BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. PARIWISATA
Pariwisata

Kemenpar nilai Banyuwangi jadi contoh kemasan wisata daerah

"Target dari Presiden, tahun 2019 ada 20 juta wisatawan mancanegara datang dan pergerakan Wisnus (wisatawan nusantara) mencapai 275 juta".

Oleh: Endang Saputra 22 September 2018 17:59
Festival Tari Banyuwangi

Merdeka.com, Banyuwangi - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menghadirkan pemimpin sejumlah media nasional ke Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur sebagai upaya memperlihatkan contoh kemasan wisata daerah. Banyuwangi dipilih karena dianggap telah mampu mengemas potensi-potensi yang dimiliki hingga menjadi daerah wisata yang dikenal dan terus berkembang.

Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar Guntur Sakti menjelaskan pihaknya ingin berbagai daerah mencontoh bagaimana Banyuwangi mengemas potensi wisatanya. Menurutnya Banyuwangi daerah yang bisa jadi contoh, bagaimana pariwisata menjadi trigger menggerakkan ekonomi, menyejahterakan masyarakat, merubah kultur, dan mendapatkan penghasilan daerah yang besar.

Selain itu mereka ingin insan media melihat bagaimana Banyuwangi menggelar even yang masuk dalam calendar of event Kemenpar. Para pimpinan media yang datang akan menghadiri Festival Jazz Gunung Ijen dan Festival Kebo-keboan Alas Malang.

"Dua event ini saya manfaatkan untuk pressure media untuk memblow up bahwa Banyuwangi mempersiapkan dengan baik acara-acara yang ditetapkan oleh Kemenpar sebagai calendar of event Indonesia," kata Guntur kepada Merdeka Banyuwangi, Sabtu (22/9).

Dia berharap daerah-daerah lain mendengar, lalu memahami, dan mencontoh bagaimana Banyuwangi mengemas keindahan alam, kesenian dan kebudayaan masyarakat dan meningkatkan tourism competitiveness mereka. Daerah-daerah diminta mengembangkan pariwisata karena tahun 2019, sektor perjalanan dan pariwisata ditargetkan menjadi penyumbang devisa terbesar.

Ekspor minyak sawit menjadi sumber devisa terbesar negara sebesar hampir Rp 300 triliun pada tahun 2017. Sedangkan sektor pariwisata yang 4 tahun lalu di posisi ke-4, tahun 2017 berada di posisi ke-2.

"Pemerintah jadikan pariwisata sebagai core business negara kita. Penghasil devisa terbesar tahun 2019 insyaallah pariwisata. Dan Banyuwangi kita jadikan contoh bagaimana pariwisata jadi engine crown-nya perkembangan daerah," kata dia.

Dahulu Indonesia tidak masuk dalam indeks pariwisata Dunia. Namun tahun 2017 peringkat Wonderful Indonesia melompat 100 poin. Naik ke peringkat 47 mengalahkan Malaysia Truly Asia dan Amazing Thailand. Target tahun 2018 nanti pariwisata Indonesia berada di peringkat 30.

"Target dari Presiden, tahun 2019 ada 20 juta Wisman (wisatawan mancanegara) datang dan pergerakan Wisnus (wisatawan nusantara) mencapai 275 juta. Dan yang paling berat itu adalah meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia ke tingkat 30," ujar Guntur.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan pariwisata memang dijadikan trigger untuk konsolidasi instansi-instansi pemerintah daerah dan masyarakat. Kuncinya tidak mengandalkan event organizer (EO) dalam penyelenggaraan berbagai acara.

"Hampir semua acara festival yang kami gelar kami kerjakan sendiri bersama satuan kerja perangkat daerah dan masyarakat. Misalnya International Tour de Banyuwangi Ijen yang mendapatkan peringkat excelent dan zero accident, karena masyarakat memiliki kesadaran untuk mendukung acara dan memberikan jalan untuk peserta balapan sepeda," jelas Anas.

Dengan sinergi yang dibangun, tidak hanya acara wisata, akses masuk ke Bumi Blambangan juga meningkat seperti berkembangnya bandara yang terus mengalami penambahan rute, pesawat dan penumpang. Sinergi yang dibangun juga telah menelurkan program-program di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, misalnya dilihat dari banyaknya investor yang membuka hotel berbintang baru.

"Ego sektoral instansi berhasil kita kikis sehingga integritas bisa dibangun. Dengan itu berbagai program berhasil kita kerjakan," katanya.

 

(es)

Laporan: Ahmad Suudi

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI