BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. PROFIL
Seni dan Budaya

Adi Purwadi, penari kuntulan laki-laki pertama di Desa kemiren

Melalui kelompok seni kuntulan Pelangi Sutrol bersama teman-temannya menghabiskan malam di panggung kesenian.

Oleh: Mohammad Ulil Albab 28 April 2016 15:04
Adi Purwadi

Merdeka.com, Banyuwangi - Saat ini penari kesenian kuntulan lebih dikenal dibawakan oleh perempuan. Padahal pada tahun 1970-an penari kuntulan biasanya dibawakan oleh Laki-laki. Hal ini diceritakan oleh Adi Purwadi (54) mantan penari laki-laki kuntulan generasi pertama di Desa Kemiren.

Sejak umur 17 tahun, tepatnya tahun 1979, ia sudah menjadi penari kuntulan di desanya. “Kuntulan masuk Kemiren itu tahun 1978-1979. Saya penari laki-laki pertama di Kemiren. Jadi saya waktu itu sore harinya main voly, malamnya main kuntulan,” kenangnya.

Sejak usia muda, pria yang akrab dipanggil Pur ini aktif dibeberapa kegiatan. Dia tergabung dalam organisasi olahraga voly Tunas Muda dan organisasi kuntulan Pelangi Sutro. Dari situ Pur mulai tertarik dengan kesenian. “Waktu itu penarinya 6 orang termasuk saya. Saya berhenti menjadi penari tahun 1985,” jelasnya.

Pur berhenti menjadi penari kuntulan tidak lain karena sepinya tanggapan saat acara hajatan atau nikahan. Kuntulan secara tidak langsung bersaing dengan kesenian lain seperti gandrung dan janger.

“Meski jenis berbeda, seperti kuntulan, gandrung, janger. Satu sama lain dari kesenian ini saling berkompetisi untuk merebut hati pasar. Gandrung sama kuntulan itu harga tanggapan masih terjangkau. Kalau janger relatif mahal. Ini bersaing tanpa disadari oleh pelaku seninya. Tahun 80-an, kuntulan kalah dengan gandrung,” jelasnya.

Adi Purwadi
© 2016 merdeka.com/Mohammad Ulil Albab

Akibat perubahan selera pasar, sekitar tahun 1985 penari kuntulan digantikan oleh perempuan. Begitu juga dengan penari gandrung, kesenian asli Banyuwangi ini mulanya juga dibawakan oleh laki-laki.

“Tahun 84-85 mulai ada turnamen kuntulan akhirnya masuklah penari perempuan. Akhirnya penari cowoknya semakin tersisih, itu tidak luput dari kebutuhan pasar. Gandrung dulu itu juga laki-laki sekarang jadi perempuan,” kata Pur.

Untuk menarik selera pasar, alat musik kuntulan coba diperbaharui. Alat musik gendang yang biasa digunakan dalam gandrung diadopsi oleh kesenian kuntulan. "Gendangnya diadopsi sama kuntulan. Jidor, gong, tempal dua, onteng (terbangan). Akhirnya kuntulan terdongkrak (laris tanggapan), gandrungnya tenggelam,” jelasnya.
 
Begitu sebaliknya, saat tanggapan kesenian gandrung mulai sepi ada upaya memberi tawaran baru. Alat musik Jidor yang biasa digunakan kesenian kuntulan coba diadopsi oleh gandrung. “Akhirnya gandrung naik. Tapi ada yang pakai dan tidak kalau sekarang. Biasanya Cuma pakai gendang, ketuk, kluncing, gong,” tuturnya.

Melalui kelompok seni kuntulan Pelangi Sutrol, Pur dan teman-temannya seringkali menghabiskan malam di panggung kesenian. Saat ada tanggapan, dia biasa menari dari malam sampai menjelang subuh. Kesenian Kuntulan, kata Pur sangat lekat dengan nilai-nilai religi muslim. Saat menjadi penari kuntulan, Pur tidak menganggapnya sebagai profesi. Melainkan sebagai panggung hiburan.

“Pakainnya dulu serba putih. Kesenian religi identik dengan putih, juga pakai songkok. Sekarang sudah warna-wani, juga ada pernak pernik,” ujar dia.

(ff/mua)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI