BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. LAPAK
Lapak

Tentrem, penjual sepeda ontel kuno buatan Belanda

"Iku sepeda peninggalane Londo gae njajah kene biyen, (Itu sepeda peninggalan Belanda buat menjajah sini dahulu)," kata Tentrem.

Oleh: Mohammad Ulil Albab 10 April 2016 11:06
Tentrem, penjual sepeda ontel kuno di Banyuwangi

Merdeka.com, Banyuwangi - Gubuknya sederhana, konstruksi bangunan joglo beratap anyaman bambu. Di dalam rumah kuno tersebut, terdapat ratusan sepeda ontel bekas dan puluhan sepeda ontel kuno produksi Belanda.

Tentrem (60), berdagang sepeda ontel kuno di rumah bambu itu sejak 2006. Lokasinya di Kampung Songo, Dusun Kaliwungu, Tegaldlimo. Sebelumnya, Tentrem sudah jualan sepeda kuno, namun dengan cara 'keliling' di kampung-kampung. Itu dia lakoni sejak 1975.

Saat Merdeka Banyuwangi masuk ke rumah dagangnya, Bapak lima anak ini menunjukkan beberapa koleksi sepeda kunonya yang dijual. Ada dua ruangan di dalam rumah tersebut. Ruangan besar untuk sepeda bekas biasa produksi tahun 1990-an sampai 2000 ke atas. Sedangkan sisi ruang terpisah sebelah barat berisi sepeda ontel kuno.

"Iku sepeda peninggalane Londo gae njajah kene biyen, (Itu sepeda peninggalan Belanda buat menjajah sini dahulu)," kata Tentrem, Sabtu (9/4).

Merek sepeda ontel 'onta' kuno ini memiliki merek di bagian depan. Tepat di bawah lampu. Bentuknya, seperti lempengan logam yang ditempelkan. Tidak ada keterangan produksi tahun berapa. Di dalam lempengan logam tersebut hanya berisi keterangan merek dan gambar timbul, seperti singa, kuda dan pekerja.

Saat ditanya, Tentrem tidak bisa menjelaskan merek satu per satu dari sepeda ontel kunonya. "Ini ada merek Batavus, Locomotief, Master. Ini kan buatan Belanda, ini Belanda, Belanda. Yang ini bukan, tahun 1977 produk Indonesia," terang Tentrem sambil menunjuk satu per satu sepeda kunonya.

Setelah dilihat satu per satu merek sepeda ontel kuno milik Tentrem, Merdeka Banyuwangi menemukan beberapa merek. Ada merek Royal Super De Luxe berlogo Singa. Ada juga merek Locomotief Amsterdam, The Mister, Batavus berlogo seorang membawa senjata pentungandan IKPN Deluxe Turangga All Styl Cycle (logo gambar kuda). Semua merupakan produksi Belanda. Ada juga merek Norton, produksi India dan Phoenix.

"Mister ini kendaraannya juru rawat (perawat, pekerja rumah sakit) zaman Belanda. Jadi belum ada sepeda motor waktu itu," ujar Tentrem.

Tentrem biasa mendapatkan sepeda dari hasil keliling ke pasar dan dari desa ke desa. "Kalau ada yang menawari ya langsung saya datangi," ujarnya.

Soal harga, Tentrem tidak mematok berapa tiap unitnya. Semua tergantung pada pelanggan, berani memberi harga berapa. Segmentasi Tentrem lebih pada para pencinta sepeda kuno. "Soal harga enggak bisa ditentukan. Soalnya cuma mencari orang senang. Orang suka berapa pun mau. Paling duwur paling ya Rp 2 juta lebih sedikit. Kalau yang Gazelle Rp 25 juta," tuturnya.

Saat ini Tentrem tidak memiliki merek Gazelle yang terkenal paling mahal tersebut. "Gazelle itu buatan pertama. Seperti ratunya. Presidennya," tuturnya.

 

(mt/mua)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI