang diproduksinya, lanjut Krisna, dia memanfaatkan media sosial karena sebagian besar temannya sesama buruh migran masih banyak bekerja di luar negeri. Mereka inilah yang menjadi konsumen setia produksi kuenya.

"Teman-teman migran di Facebook kan jumlahnya ribuan dan dari berbagai negara. Awalnya saya juga hanya iseng saja mengunggah gambar kue-kue kering yang dibuat oleh istri saya. Ternyata sambutan teman-teman di luar dugaan, mereka ingin mencicipi kue produksi istri. Mungkin mereka kangen ingin merasakan makanan khas daerah, seperti carang mas yang paling banyak dipesan keluarga TKI. Ada juga keciput, kuping gajah dan lainnya," kata Krisna.

Ia menjelaskan jumlah pesanan kue kering selama Ramadan ini membludak. Total jumlah pesanan kue yang dia terima mencapai 4 kuintal selama dua minggu di bulan puasa ini. Saat ini bahkan Krisna mengaku sudah menutup pemesanan kue karena tenaga produksinya kurang.

"Kami sudah menutup untuk pemesanan kue. Sekarang tinggal mengejar produksi dari yang sudah indent dan melakukan pengiriman ke berbagai wilayah. Karena pemesan sudah transfer uang terlebih dahulu, jadi kami ingin produksi benar-benar terkejar untuk memenuhi pesanan mereka," ujar Krisna yang pernah bekerja di Taiwan selama 10 tahun ini.

Untuk tahun ini, Krisna mengatakan sudah mengirimkan produk sebanyak empat kali ke Taiwan. Pengiriman ini untuk memenuhi pesanan dari rekan-rekannya yang masih bekerja di negeri itu dan tidak bisa pulang pada Lebaran kali ini.

Ia mengakui bahwa mengirim ke luar negeri ongkosnya cukup mahal. Untuk harga kue satu kardus hanya Rp 500 ribu, tapi biaya pengirimannya bisa mencapai Rp 1 juta. Meskipun demikian, para pekerja migran di Taiwan tidak keberatan dengan total harga kue itu karena mereka memang rindu dengan makanan khas daerah.

Selain ke luar negeri, pengiriman juga dilakukan ke berbagai wilayah lain di Indonesia, seperti Malang, Trenggalek, Blitar, Madiun, Yogyakarta sampai Lampung. Pengiriman lokal ini juga datang dari rekan buruh migran yang mengirimkan kue lebaran untuk keluarganya.

Dikatakan Krisna, usaha kue kering yang dilakoni mereka juga sebagai upaya memberdayakan rekan-rekan eks buruh migran di sekitar wilayah tempat tinggalnya. Beberapa rekan mantan buruh migran juga dilibatkan dalam proses produksi kue-kue keringnya.

"Saya mengajak teman-teman agar bisa belajar bagaimana membuat kue-kue kering ini. Tidak ada resep yang ditutupi. Saya ingin mereka nantinya bisa membuka usaha yang sama seperti kami, dan untuk pemasaran bisa bersama-sama," kata Ani yang pernah bekerja selama 10 tahun di Taiwan sebagai pengasuh orang jompo ini.

Selain Ani Sugianti, Siti Umaiyah (43), mantan buruh migran asal Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, juga memproduksi kue kering, dengan spesialisasi kue khas Lebaran. Selama Ramadan ini dia mendapatkan pesanan enam kuintal kue kering yang akan dikirimkan ke berbagai wilayah di Indonesia.

Umi, panggilan akrabnya, juga mengajak tiga orang mantan buruh migran untuk bersama-sama memproduksi kue kering tersebut. "Kue-kue ini semuanya dipesan oleh teman-teman buruh migran yang masih di luar negeri untuk keluarganya yang ada di Indonesia," kata Umi.

(mt/ma)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI