BANYUWANGI
  1. BANYUWANGI
  2. PROFIL
Seni dan Budaya

Kisah Supinah, penari Gandrung pernah tampil di Korut sampai AS

Pengalamannya luar biasa. Sebelum memutuskan menjadi penari, ada cerita menarik di balik kisah Supinah.

Oleh: Mohammad Ulil Albab 19 Maret 2016 13:23

Merdeka.com, Banyuwangi - Supinah, penari Gandrung senior ini mulanya tidak menyangka punya kesempatan menari di beberapa negara seperti Singapura, Korea Utara, Cina, dan Amerika Serikat. Supinah menjadi penari Gandrung sejak tahun 1979, berawal dari kebutuhan ekonomi yang menghimpit, dan takut dikawinkan di usia yang masih 14 tahun.

“Awalnya saya tidak mau. Maunya saya itu karena takut, kalau gak mau jadi gandrung akan dikawinkan. Jadinya saya lari ke guru di Bakungan, Gandrung Akidah. Almarhum Akidah,” kenangnya, saat ditemui Merdeka Banyuwangi, Jumat (19/3).

Saat belajar menari Gandrung, hanya dalam waktu sepekan, Supinah sudah dinilai memiliki kemampuan menari yang bagus. Supinah, kemudian langsung diajak tampil di sebuah undangan acara perkawinan. “Belum sampai sepuluh hari, saya sudah diajak nari yang semalam suntuk. Tanggapan, mulai jam 9 malam sampai 5 Pagi,” kenangnya.

Gandrung di Banyuwangi sudah ada dari turun temurun. Bahkan pada masa pendudukan Kolonial Belanda, Gandrung menjadi media penyampai pesan dan penyalur logistik bagi para gerilyawan, dalam perang Puputan Bayu pada 1771. Penari Gandrung mulanya adalah laki-laki, baru tahun 1895 ada generasi Gandrung perempuan pertama, yakni Semi. Regenerasi Gandrung, diwariskan secara turun temurun.

Baru pada tahun 1970-an, menjadi seorang Gandrung tidak harus orang yang memiliki garis keturunan penari. Semua yang bisa menari bisa menjadi penari Gandrung. Salah satunya, Supinah. Dia belajar dari keturunan penari Gandrung. “Gandrung semi Cungking itu yang pertama, dia punya cucu Gandrung juga. Mbak Temu itu terus kemudian saya,” jelasnya.   

“Gandrung itu tidak ada kakak, pokoknya dia punya bakat, suka nari ya jadi Gandrung, beda dengan Seblang,” imbuhnya. Meski Gandrung lebih kepada tarian pertunjukan, Supinah memahami bahwa Gandrung tetap memiliki nilai filosifis, yakni sebagai simbol kesuburan dari Dewi Sri.

Penari yang lahir pada 1965 ini mengaku senang menjadi penari Gandrung ketika ada Pemaju (pengiring tari dari penonton, pihak laki-laki). Hal itu tidak lepas dari simbol kesuburan laki-laki dan perempuan. “Senengnya jadi gandrung itu, kalau ada orang mabuk. Jadi banyak saweran. Gak senengnya sama orang mabuk itu ngerusak,” ujarnya.

Menurutnya, para Pemaju seringkali berebut menari, apalagi kalau para Pemaju sama-sama suka dengan penari Gandrung, maka akan bersaing memberi uang yang di taruh di bagian (omprok) mahkota penari.  

“Waktu saya, kayaknya panas panasan pakai uang. Tamu yang ini suka gandrung, lainnya juga. Jadi saingan mengeluarkan uang,” jelas perempuan yang saat ini punya sanggar tari “Sayu Sarinah” ini.

Supinah pernah menari menghadiri undangan kawinan dan sunatan selama 3 bulan berturut turut. Menariknya, undangan menari gandrung sangat ramai saat musim Haji. “Saya pernah undangan nonstop sampai 3 bulan. Biasanya ramenya waktu bulan haji. Itu biasanya sampai satu bulan penuh. Tapi kalau malam Jumat, Gandrung dikurung, capek soalnya,” jelasnya.

Selama menari, Supinah tidak diperbolehkan buang air kecil. Dan itu berlaku bagi semua penari Gandrung.  “Soalnya kalau kita kan, semalam suntuk. Jadi gak kencing sama sekali. Jadi gak ada yang namanya gandrung itu kebelakang, kencing dahulu,” imbuhnya.

Merasa bisa membantu kebutuhan ekonomi Ibu dan Bapaknya, Supinah meneruskan profesinya menjadi penari Gandrung sampai 1987. Dia berhenti menjadi penari Gandrung di acara-acara pertunjukan desa ketika Suaminya, Sukidi, bekerja di bawah Kementrian Penerangan, di bidang musik. Namun Supinah, masih terus aktif dibidang tarik suara, dengan menjadi sinden.

“Kadang kadang saja narinya. Kalau ada acara di Jakarta, di gedung kesenian. Dan musiknya bukan dari Banyuwangi saja, jadi dipadu dengan musik Daerah Aceh, Ambon, tariannya Gandrung,” tuturnya.

Setelah berhenti menjadi penari Gandrung pertunjukan di desa-desa, Supinah justru bisa tampil di beberapa negara dan pernah menjadi juara dua dalam lomba tari di Korea Utara.  

“Tahun 99 tampil di Amerika. Terus 2003 di Singapura, di Pyong yang, Korea utara, dan Beijing. Sini juara dua, saat di Korea Utara. Hanya di Korea Utara, yang lainnya nari saja. Yang berangkat sembilan orang, penari dan pemusik semua,” pungkasnya.

(mh/mua)

Join Merdeka.com
Komentar

KAMU PERLU TAHU

POPULER DI BANYUWANGI

BERITA BANYUWANGI